Perayaan Kasih Sayang Dalam Valentine’s Day Itu Tidak Dibenarkan Dalam Islam


Generasi mindset yaitu generasi yang pikiran dan bawah alam sadarnya sudah disetir oleh media besar



Perayaan Kasih Sayang Dalam Valentine’s Day Itu Tidak Dibenarkan Dalam Islam

fb


Ketua MIUMIM Malang, Faris Khoirul Anam




Hidayatullah.com- Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muslim Indonesia (MIUMI) Malang, Faris Khoirul Anam mengatakan bahwa mengkorelasikan serta mengimplementasikan wujud cinta dan kasih sayang kepada teman, sahabat, istri atau suami dengan valentine itu tidak dibenarkan dalam ajaran agama Islam.


“Mengapa harus merayakan kasih sayang pada hari valentine, meskipun misalnya oleh pasangan yang sudah menikah? Umat Islam tidak perlu mengkorelasikan hal-hal yang seperti itu,” kata Faris kepada hidayatullah.com menanggapi kasus munculnya papan reklame milik Batu Wonderland Hotel yang meresahkan umat Islam, Selasa (27/01/2015). [baca: MIUMI Malang: Papan Reklame Batu Wonderland Hotel Strategi Non-Islam Merusak Generasi Muslim].


Menurut Faris konsep cinta dan kasih sayang dalam agama Islam itu banyak dan bisa dilakukan kapan saja sesuai dengan syari’at. Misalnya, dengan tahaadduu tahaabbuu (saling memberi hadiah supaya kamu saling mencintai.red) yang merupakan perintah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tanpa mengait-ngaitkan ataupun harus menunggu datangnya Valentine’s Day.


“Lebih penting lagi umat Islam mempunyai ajaran-ajaran dahsyat dari pada sekedar simbolisasi,” tegas pengurus Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur.


Faris menuturkan jika Rasulullah memiliki sifat penyayang yang luar biasa, baik kepada istri, sahabat, anak kecil, bahkan kepada musuh sekalipun. Selain itu, lanjutnya, sifat kasih sayang Rasulullah juga “lintas makhluk”, meliputi binatang maupun benda mati dan banyak riwayat yang mengisahkan hal itu.


“Nah, kita nggak kenal siapa Valentino yang ada dalam perayaan Valentine’s Day. Hanya karena bombardir informasi dan gegap gempita personalisasi Valentino, masyarakat kita ikut-ikutan. Itu problem terbesar masyarakat sekarang yang tidak mengetahui dasar tentang apa yang mereka lakukan,” ujar Faris.


Sementara itu, Faris menyampaikan jika dirinya memiliki kenalan baik seorang kepala KUA di salah satu kecamatan di kota Malang. Kepala KUA tersebut, lanjutnya, pernah menceritakan suatu fenomena yang membuat hati miris.


“Suatu hari seorang Modin bertamu dan berkata kepada saya, ‘Pak, coba Anda perhatikan setiap Maret-April pasti ada yang mengajukan dispensasi nikah ke Pengadilan Agama, sebab yang perempuan itu hamil duluan. Ini akibat bapak ibunya bersuka cita atau tak mau tahu di jalan-jalan saat malam tahun baru. Sementara anak gadisnya dititipkan ke pacar atau kekasihnya. Pola yang sama didapati pada bulan April-Mei. Kalau yang ini hasil ‘produksi’ Valentine’s Day pada bulan Februari,” kata Faris mengutip cerita Ketua KUA tersebut.


Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya itu mengatakan ada tiga generasi yang menjadi fenomena sekarang ini. Pertama, generasi mindset yaitu generasi yang pikiran dan bawah alam sadarnya sudah disetir oleh media besar. Kedua, generasi mind less yaitu generasi yang tidak punya pikiran dan ini jauh lebih parah. Ketiga, generasi yang mind power yaitu generasi yang melakukan sesuatu dengan dasar pengetahuan ilmu serta menyadari bahwa semua perbuatan ada konsekuensi dan tanggung jawabnya, baik di dunia maupun akhirat.


“Nah, mudah-mudahan generasi-generasi Islam itu dan seharusnya menjadi generasi yang mind power,” tutup Faris.*






Like Fanpage kami :

Tuesday, January 27, 2015

Post a Comment
close