Keluarga – Masyarakat Madani

Ilustrasi-Keluarga (eureka89.wordpress.com)

Ilustrasi-Keluarga (eureka89.wordpress.com)



dakwatuna.com - Dalam risalah dakwah Nabi Muhammad SAW, telah secara jelas memaparkan konsep dasar membentuk masyarakat madani sebagai contoh peradaban. Pada fase awal risalah dakwahnya, beliau memulai membangun masyarakat madani dengan membentuk pribadi muslim yang shalih dan shalihah. Pribadi generasi muslim yang kuat, akan berefek pada terbentuknya sebuah keluarga muslim yang kuat pula, sehingga bisa dikatakan kunci dasar terbentuknya masyarakat madani terletak pada kokohnya pondasi dasar penyususun sebuah tatanan masyarakat yang sering kita sebut dengan nama keluarga.


Keluarga merupakan asas dasar dari sluruh element pembangun masyarakat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) keluarga didefinisikan sebagai satuan kekerabatan mendasar yang menyusun sebuah tatanan masyarakat. Keluarga berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari dua kata yaitu “kula” dan “warga” yang bermakna “anggota” atau “kelompok kerabat”. Kedudukan keluarga dalam membentuk masyarakat madani bersifat primer dan fundamental, karena pada hakekatnya sebuah keluarga berperan sebagai wadah pembinaan dan pendidikan setiap anggotanya. Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma mengingatkan kita akan pentingnya tarbiyah atau pendidikan dalam sebuah keluarga. “Berikan pendidikan, ajarilah dengan ketaatan kepada Allah, serta takutlah dari kemaksiatan. Didiklah anggota keluargamu dengan dzikir yang akan menyelamatkan dari api neraka.” Pendidikan dalam keluarga menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan generasi-generasi unggul masyarakat madani.


Realitas di lapangan yang terjadi masih jauh dengan harapan dan tujuan yang ingin dicapai. Keluarga kehilangan panduan dalam menjalankan fungsinya sebagai wadah pendidikan terhadap anggota keluarga. Salah satu contoh kegagalan keluarga dalam melakukan pendidikan adalah dengan diterbitkannya data BKKBN tahun 2010 yang menyebutkan bahwa broken home adalah salah satu faktor penyebab paling besar terjadinya kenakalan remaja. Data tersebut melaporkan angka kejadian seks bebas yang dilakukan remaja di kota-kota besar di Indonesia. Surabaya merupakan kota yang memilki angka seks bebas remaja tertinggi dengan persentase sebesar 54%, diikuti Medan 52%, Jakarta dan Bandung 47%. Kenyataan ini seolah menjadi tamparan bagi kita akan hilangnya peran keluarga dalam mendidik generasi penerus bangsa. Padahal Allah SWT memerintahkan kita agar menjaga keluarga kita dari api neraka, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksaan neraka” (Qs: At-Tahrim: 6).


Islam is a perfect religion, itulah sebuah kalimat yang menggambarkan sempurnanya Islam sebagai solusi dari segala permasalahan. Tanpa terkecuali, Islam sendiri telah memberikan amanah yang begitu agung dan mulia kepada ayah dan ibu untuk memberikan pendidikan, pengetahuan dan bimbingan nilai-nilai islam kepada anggota keluarga. Allah SWT secara khusus memberikan gambaran potret keluarga islam dalam Alquran. Di antaranya potret keluarga Imron dalam Qs. Ali-Imran yang berbicara tentang pentingnya pembinaan dan pendidikan keluarga, potret keluarga Nabi Ibrahim yang berbicara tentang kesabaran dan kepatuhan pada perintah Allah dan potret keluarga Luqman dalam Qs. Luqman yang berbicara tentang pendidikan untuk tidak mempersekutukan Allah, berbakti kepada orang tua dan menjalankan shalat.


Pendidikan karakter berbasis islam dalam keluarga adalah salah satu solusi untuk membentuk masyarakat madani. Kata karakter berasal dari bahasa yunani “charssein” yang berarti “mengukir hingga terbentuk pola”. Karakter didefinisikan sebagai sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas atau pola seseorang atau sekelompok orang. Pendidikan karakter berbasis islam adalah sebuah metode pendidikan yang bertujuan untuk membentuk karakter kepribadian muslim dengan dasar nilai-nilai keislaman. Pendidikan karakter berbasis Islam tidak akan lepas dari pendidikan iman dan moral, yakni pendidikan mengenai dasar-dasar iman, keyakinan beragama, moralitas, akhlak yang terpuji dan tabiat yang baik.


Pendidikan karakter memerlukan proses jangka panjang yang harus dimulai sejak dini secara bertahap dan berkesinambungan. Metode pendidikan karakter berbasis islam dalam keluarga dapat dilakukan melalui tiga tahap metode. Tahap pertama adalah tahap di mana orangtua mempersiapkan pondasi nilai-nilai karakter islam (akidah, ibadah dan akhlak), tahap kedua adalah tahap pembelajaran melaui kteladanan atau modeling kepada anak dan tahap ketiga adalah tahap pembelajaran melalui pembiasaan.


Pada tahap mempersiapkan pondasi nilai-nilai karakter Islam, anggota keluarga diajarkan nilai ruhaniyah atau ketauhidan kepada Allah SWT, ibadah dan sikap akhlak dalam Islam. Tujuan dari tahap ini adalah agar anak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram, mana yang disenangi Allah dan mana yang tidak disenangi Allah. Pada tahap kedua, aspek keteladanan menjadi sesuatu berperan penting dalam membentuk karakter anak. Diperlukan figur yang konkret dalam memberikan contoh teladan kepada anak. Orangtua sangat diharapkan bisa menjadi tokoh teladan yang baik bagi anak, sehingga nilai-nilai kebaikan tidak hanya bersifat teori saja tapi bisa real dapat dilihat dan dirasakan oleh anak. Tahap terakhir adalah tahap pembiasaan. Pada tahap ini diperlukan kesabaran dan keistiqomahaan dalam mengaplikasikan karakter pribadi islami yang selama ini diajarkan kepada anak. Kooperatifnya orangtua dan mendukungnya kondisi lingkungan keluarga menjadi faktor penting tertanamnya karakter pribadi muslim pada anak.


Pendidikan karakter berbasis Islam pada anak dalam keluarga adalah salah satu solusi dalam upaya membentuk masyarakat madani. Dimensi ruhaniyah atau nilai-nilai spiritualitas islam dalam pendidikan karakter sangatlah penting. Pendidikan karakter bukanlah materi pelajaran agama atau pelajaran-pelajaran lain yang biasa diajarkan di sekolah-sekolah. Keluarga khususnya orangtua sangat berperan penting untuk terlibat langsung dalam metode ini. Dengan terbentuknya generasi-generasi muslim yang tangguh di lingkungan keluarga, cita-cita membentuk masyarakat madani bukanlah mimpi semata.





Like Fanpage kami :

Sunday, February 8, 2015

Post a Comment
close