Mencetak Juara Olimpiade dari Uang Keropak


Saya mengenal lelaki sederhana ini pada pertengahan tahun 2014. Ia “adik kelas” saya di Institut Pertanian Bogor (IPB), saat menempuh S1 maupun S2. Lelaki ini pencetak ratusan juara olimpiade matematika di level internasional. Uniknya, setiap anak yang belajar di Klinik Pendidikan MIPA (KPM) miliknya di Bogor tidak dikenakan tarif. Mereka membayar se-ikhlasnya. Coba tebak siapa orangnya?


Saya yakin sebagian besar dari Anda tidak mengenal lelaki ini. Saya tambah lagi informasinya, karena prestasi yang diraihnya ia pernah mendapat penghargaan Satya Lencana Wira Karya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2007. Ia juga peraih Tokoh Perubahan Republika pada tahun 2013. Masih belum tahu?


Dia adalah R. Ridwan Hasan Saputra, lahir di Bogor 16 April 1975. Walau ia baru menamatkan S-2 kami memanggilnya Profesor Ridwan. Kemampuannya menyederhanakan penjelasan matematika dengan menggunakan pendekatan Matematika Nalaria Realistik alias mengangkat persoalan sehari-hari dalam pembelajaran inilah yang membuat kami memanggilnya profesor.


ridwanhs

Cover Majalah detik saat wawancara khusus dengan R. Ridwan Hasan Saputra,



Walau prestasinya segudang namun banyak orang yang belum mengenalnya. Ia memang tidak menyukai pencitraan dan publisitas. Hidupnya fokus melahirkan para juara olimpiade yang beriman dan berilmu pengetahuan. Di kartu namanya tertulis “Karyawan Allah” ia bekerja di BUMA bukan BUMN? Apa itu BUMA? Ternyata singkatan dari Badan Usaha Milik Allah.


Walau siswa membayar seikhlasnya melalui keropak yang disiapkan tetapi para guru yang mengajar di KPM dibayar dengan tarif normal dan para karyawan mendapat gaji yang wajar. Lelaki beristri Anis kurniasih ini sangat yakin bila ia berjuang ikhlas karena Allah maka rezeki akan datang dari arah yang tidak diduga-duga.


Melalui KPM yang didirikan pada 16 April 2001 ia ingin menyebarkan virus bahwa matematika itu mudah. Memang, matematika yang dianggap momok menakutkan oleh sebagian siswa sekolah, menjadi sangat menyenangkan ditangan sang profesor. Kuncinya sang guru harus mencintai matematika dan mengajarkan tulus ikhlas untuk mendekatkan diri kepada-Nya.


Kepada siswanya yang beragama Islam, ia mewajibkan shalat dan ngaji. Ia juga selalu mengajarkan solusi kehidupan atas problem-problem kehidupan dengan pendekatan matematika. Ia tak pernah khawatir dengan metodenya. Ia sangat yakin bahwa dari uang keropak itu akan lahir ribuan juara olimpiade matematika.


Salam SuksesMulia!


Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook





Like Fanpage kami :

Tuesday, January 27, 2015

Post a Comment
close