Penembakan Tiga Mahasiswa Muslim AS, Mengapa Liputan Kurang?

Berita Internasional Update

Aktivis Muslim menuntut pihak berwenang menyelidiki kemungkinan motif kebencian agama.



Penembakan Tiga Mahasiswa Muslim AS, Mengapa Liputan Kurang?

Postingan di media sosial terhadap peristiwa penembakan mahasiswa muslim di Chapel Hill, North Carolina, AS.




Hidayatullah.com–Kepala kepolisian Chapel Hill, Chris Blue, mengatakan, pihaknya masih menyelidiki apakah aksi penembakan terhadap tiga mahasiswa muslim dilatarbelakangi kebencian terhadap agama tertentu mengingat ketiga korban beragama Islam.


“Kami paham keprihatinan mengenai kemungkinan bahwa peristiwa ini didasari kebencian dan kami akan mengerahkan segala upaya untuk menentukan apakah memang benar demikian,” kata Blue, dilaporkan BBC, Kamis (12/2/2015).


Sebagaimana diberitakan, Craig Stephen Hicks (46 tahun), mahasiswa paralegal dari Chapel Hill, didakwa melakukan pembunuhan tingkat pertama dalam penembakan hari Selasa (11/2/2015) sekitar 05:00 (2200 GMT), tiga km dari Kampus University of North Carolina.


Para korban adalah pengantin baru Deah Shaddy Barakat, 23 tahun, istrinya Yusor Abu-Salha, 21 tahun, dan adiknya Razan Abu-Salha, 19, dari Raleigh. Barakat mahasiswa kedokteran gigi di University of North Carolina, istrinya akan memulai studi di fakultas yang sama saat musim gugur. Sedang Razan mahasiswa di North Carolina State University.


Ketiga korban dikenal aktif dalam program bantuan kemanusiaan.


Pembunuhan ini mengundang kecaman internasional. Penembakan memicu tagar #MuslimLivesMatter pada media sosial dengan banyak yang menyebutkan kurangnya liputan berita atas kejadian tersebut.


“Saya pikir bahwa umat Islam hanya bisa menjadi berita ketika berada di belakang senjata, tidak di depannya,” menurut cuitan akun Twitter milik @biebersrivals.


Postingan lainnya, #ChapelHillShooting telah digunakan lebih dari 300.000 kali dan menjadi topik populer di Amerika Serikat, Inggris, Mesir, Arab Saudi, dan beberapa negara di Timur Tengah.


Tagar itu dipopulerkan Abed Ayoub, direktur kebijakan Komite Anti-Diskriminasi Amerika-Arab. ‘Mengapa tidak ada seorang pun menyebut #ChapelHillShooting aksi terorisme? Apakah para korban menganut agama yang salah?’ cuitnya.


Aktivis Muslim menuntut pihak berwenang menyelidiki kemungkinan motif kebencian agama.


Keluarga Barakat mendesak penembakan diselidiki sebagai kejahatan kebencian dan mengatakan ketiga tewas dengan tembakan di kepala.


“Hari ini, kami menangis karena rasa sakit yang tak terbayangkan atas pembunuhan gaya eksekusi,” kata kakak perempuan Barakat, Suzanne kepada wartawan.


Jaksa AS untuk Distrik Tengah North Carolina, Ripley Rand pada konferensi pers dengan para pejabat polisi setempat mengatakan, insiden ini tampaknya bukan aksi yang ditargetkan terhadap Muslim Carolina Utara.


Imam Abdullah Antepli, Kepala Perwakilan Muslim di Duke University, mengatakan dalam konferensi pers, kejadian itu belum tentu terjadi karena kebencian agama dan menyerukan pelonggaran ketegangan.


Kelompok-kelompok seperti Muslim Public Affairs Council, Council on American-Islamic Relations (CAIR) dan komunitas lokal Raleigh Muslims for Social Justice menyerukan penyelidikan federal adanya kemungkinan kejahatan kebencian agama.


“Saya berharap tragedi yang mengerikan ini akan menjadi titik balik yang membawa realitas bahwa jika kita terus mengutuk Muslim dan menyamakan agama mereka dengan terorisme, hal itu akan menyebabkan lebih banyak serangan,” kata Manzoor Cheema, co-founder Muslims for Social Justice.


Barakat, seorang warga negara Amerika asal Suriah, menulis dalam posting Facebook terakhirnya tentang menyediakan pasokan gigi gratis dan makanan kepada orang-orang tunawisma di pusat kota Durham.


Dia mengumpulkan dana untuk perjalanan ke Turki dengan 10 dokter gigi lain untuk memberikan tambalan gratis, saluran akar dan instruksi kebersihan mulut untuk anak-anak pengungsi Suriah.*






Like Fanpage kami :

Wednesday, February 11, 2015

Post a Comment
close