Korban Rentenir, Kartu ATM Disita dan Ginjal Nyaris Dijual


Gerakan Anti Riba dan Rentenir (GARR) melakukan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya riba dan rentenir.




Hidayatullah.com–Korban jeratan rentenir sepertinya tidak akan pernah habis. Sebut saja namanya Arman. Lelaki paruh baya berprofesi sebagai tenaga sekuriti ini bertahun-tahun terjerat praktek rentenir.


Awal mula Arman meminjam uang Rp 4 juta untuk keperluan keluarga kepada rentenir. Setiap bulan Arman harus mencicil pembayaran hutang dengan bunga 40 persen.


“Gaji saya 2.500.000 per bulan dipotong 40 persen. Itu pun hanya bunganya saja. Cicilan pokoknya belum dihitung,” terang Arman belum lama ini.


Warga Jakarta Timur ini pun tidak mampu mencicil utang kepada lintah darat. Karena menunggak pembayar cicilan pokok maupun bunga selama berbulan-bulan, akhirnya kartu ATM Arman yang biasa digunakan untuk menerima gaji disita oleh rentenir.


“Sudah hampir tiga bulan saya tidak bisa menerima gaji saya, karena langsung di ambil oleh rentenir,” ujar Arman.


Bahkan, untuk melunasi bunga pinjaman yang semakin membesar, istri Arman sempat berfikir ingin menjual ginjal.


“Saya dan istri tobat dari pinjam uang ke rentenir, kasihan istri saya sampai mau nawarin ginjal segala,” tutur Arman dengan mata berkaca-kaca.


Kini kasus Arman ini tengah ditangani oleh Gerakan Anti Riba dan Rentenir (GARR). GARR merupakan lembaga yang konsen memberi advokasi terhadap korban rentenir.


Selain itu lembaga yang berpusat di Bekasi, Jawa Barat ini juga melakukan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya riba dan rentenir.*






Like Fanpage kami :

Saturday, January 31, 2015

Post a Comment
close