Ratusan Ribu Warga Australia Mengidap Gangguan Penimbun Barang

Berita Internasional Update

Diperkirakan 1-2 persen dari total populasi penduduk Australia adalah hoarder alias penimbun barang




Hidayatullah.com–Ratusan ribu warga Australia yang menderita gangguan penimbun barang hidup dalam kondisi kumuh.

Mengingat luasnya masalah ini, pakar kesehatan jiwa mendesak agar pemerintah menyediakan layanan pengobatan demi menjaga kesehatan penderita itu sendiri maupun masyarakat umum di sekitar mereka.


Diperkirakan 1-2 persen dari total populasi penduduk Australia adalah hoarder alias penimbun barang, demikian dikutip laman Radio ABC.


Dua setengah tahun lalu, seorang anak berusia 5 tahun tewas setelah kakinya terluka karena menginjak kaleng bekas makanan hewan yang dibiarkan terbuka di sebuah rumah di Melbourne.


Beberapa hari kemudian ibu dari anak tersebut membawanya ke petugas ambulan terdekat, setelah anaknya berhenti bernafas dan meski sudah berusaha memberikan pertolongan namun petugas ambulan tidak bisa menyelamatkan nyawanya.


Orangtua dari anak tersebut mengaku bersalah atas tuduhan kejahatan karena telah menempatkan anaknya pada kondisi yang beresiko, dikarenakan rumah mereka dipenuhi oleh sampah, mainan, perabotan rusak dan tumpahan makanan, jamur, botol kosong dan kotoran manusia. Pasangan suami isteri itu merupakan penimpun barang atau sampah yang dikenal dengan istilah Hoarder.


Kasus ini kemudian memicu pemerintah Victoria baru-baru ini mengumumkan akan menyediakan anggaran untuk mendanai pelatihan bagi pemerintah daerah untuk mengidentifikasi warga penderita gangguan penimbun barang dan sampah atau hoarder tersebut.

Associate Professor dari Fakultas Psikologi Universitas New South Wales, Jessica Grisham adalah pakar dari perilaku penimbun barang/sampah.


“Masalah gangguan penimbun barang ini sebenarnya jauh lebih besar dari yang diperkirakan masyarakat,” katanya.


“Saya perkirakan 1 – 2 persen dari total populasi warga di Australia kemungkinan memiliki masalah penimbunan barang yang secara klinis cukup signifikan,” katanya.


Dia mengatakan banyak penderita gangguan penimbun barang itu adalah orang yang kurang memahami masalah mereka, atau mengalami perasaan malu terhadap perilaku mereka tersebut dan jumlah pasti dari warga yang menderita gangguan semacam ini secara nasional sebenarnya jauh lebih tinggi.


“Para penderita gangguan penimbun barang boleh jadi tidak menyadari mereka punya masalah itu, namun teman, anggota keluarga dan tetangga bisa melihat dengan jelas perilaku bermasalahnya dan itu bisa sangat berbahaya dan memicu kecacatan.”


Professor Grisham mengatakan interaksi komplek dari sejumlah faktor seringkali menjadi pencetus perilaku menimbun barang/sampah.


Sementara perilaku menimbun barang sendiri bisa memicu event traumatis seperti kematian atau perceraian, faktor kecenderungan genetis bisa menjadi sumber atau akar dari masalah ini.


“Kita mendapati tingginya kasus depresi dan kecemasan yang dialami para pelaku gangguan menimbun barang (hoarder),” kata Professor Grisham. “Tampaknya masalah ini sangat kompleks dan karenanya menjadi masalah yang sangat menantang untuk ditangani,” ujarnya.


Para penimbun barang tidak hanya sulit bergerak di dalam rumahnya sendiri yang dapat memicu resiko kesehatan dan keselamatannya, tapi juga menciptakan resiko kebakaran bagi masyarakat yang lebih luas.


“Setiap situasi dimana ada penderita gangguan penimbun barang maka muncul potensi bahaya.”


Menurut Simone Iseman, psikolog klinis di Lifeline yang banyak melatih orang yang diidentifikasi sebagai penimbun barang atau bekerja dengan penderita gangguan penimbun barang mengatakan perlu disediakan layanan pengobatan bagi penderita hoarder.


“Saat ini tidak tersedia banyak pilihan meskipun mereka memahami masalah yang diderita dan ingin mencari bantuan,” katanya.

Menurut Associate Professor Grisham, jumlah besar penimbun di Australia berasal dari semua kelompok sosial ekonomi.


“Kita menjumpai penderita gangguan penimbun yang berasal dari orang-orang yang cukup kaya dan punya uang untuk terus membeli barang-barang dan memiliki rumah yang sangat besar,” katanya.


“Kami juga memiliki klien penimbunan yang berprofesi dokter dan psikiater dan sangat terdidik, serta mereka yang kurang berpendidikan dan berada dikelas sosial ekonomi rendah.*







Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Friday, February 13, 2015

Post a Comment
close