Ketika Kita Bersabar

Ilustrasi. (rajabulgufron.wordpress.com)

Ilustrasi. (rajabulgufron.wordpress.com)



dakwatuna.com – Bersabar? Mengapa hal ini menjadi salah satu kemuliaan ketika seseorang manusia memilikinya? Ketika berbicara tentang kesabaran, kita akan teringat dengan hadist Rasulullah SAW, “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin itu. Semua urusannya baik baginya. Hal itu hanya dimiliki orang yang beriman. Jika dia memperoleh nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ditimpa kesulitan, dia bersabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim). Di dalam Alquran juga banyak disebutkan tentang perintah untuk bersabar bahkan Allah dalam surah Al-Baqarah 153 menyandingkan sabar dengan shalat sebagai jalan untuk mendapat pertolongan-Nya.


Dalam kehidupan sehari hari, sabar sering diasosiasikan dengan sikap yang harus dimiliki ketika menghadapi peristiwa tidak menyenangkan yang sedang menimpa kita. Seperti saat sedang menghadapi musibah, sakit, kegagalan, dan semua hal yang menurut persepsi manusia tidak menyenangkan. Dalam disiplin ilmu psikiatri, stimulus-stimulus yang tidak menyenangkan tersebut disebut dengan stresor. Stresor sendiri sebenarnya sangat banyak, bisa datang dari dalam diri kita juga di luar kita. Stresor dapat berupa trauma psikis, toksin kimia, mikroorganisme, panas dan dingin. Ketika kita mendapat stresor, dalam hal ini adalah stresor terhadap pikiran kita, sebenarnya tubuh akan berusaha melawan stresor tersebut. Terkadang kita berhasil mengatasi stres ringan tanpa kita sadari, namun terkadang stimulus tersebut sangat kuat, berlangsung terus menerus, sehingga tubuh kita membutuhkan upaya yang lebih keras lagi untuk mengatasinya.


Menurut Han Seyle, seorang pakar stres, bagaimana kita mengatasi stres merupakan bagian dari kemampuan tubuh yang disebut general adaptation syndrome. Ada tiga tahapan ketika tubuh melakukan proses adaptasi tersebut. Yang pertama adalah alarm atau peringatan. Dalam keadaan ini, aktivitas hormon adrenalin kita akan meningkat. Inilah awal adaptasi tubuh ketika sedang mendapatkan stres. Saat mendapati peristiwa yang tidak menyenangkan, kita akan cenderung gelisah, sering jantung berdebar debar memikirkan banyak kemungkinan yang lebih buruk lagi. Periode alarm ini berlangsung singkat. Jika stesor terus ada, maka tubuh akan memasuki tahapan resistensi. Dalam tahap ini sesungguhnya sel sel kita sedang mengeluarkan energi besar untuk melawan stres tersebut. Di sinilah kesabaran menempati poin yang penting untuk membantu manusia tetap bertahan. Kesabaran sebenarnya merupakan bentuk lain dari persepsi pikiran kita yang lebih kompleks dalam menerima ujian. Apakah kita mampu mempertahankan persepsi positif terhadap ujian yang sedang dihadapi atau justru mempersepsikan secara negatif sehingga berujung pada tindakan tindakan yang juga negatif.


Kesabaran dengan persepsi yang positif akan membuat fase resistensi ini bisa berlangsung lama, sampai stresor tersebut hilang dan tubuh kembali normal. Namun sebaliknya, ketika kesabaran mulai menghilang, persepsi negatif akan mulai muncul. Hal ini akan mempercepat fase resistensi menuju fase exhaustion atau kelelahan. Pada fase kelelahan, energi yang kita gunakan untuk menghadapi fase resitensi akan habis, banyak sel yang mati, dan hormon glukokortikoid yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan normal tubuh akan berkurang drastis. Dari sudut pandang ilmu psikiatri, kondisi kelalahan tersebut sangat besar kemungkinan untuk jatuh kedalam fase depresi berat bahkan sampai dapat menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan untuk mengenali realitas (Schizophrenia).


Secara sederhananya, kesabaran dapat dianalogikan seperti pompa mesin hidrolik. Mekanisme kerja mesin hidrolik adalah dengan memanfaatkan kekuatan cairan untuk menghasilkan tenaga yang lebih besar dengan hanya membutuhkan gaya yang kecil. Kesabaran adalah dinding yang menjaga agar cairan mesin tersebut dalam hal ini potensi manusia agar tidak bocor keluar. Ketika diberikan stresor dengan kekuatan tertentu pada tuas yang kecil, maka selama dinding mesin tersebut tidak bocor, mesin hidrolik akan menghasilkan gaya yang jauh lebih besar di tempat lain. Begitulah kesabaran, selama seseorang mampu menjaga kesabaranya dengan baik, maka sesungguhnya dia sedang berproses menghasilkan tenaga yang luar biasa.


Inilah mengapa kesabaran begitu penting. Sering seseorang yang telah berhasil melalui masa sulitnya menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya. Sangat banyak kisah pemimpin besar yang terlahir dari penjara. Bung Karno, Bung Hatta, Buya Hamka, dan Bapak-bapak proklamator kita lainnya banyak yang pernah merasakan pengapnya penjara. Nelson Mandela mengahbiskan 27 tahun masa hidupnya didalam penjara sebelum akhirnya dia keluar sebagai pahlawan bagi negaranya Afrika Selatan. Kisahnya banyak menginspirasi para ras kulit hitam yang sebelumnnya hanya dianggap sebagai budak untuk tumbuh kuat. Sehingga sekarang kita banyak melihat sebagian mereka berhasil menjadi top leader di PBB, musisi internasional, dan beberapa menjadi artis papan atas hollywood.


Albert Einsten pernah disebut sebagai anjing bodoh oleh dosennya. Mimpinya dianggap gila dan pernah dikeluarkan dari Zurich Polytechnic School. Disertasi doktoralnya pernah di tolak oleh University of Bem karena dianggap tidak relevan dan aneh. Dan sekarang, dunia mengakui Albert Einstein sebagai salah satu tokoh jenius yang berperan dalam revolusi besar energi nuklir.


Hampir semua Nabi, pernah dihina oleh kaumnya. Mereka pernah menanggung ujian ujian yang luar biasa beratnya. Mereka bersabar melebihi manusia lain di dunia ini. Nabi Yusuf harus bersabar selama 7 tahun dipenjara atas dakwaan yang tidak dilakukanya sebelum akhirnya memimpin selama 55 tahun. Nabi Zakariya harus bersabar hingga puluhan tahun menunggu datangnya seorang anak, sebelum akhirnya Allah mengkaruniakan Yahya kepadanya. Nabi Muhammad harus menanggung ujian pahit dilempar dengan batu oleh penduduk Thaif, dicaci oleh pamanya sendiri, berkali kali hampir dibunuh oleh kaumnya sendiri, sebelum akhirnya islam tumbuh besar hingga sekarang. Begitulah kesabaran, nama lainya adalah kekuatan, yang ditransformasikan kedalam rasa yang berbeda.


“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hambaKu yang beriman, bertakwalah kepada Rabb-mu’. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S az-Zumār : 10)






Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Friday, February 13, 2015

Post a Comment
close