12 Tahun INSISTS [2]

Catatan Akhir pekan dari Adian Husaini Pegiat Kontra Liberal

Sambungan halaman PERTAMA


Oleh: Dr. Adian Husaini


SUATU saat, datanglah Pak Edi Setiawan, sekarang Bendahara Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) ke Kuala Lumpur. Kami ajak beliau berkeliling kampus ISTAC, khususnya melihat-melihat perpustakaannya. ISTAC dirancang oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas untuk mencetak sarjana-sarjana Muslim yang memahami dengan baik tetapi tidak silau dengan peradaban Barat. Bahkan, mereka diharapkan mampu menjawab tantangan keilmuan yang ditimbulkan oleh peradaban Barat. Untuk itu, al-Attas membangun kampus yang megah, indah, dengan perpustakaan kelas dunia. Bagi al-Attas, tantangan terberat yang dihadapi umat Islam – bahkan umat manusia – saat ini adalah hegemoni peradaban Barat, khususnya dalam bidang keilmuan. Karena itulah, sejak puluhan tahun al-Attas menjelaskan bahaya peradaban sekular Barat dan bagaimana umat Islam harus menghadapinya secara intelektual.


Setelah melihat-lihat ISTAC dan berdiskusi intensif dengan teman-teman INSISTS, Pak Edi mendesak agar teman-teman INSISTS segera melakukan langkah yang nyata. Sesampainya di Jakarta, Pak Edi kirim SMS, agar segera dibuatkan langkah nyata untuk melanjutkan misi INSISTS di Indonesia. ”Jika nunggu kalian pulang ke Indonesia untuk berbuat, sudah jadi apa Indonesia?” kata Pak Edi ketika itu. Walhasil, diputuskanlah untuk menerbitkan majalah ISLAMIA, sebuah jurnal ilmiah dalam bidang pemikiran Islam, yang diterbitkan dalam format majalah, untuk memudahkan pemasaran. Edisi pertama ISLAMIA langsung menggebrak dunia pemikiran Islam di Indonesia dengan mengangkat tema ”Tafsir versus Hermeneutika”. Melalui majalah ini, INSISTS mengeluarkan sikapnya yang jelas dan tegas: menolak penggunaan metode hermeneutika untuk penafsiran al-Quran.


Seperti diketahui, hermeneutika kini sudah menjadi mata kuliah wajib di sejumlah perguruan tinggi Islam di Indonesia. Bahkan, ada yang menjadikan hermeneutika sebagai ’mazhab’ resmi kampusnya. Dalam berbagai workshop, INSISTS kadang kala harus terlibat dalam perdebatan hangat dengan dosen-dosen hermeneutika. Wabah hermeneutika kini semakin meluas. Belum lama ini, seorang mahasiswa Pasca Sarjana di sebuah STAIN di Jawa Timur mengirimkan pesan ke saya, bahwa ia sangat resah dengan pengajaran hermeneutika yang secara halus melecehkan al-Quran dan bersyukur sempat membaca buku saya, Hermenutika dan Tafsir al-Quran. InsyaAllah, secara khusus, INSISTS akan menerbitkan buku tentang Hermeneutika ini.


Sejak didirikan, INSISTS telah melaksanakan ratusan kali seminar, workshop, pelatihan, dalam bidang pemikiran Islam, untuk para dosen, mahasiswa, pimpinan pesantren, kalangan profesional, dan sebagainya. Ribuan orang telah mengikuti workshop-workshop INSISTS di berbagai belahan dunia (Indonesia, Malaysia, Mesir, Saudi, Inggris, dan lain-lain). Kini, INSISTS masih menjalin kerjasama dengan sejumlah universitas untuk program pelatihan pemikiran Islam bagi para dosen dan mahasiswa. Para peneliti INSISTS juga mengembangkan mata kuliah dan kursus-kursus Islamic Worldview di berbagai universitas.


Secara personal, para peneliti INSISTS terus berkiprah dalam dunia pemikiran, baik melalui penulisan buku dan artikel, aktivitas ceramah, mengajar, diskusi, seminar, dan sebagainya. Di bidang penulisan, sejumlah buku karya peneliti INSISTS juga telah meraih prestasi penting. Buku Wajah Peradaban Barat dan Tren Pluralisme Agama mendapat penghargaan sebagai buku terbaik dalam Islamic Book Fair tahun 2006 dan 2007. Adnin Armas telah menulis sebuah buku yang sangat penting dalam studi al-Quran, Metode Bibel dalam Studi al-Quran: Kajian Kritis. Henri Shalahuddin, peneliti INSISTS yang lain, juga secara khusus memberikan kritik terhadap pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid, melalui bukunya, ”al-Quran Dihujat”. Kini, sudah puluhan buku yang diterbitkan oleh INSISTS.


Sejak 2011, INSISTS juga telah menjalin kerjasama dengan Harian Republika untuk penerbitan Jurnal Pemikiran Islam, Islamia-Republika. Jurnal 2-4 halaman ini terbit pada Hari Kamis, pekan ketiga, setiap bulan. Melalui jurnal ini, gagasan Islamisasi ilmu bisa lebih kuat bergaung di Indonesia.


Alhamdulillah, di tengah segala kekurangan dan keterbatasan, INSISTS telah menerima begitu banyak sambutan yang sangat patut disyukuri. Banyak mahasiswa yang merasa tercerahkan dan bahkan ada yang mengaku ”kembali ke jalan yang benar” setelah membaca ISLAMIA dan buku-buku para peneliti INSISTS. Meskipun sangat tertatih-tatih terbitnya, ISLAMIA telah menjadi satu bacaan alternatif dalam bidang pemikiran Islam di Indonesia.


Setelah 12 tahun mengarungi belantara percaturan pemikiran Islam di Indonesia, INSISTS menyadari, bahwa tantangan berat yang dihadapi umat Islam Indonesia saat ini, bukan hanya pada level eceran (asongan), tetapi juga liberalisasi pemikiran secara sistematis melalui lembaga-lembaga pendidikan, khususnya lembaga pendidikan tinggi. Secara borongan, kampus-kampus dan universitas mencetak sarjana-sarjana S1, S2, dan S3, yang berpikiran dan berperilaku liberal. Seringkali, tanpa disadari.


Apalagi, dalam bidang studi Islam, cengkeraman metode orientalis tampak makin menguat. Ilmu dipisahkan dari keimanan, amal, dan akhlak. Kampus tidak menjadikan aspek iman dan akhlak sebagai standar utama kelulusan. Metode semacam ini sangat berbeda dengan metodologi Islam dalam pembelajaran. Bahkan, dengan alasan objektif ilmiah, ada sejumlah skripsi, tesis, disertasi doktor yang diluluskan, meskipun jelas-jelas salah dan bahkan beberapa diantaranya secara terang-terangan menghujat al-Quran. Inilah proses liberalisasi atau westernisasi ilmu, yang ironisnya, justru terjadi secara massif dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan (ulumuddin). Proses ini telah terjadi selama puluhan tahun.


Pada saat yang sama, kita masih menyaksikan, di banyak universitas yang membawa label Islam, program studi ilmu-ilmu keislaman, masih kalah bergengsi dibandingkan program studi ilmu-ilmu lainnya. Anak-anak pintar jarang yang mau terjun ke bidang studi Islam. Mereka lebih memilih bidang kedokteran, teknik, komputer, ekonomi, hukum, dan sebagainya. Dampak dari proses ini sangat fatal. Banyak yang terjun ke bidang-bidang keagamaan adalah yang kapasitas otaknya pas-pasan. Perasaan minder sering menjangkiti mereka. Bisa dipahami, jika kemudian muncul fenomena ”cultural schock” (gegar budaya) saat berhadapan dengan peradaban Barat. Bisa dipahami jika banyak ilmuwan studi Islam yang kemudian menjadi pemuja Barat. Bahkan, bisa ditemukan sejumlah tulisan mereka yang lebih brutal dalam menyerang Islam dibanding kaum orientalis sendiri.


Melihat fenomena ini, INSISTS mengajak berbagai kalangan untuk mulai berpikir serius tentang masa depan studi dan pemikiran Islam di Indonesia. Inilah jantung persoalan umat Islam di Indonesia, yakni problem keilmuan Islam itu sendiri. Jika ilmu-ilmu agama rusak, maka tidak mungkin melakukan proses Islamisasi terhadap ilmu-ilmu lain. Barat sepertinya tahu benar akan nilai strategis studi Islam, sehingga mereka bersedia mengucurkan dana yang sangat besar untuk memberi beasiswa kepada ribuan sarjana Muslim.

Menghadapi fenomena dan tantangan semacam ini, untuk mencegah semakin banyaknya ulama, tokoh, dan cendekiawan yang tergelincir pemikirannya, harusnya kaum Muslim mampu membuat rencana penyelamatan pemikiran Islam secara serius. Studi dan pemikiran Islam tidak bisa diserahkan begitu saja ke dalam pelukan Barat dan kroninya. Kaum Muslim, khususnya orang-orang yang pintar dan benar, harus berani terjun ke dalam arena perang pemikiran ini.


Problemnya, saat ini, nyaris belum ada dosen-dosen di kampus-kampus umum yang menguasai bidang pemikiran Islam dengan baik. Rata-rata dosen-dosen bidang studi umum yang aktif dalam kegiatan Islam tidak menguasai studi Islam secara akademis. Untuk itulah, INSISTS telah melakukan rintisan pengembangan studi Islam di sejumlah kampus dalam bentuk program Pasca Sarjana bidang Pemikiran Islam. Setiap sarjana muslim yang pintar wajib menguasai ilmu-ilmu yang fardhu ain, disamping ilmu fardhu kifayah sesuai dengan bidang keilmuannya.


Alhamdulillah, bekerjasama dengan berbagai kampus dan lembaga dakwah, sejak tahun 2007, para aktivis INSISTS-network telah melahirkan puluhan doktor dan master yang memiliki kepakaran dalam pemikiran Islam dan Islamisasi Sains. Sejumlah doktor yang berlatar belakang pendidikan sains, telah menjadi pakar dalam Islamisasi Ilmu Kontemporer. Bahkan, di UIKA Bogor, telah dibuka Magister Pendidikan Islam, dengan konsentrasi Pendidikan Sains Islam.


Tetapi, di atas semua itu, tradisi ilmu yang harus dibangun dalam Islam, haruslah yang menghasilkan ilmuwan-ilmuwan yang zuhud, yang tidak ”hubbud-dunya”, dan mencintai jihad fi-sabilillah bil-ilmi. Dan itu, kata Imam al-Ghazali, harus dibangun di atas landasan niat yang kokoh dalam menuntut ilu, yakni semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jika sejak awal mencari ilmu diniatkan untuk mencari dunia, kata al-Ghazali, itu adalah awal kehancuran agama.


Untuk itu INSISTS sedang berjuang mewujudkan sebuah kampus Islam yang mengaplikasikan konsep keilmuan Islam secara total. Kampus ini harus menjadi pusat studi dan pemikiran Islam internasional, dengan perpustakaan dan dosen-dosen bertaraf internasional. Insyaallah, di sini akan berdatangan para dosen dan mahasiswa dari berbagai negeri Islam. Ketika itu sudah terwujud, kita patut berucap: ”Tidak perlu lagi mengirim sarjana Muslim untuk belajar Islam pada kaum Yahudi dan Kristen. Cukup belajar di INSISTS!”


InsyaAllah. Itu bukan mimpi! Sabda Rasulullah saw: ”Ihrish ’alaa maa yanfauka, wa laa ta’jizan, wasta’in billah.” (Bersemangatlah kamu meraih apa yang bermanfaat bagimu, dan jangan sekali-kali merasa lemah, dan mintalah pertolongan kepada Allah). (HR Muslim). Dan kami yakin, kami tidak sendiri. Banyak umat Islam yang memiliki cita-cita yang sama.*/Makassar, 18 januari 2015, @husainiadian, fb Adian Husaini Dachli


Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com






Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Thursday, January 22, 2015

Post a Comment
close