“Doa untuk Koruptor”


Korupsi merupakan dehumanisasi yang nyata merusak peradaban. Kini korupsi menjadi tragedi kemanusiaan mahadahsyat sistematis dan masif di bangsa ini




Oleh: Musfi Yendra


PENJARA tidak lagi menjadi tempat petakut bagi koruptor. Penjara khusus yang disiapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk koruptor sudah penuh. Sehingga tersangka kasus korupsi baru terpaksa dititip di penjara lain. Di daerah-daerah tersangka kasus korupsi tak punya penjara khusus. Mereka digabung dengan narapidana lain.


Bagi koruptor masuk penjara seolah hanya tempat transit dan semedi sementara. Di antara mereka masih bisa menjalankan kekuasaan di “hotel prodeo” itu. Ada pemenang Pilkada berstatus tersangka korupsi dilantik di dalam penjara. Mendapat perlakukan khusus dengan fasilitas mewah. Bisa keluar pada waktu tertentu.


Persidangan-persidangan yang digelar di pengadilan seperti dagelan saja bagi mereka. Mengumbar kebohongan, mengaku tidak tahu dan berlagak tak bersalah. Jika disorot kamera televisi, melambai-lambai tangan kotornya tanpa dosa. Bak artis yang sedang dinanti banyak penggemar. Padahal rakyat mencibir kepadanya.


Oknum hakim, jaksa dan polisi pun bisa mereka beli. Jika si koruptor bagian penting dari pemegang kekuasaan, penegak hukum dia intervensi. Jika tak berhasil ditekan, disanksi pindah atau dicopot jabatan. Nyawapun taruhannya.


Bagi pelaku korupsi, pasal-pasal atau ayat-ayat ancaman hukuman korupsi dalam undang-undang sepertinya dianggap sampah. Semakin banyak aturan dibuat, pelaku korupsi terus bertambah. Koruptor baru muncul, termasuk mereka yang terlibat membuat aturan itu.


KPK sebagai lembaga punggawa pemberantas korupsi juga ingin mereka bubarkan. Anggota KPK dan penyidiknya turut diseret ke berbagai perkara. Segala macam cara dilakukan sebagai bentuk pelemahan.


Jangankan pasal-pasal dan ayat-ayat dalam undang-undang, ancaman neraka dan azab Tuhan bagi pelaku korupsi di dalam kitab suci saja dilangkahinya. Pengadaan kitab suci Al-Qur’an pun bisa dikorupsi. Haji sebagai rukun Islam, uang jamaah juga diembatnya.


Tak satu agamapun yang membolehkan korupsi. Sudah pasti tidak satu pun ayat-ayat kitab suci membenarkan perbuatan haram itu. Tapi di depertemen agama tak luput dari praktik korupsi.


Teriakan, makian dan hujatan dari rakyat tak didengar lagi. Telinga disumbat sampai pekak. Mata dipicing tak melihat demonstrasi pegiat anti korupsi. Hati koruptor entah terbuat dari apa. Mental mereka kuat bak baja berkarat. Korupsi berawal dari personal oknum, kian berkembang ibarat jamur tumbuh setelah hujan. Ada pula istilah korupsi berjamaah.


Korupsi merupakan dehumanisasi yang nyata merusak peradaban. Kini korupsi menjadi tragedi kemanusiaan mahadahsyat sistematis dan masif di bangsa ini. Bangsa kita betah miskin di antaranya ulah koruptor.


Transparancy International merilis Corruption Perseptions Index (CPI) Desember 2014, menyebutkan indeks korupsi Indonesia naik dari 114 ke 107 dari 174 negara yang diperiksa. Peringkat 107 ini sama dengan Argentina dan Djibouti. Indonesia masih jauh di bawah negara serumpun seperti Filipina, Thailand, Malaysia dan Singapura. Dari 28 negara di kawasan Asia Pasifik, sebagian besarnya mendapat peringkat yang buruk. 18 negara mendapat skor di bawah 40 dari seluruh 100 skor. 0 berarti terkorup dan 100 berarti paling bersih. Indonesia mendapat skor 34, naik dari skor 32 tahun 2013.


Jika penjara tak lagi mempan, undang-undang dianggap sampah, ayat-ayat Tuhan dilangkahi, hujatan dan makian tak didengar, penerapan hukuman mati tak kunjung direalisasi, apalagi cara untuk menghukumi koruptor?


Berdoa untuk koruptor adalah cara lain yang bisa dilakukan. Berapa banyak rakyat miskin terzolimi oleh koruptor. Uang negara yang seharusnya dialokasikan untuk program kesejahteraan rakyat disunatnya. Rakyat disuruh taat bayar pajak, tapi pungutan negara itu tak sepenuhnya digunakan untuk pembangunan.


Doa orang terzolomi dimakbulkan Tuhan. Maka berdoalah wahai kaum miskin kota, dhuafa di desa, anak yatim, piatu dan terlantar, penyandang cacat, para pengemis, para penganggur, anak miskin putus sekolah dan orang jompo agar para koruptor itu bertaubat. Agar koruptor mendapat ganjaran setimpal di dunia dan akhirat.


Berdoalah agar mereka sadar dan kembalikan uang negara yang dimalingnya. Berdoalah agar pejabat dan kroni-kroninya yang berniat korupsi mengurungkan rencana buruknya.


Berdoalah agar koruptor yang kabur ke luar negeri segera pulang. Berdoalah untuk keluarga koruptor agar mereka malu semalu-malunya. Doakan anak koruptor agar bisa menggugat orang tua-nya karena memberi makan dari uang haram. Doakan agar suami bisa memberi pelajaran kepada istri yang korup, istri kepada suami yang korup.


Berdoalah koruptor yang telah mati diampuni dosanya. Berdoalah agar kita tidak menjadi embrio koruptor baru.


Berdoalah wahai rakyat Indonesia agar pemimpin dan wakil rakyat benar mengurus negara. Berdoalah agak penegak hukum diberikan kekuatan menegakkan kebenaran. Tiba di mata tidak dipicingkan, tiba di perut tak dikempiskan.


Berdoalah untuk kebaikan kita dan bangsa tercinta. Kemaslahatan anak cucu di masa depan. Teruslah berdoa di setiap waktu baik sendiri maupun berjamaah. Wahai anak bangsa berdoa dan berusaha-lah Merawat Indonesia dengan karya. Bukan membawa malapetaka!


“Ya Allah selamatkanlah bangsa kami dari segala macam bentuk praktik korupsi, musibah, kobodohan dan penguasa yang zolim….”*


Penulis adalah pegiat sosial di Sumbar







Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Saturday, February 14, 2015

Post a Comment
close