Kemenag Upayakan Menyatukan Kalender Hijriyah


Salah satu upaya penyatuan, telah dilakukan Focus Discussion Group bersama para tokoh hisab rukyat, Jumat (20/2/2015).



Kemenag Upayakan Menyatukan Kalender Hijriyah

Kemenag berusaha menyatukan kriteria penentuan 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan1 Dzulhijjah.




Hidayatullah.com–Kementerian Agama berupaya melakukan penyatuan kalender Hijriyah di Indonesia. Terjadinya perbedaan penentuan kalender Hijriyah, khususnya terkait dengan awal Ramadhan, 1 Syawal, dan 1 Dzulhijjah, menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar tidak terjadi kegaduhan tahunan.


Salah satu upaya Kemenag dalam penyatuan kalender Hijriyah dengan melakukan Focus Discussion Group (FGD) bersama dengan para tokoh hisab rukyat berkompeten, di kantor Kemenag, Jumat (20/2/2015), seperti dilaporkan laman Kemenag. FGD ini telah berlangsung dua kali dan akan dilanjutkan pertemuan berikutnya dengan mengundang para pakar lainnya.


Menag Lukman Hakim Saifuddin menginginkan, adanya jalan tengah yang moderat agar dapat diterima oleh seluruh kelompok umat Islam. “Selama ini kita mengenal dengan istilah metode hisab dan rukyat dalam penentuan kalender Hijriyah. Saya berharap kita dapat menemukan jalan tengah sebagai cara menyatukan kalender Hijriyah agar umat Islam terjalin ukhuwwah yang lebih kuat,” kata Menag.


Pakar hisab rukyat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Suseknan, memaparkan, upaya penyatuan kriteria hisab dan rukyat masih terbuka. Ada dua pokok yang selama ini menjadi titik kritis perbedaan antara metode hisab dan rukyat, yaitu perbedaan kriteria dan tempat (markaz) observasi bulan. Artinya, masalahnya bukan pada metode hisab dan rukyatnya, namun lebih karena dua hal tersebut.


“Jika keduanya bisa disepakati, saya yakin masalahnya ini dapat diselesaikan,” tandasnya.


Ahli hisab rukyat yang lain, Cecep Nurwendaya, mengatakan, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk melakukan kajian mendalam dan koordinasi dengan para ahli hisab dan rukyat, khususnya NU dan Muhammadiyah. Sebab, selama beberapa tahun ke depan, posisi hilal dapat dikatakan cukup aman.


“Posisi hilal selama pak Menteri Lukman menjabat lima tahun ke depan cukup baik, karena potensi perbedaan sangat kecil,” terang Cecep.


Prediksi hasil hisab kriterian MABIMS dengan wujudul hilal markaz hisab pos observasi bulan Pelabuhan Ratu Sukabumi, dimungkinkan memiliki potensi berbeda adalah 1 Dzulhijjah tahun 2015, 1 Dzulhijjah 2022, 1 Syawal dan 1 Dzulhijjah tahun 2023, dan 1 Ramadhan tahun 2024.*






Like Fanpage kami :

Friday, February 20, 2015

Post a Comment
close