Runtuhnya Dominasi Politik Amerika Serikat [1]


Tentara AS yang dilengkapi dengan persenjataan paling modern, tidak mampu mengalahkan kelompok-kelompok pejuang




Oleh: Umar Syarifudin


TAHUN 1920-an dengan pongahnya rakyat Amerika mengklaim “American Dreams” mereka sudah tercapai. Secara kasat mata rakyat amerika mencapai puncak kemakmuran dan kekuatan, tapi apa benar begitu?


Keruntuhan Amerika Serikat sangat tergambar dengan instabilitas dalam negeri dan ditunjang kerusakan moral generasinya. Generasi teler di AS tergambar dengan tersedianya fasilitas pembelian ganja di mesin otomatis penjual ganja di negara bagian AS sebagaimana yang dikabarkan di Harian Jawa Pos (5/02/2015). Secara internal, minimnya rasa aman mencekam semua warga AS, hingga tiap warga merasa perlu membekali dirinya dengan senjata api. Muncul masalah berikutnya, penyalahgunaan senjata terjadi dimana-mana sampai anak 3 tahun menembak orang tuanya (BBC, 2/2/2015). Konflik rasial makin menjadi-jadi, hutang kian menggunung, keruntuhan ekonomi di depan mata.


Segala persepsi tentang bagusnya citra supremasi, gambaran serba hebat, dan tak terkalahkan untuk sebuah negara adidaya Amerika Serikat perlu dirombak total. Adapun fakta sikap penguasa di negeri-negeri Muslim di dalam kepemimpinan militer dan kepemimpinan politik membungkuk kepada Amerika bagaimanapun serangan Amerika terus berlangsung terhadap kaum Muslimin dan kesucian mereka.


Para penguasa di negeri-negeri Muslim tidak pernah sehari pun berani menentang Amerika dalam satu urusan pun. Itulah sebab tidak adanya pergerakan dari kepemimpinan politik dan militer ketika AS (singkatan Amerika Serikat, bukan Abraham Samad) melecehkan kemuliaan nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, dan ketika presiden Amerika Obama berkeras atas hak melakukan penyerangan dalam kebebasan berekspresi. Begitu pula kita tidak mendengar kata-kata keras dari para penguasa negeri-negeri Muslim ketika orang-orang Amerika melanggar kehormatan di berbagai penjuru bumi. Hadirnya pangkalan-pangkalan militer AS di sekitar Indonesia, dan intervensi politik dan ekonomi menjadi fakta Amerika melecehkan kehormatan rakyat Indonesia.


Fakta juga membenarkan bahwa para penguasa itu tidak cukup hanya membungkuk kepada Amerika dan tidak menentangnya. Lebih dari itu, mereka bahkan memberi kemungkinan kepada Amerika untuk meningkatkan kemampuan Amerika menghegemoni, bahkan menumpahkan darah kaum Muslimin dan melanggar kesucian kaum Muslimin.


Di Timur Tengah, para penguasa telah mengkhianati umat yang telah menyediakan pangkalan militer dan informasi intelijen supaya pesawat tak berawak Amerika bisa menghancurkan rumah-rumah ribuan kaum Muslimin di atas kepala mereka.


Para penguasa negeri-negeri Muslim juga mengkhianati umat, dengan mengadakan kamp untuk kontraktor militer swasta seperti Black Water di kawasan-kawasan pemukiman perkotaan yang sensitif. Dengan itu Black Water bisa mengatur serangan ledakan bom, pembunuhan dan pembantaian ribuan warga sipil dan militer dari kaum Muslimin, dengan tujuan menciptakan justifikasi untuk perang Amerika dengan mengkambinghitamkan kabilah-kabilah.


Para penguasa negeri-negeri Muslim jualah yang menjaga kedutaan dan konsul Amerika yang merupakan pangkalan militer untuk melakukan intervensi dan serangan. Merekalah yang memberi persetujuan kepada AS membangun kedutaan besar terbesar kedua di dunia di Islamabad dan gedung itu menjadi gedung raksasa yang bisa dilihat oleh semua mata. Sesungguhnya mereka membungkuk kepada Amerika, meminta arahan dan upah dari Amerika untuk partisipasi mereka di dalam perang fitnah yang menyebabkan korban nyawa puluhan ribu kaum Muslimin dan miliaran dolar kerugian ekonomis.


Pistol Berkarat Paman Sam


Mari kita rileks sejenak berselancar melucuti paradigma keliru tentang “kedigdayaan” Amerika Serikat yang saat ini menjelang kehancuran terutama akibat dua perang terbuka yang mereka lancarkan di Iraq dan Afghanistan yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Sebuah perang yang lebih panjang dari Perang Dunia II.


Padahal tentara AS yang dilengkapi dengan persenjataan paling modern, tidak mampu mengalahkan kelompok-kelompok pejuang perlawanan yang tidak terlatih dan hanya mengandalkan senjata-senjata buatan tahun 1960-an. Sebagai buahnya, Amerika Serikat menahan malu sambil meminta bantuan negara-negara di sekelilingnya seperti Iran.


AS hari ini kewalahan dengan banyak tantangan-tantangan di berbagai belahan dunia yang pada dekade sebelumnya didominasi mereka. Timur Tengah pada awalnya unipolar dalam hegemoninya tanpa tanding, berkembang menjadi kawasan multi polar, dimana Uni Eropa, China, Rusia, Jepang, dan India tampil dalam perebutan akses minyak di Timur Tengah. Inggris berkali-kali berusaha menggagalkan berbagai proyek AS dengan dalih kemitraan dan kerjasama.


China juga memimpin pembangunan Afrika dengan menyelesaikan lebih dari 100 perjanjiannya senilai lebih dari $20 miliar demi mengamankan kestabilan suplai minyak.


Dalam hal ini Amerika Serikat kehilangan prospek dominasi ekonominya. Di India dominasi AS pada tingkat keguncangan, karena Inggris menancapkan pengaruhnya cukup signifikan. Sebagai contoh kemenangan Partai Konggres 2004 yang pro Inggris merupakan tamparan keras bagi kepentingan AS.* (bersambung)..”bagaimana posisi kita?..






Like Fanpage kami :

Saturday, February 14, 2015

Post a Comment
close