Tawar Menawar itu Biasa


Setiap saya mengantar istri belanja, salah satu yang menjadi kepuasannya adalah saat jika ia bisa menawar barang yang dibelinya. Bahkan, ia rela berjalan lebih jauh untuk terus tawar menawar walau akhirnya selisihnya tidak seberapa. Bagi sebagian orang tawar menawar merupakan suatu kenikmatan.


Oleh karena itu, tidak boleh tabu untuk tawar menawar. Meniadakan tawar menawar itu ibarat sayur tanpa garam. Ngomong-ngomong soal tawar menawar, kita simak cerita berikut ini.


Dikisahkan, seorang ibu yang hobinya menawar naik kereta listrik dan berhenti di stasiun Bogor. Turun dari kereta ia langsung mencari tukang becak dan bertanya, “Ke perumahan Abesin Pasar Anyar berapa?” Tukang becak menjawab, “Sepuluh ribu.”


Sang ibu menawar, “Lima ribu ya, nanti saya beri tahu jalan pintasnya.” Tetapi tukang becak ini tidak mau mengubah harganya, “Gak bisa bu, tetap sepuluh ribu.” Setelah berulang-ulang tawar menawar harga tidak “goyang”, tetap sepuluh ribu.


Dengan nada kesal dan merasa kalah sang ibu akhirnya naik becak itu. Di perjalanan, abang tukang becak bertanya, “Lewat mana bu?” Sang ibu yang masih merasa tidak puas karena tidak berhasil menawar diam saja. Ditanya berulang-ulang sang ibu tetap diam.


Akhirnya dengan nada agak keras tukang becak itu kembali bertanya, “Ibu jalannya lewat mana?” Dengan kesal sang ibu menjawab, “Tadi kan sudah saya bilang, kalau lima ribu saya kasih tahu jalan pintasnya. Lha, ini ongkosnya sepuluh ribu, ya kamu cari sendiri jalan menuju rumah saya.”


Salam SuksesMulia!


Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook





Like Fanpage kami :

Thursday, February 26, 2015

Post a Comment
close