Prasangka itu Bisa Memalukan


Tadi pagi saya menegur anak pertama saya, Dhira (23 tahun), “Nak, sudah lama bapak perhatikan kamu jarang sholat tahajud.” Dengan tersenyum dia menjawab, “Saya tahajud lebih dulu dibandingkan bapak.” Dia pun kemudian mencium saya sembari berkata, “Bapak sekarang jarang mencium mbak Dhira, nih.”


Sepanjang perjalanan menuju Jakarta saya merenung, betapa sering saya buruk sangka kepada orang lain. Ketika saya kecil, saya pernah berprasangka buruk bahwa ibu saya jahat kepada saya karena saya harus berjualan keliling kampung. Ternyata itu adalah cara ibu saya mendidik saya agar punya jiwa dan mental pejuang.


Dulu saya pernah berprasangka bahwa “bos” saya ingin menyingkirkan saya karena ketika itu saya diberi pekerjaan yang sangat berat. Ternyata itu adalah bukti cintanya kepada saya dan caranya menyiapkan saya menjadi pemimpin yang tahan banting. Akhirnya, prasangka-prasangka buruk lainnya yang pernah saya lakukan muncul dalam pikiran saya.


Sebagian prasangka ternyata berdosa. Dan sebagian prasangka yang lain ternyata membuat malu. Sungguh kita perlu terus belajar kembedakan antara fakta dan prasangka. Sayangnya, banyak yang menganggap prasangka menjadi fakta. Dan bila itu dipelihara maka bisa berujung dosa. Berprasangka orang lain buruk padahal diri kitalah yang faktanya kotor penuh noda.


Ya Allah, ampuni kami atas semua prasangka yang pernah ada…


Salam SuksesMulia!


Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook






Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Tuesday, February 17, 2015

Post a Comment
close