Tebarkan Kasih Sayang Rasulullah [2]


Nabi memerintahkan umatnya untuk berbuat lembut, pun pada binatang, bahkan saat melakukan penyembelihan




Bahkan pada Hewan!


SIFAT baik dan santun bila sudah mendarah daging, niscaya tak akan terpisah dari diri seseorang, selama-lamanya. Orang itu akan selalu berlaku lembut dan penuh kasih, bahkan kepada hewan-hewan dan benda-benda mati sekalipun! Itulah kepribadian kekasih kita, Nabi Muhammad Shallallhu ‘Alaihi Wassallam.


Suatu hari, Nabi melihat seorang lelaki merebahkan kambing di tanah, menginjakkan kakinya di leher hewan itu, sambil memegangnya untuk disembelih. Dalam waktu bersamaan, dia masih mengasah pisaunya. Melihat hal ini, Rasulullah marah dan bersabda, “Apakah kamu ingin membunuhnya dua kali? Tidakkah kamu asah dulu pisaumu, sebelum kamu merebahkannya?” (HR. Al-Hakim, shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim)


Ibnu Mas’ud dalam hadits shahih lain mengutarakan, suatu saat, Rasulullah berada dalam perjalanan untuk suatu keperluan. Di tengah perjalanan, beberapa sahabat melihat seekor Humarah (burung berwarna merah) bersama kedua anaknya. Salah seorang sahabat mengambil kedua anak hewan tersebut.


Tak lama kemudian, si induk datang dan berjalan berputar-putar di sekeliling mereka. Sang induk mengepak-ngepakkan kedua sayap, kebingungan mencari anak-anaknya. Saat melihat kejadian itu, Nabi saw berkata kepada para sahabat, “Siapa yang mengganggu induk burung ini dan anak-anaknya? Kembalikanlah anak burung itu kepada induknya.”


Di hari lain, Nabi Muhammad melihat sangkar semut yang dibakar. Ia bertanya, “Siapa yang telah membakar rumah semut ini?” Seorang sahabat menjawab, “Saya.”


Mendengar pengakuan itu Nabi marah dan bersabda, “Tidak sepatutnya menyiksa dengan api, kecuali Tuhannya api (yaitu Allah).” (HR. Abu Dawud).


Rasulullah pernah memiringkan bejana untuk seekor kucing sehingga hewan tersebut bisa minum air darinya. Kemudian ia berwudhu dengan sisanya. (HR. al-Thabrani dengan sanad shahih)


Di waktu lain, Nabi Muhammad melewati dua lelaki yang tengah berbincang. Masing-masing menaiki ontanya. Rasulullah merasa kasihan kepada kedua hewan itu. Dia pun melarang keduanya menjadikan hewan tunggangannya sebagai tempat duduk. Dengan kalam lain, janganlah menaiki onta kecuali saat kamu memerlukannya saja. Jika keperluanmu untuk menaikinya telah selesai, maka turunlah dan biarkan dia beristirahat.


Apakah hal seperti ini pernah kita perhatikan? Dalam segala hal, Nabi memerintahkan umatnya untuk berbuat lembut, pun pada binatang, bahkan saat melakukan penyembelihan. Sabda Nabi, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan (kebaikan) atas segala sesuatu, maka jika kalian membunuh, perbaguslah dalam membunuhnya, dan jika menyembelih, maka perbaguslah sembelihannya, dan hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan sesembelihannya.” (HR. Muslim)


Allahumma shalli ‘ala qudwatina Muhammad! Ya Allah, kumpulkan kami bersamanya.*/Faris Khoirul Anam






Like Fanpage kami :

Saturday, February 14, 2015

Post a Comment
close