Nilai Tak Paham Ilmu Astronomi Menag Hanya Jadi Fasilitator Pakar Dan Ulama Ru’yat


Menag bukan menentukan tetapi sekadar menfasilitasi para pakar ru'yat dan ulama dalam menentukan satu Syawal, Ramadhan, dan 10 Dzulhijjah




Hidayatullah.com- Perwakilan dari Kementerian Agama (Kemenag) Ustad Ismail yang menggantikan Dirjen Bimas Islam sebab berhalangan hadir, mengatakan bahwa yang menentukan masalah ru’yat 1 Syawal, 1 Ramadhan maupun 10 Dzulhijjah bukan Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Syaefuddin.


“Menag tak memahami ilmu Astronomi atau soal meru’yat dalam menentukan awal Syawal Ramadhan serta sepuluh Dzulhijjah),” kata Ismail dalam acara seminar “Mencari dan Memahami Rumusan Konsepsi Penanggalan Islam yang Sebenarnya” di panggung Anggrek IBF 2015 Istora Senayan Jakarta, Ahad (01/03/2015).


Namum, kata Ismail, Menag memiliki konsep dalam menentukan hisab ru’yat yaitu dengan mengundang para pakar Astronomi ITB, Ulama Falaq, Pimpinan Ormas Islam serta badan atau lembaga yang berhubungan dengan hisab ru’yat yang kemudian memusyawarahkannya.


“Seperti Tarekat Nasabandiyah juga pernah diundang khusus dalam musyawarah tersebut,” kata Ismail.


Jadi, kata Ismail, sekaligus ingin mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa selama ini yang menentukan jatuhnya awal Syawal, Ramadhan dan 10 Dzulhijjah bukanlah Menag atau Pemerintah. Tetapi lanjutnya, putusan dari hasil musyawarah para ahli ru’yat dan Ulama dari perwakilan Ormas Islam.


“Menag bukan menentukan tetapi sekadar menfasilitasi para pakar ru’yat dan ulama dalam menentukan satu Syawal, Ramadhan, dan 10 Dzulhijjah,” kata Ismail.


Ismail menyampaikan jika sejak 2007 dirinya sudah mengikuti musyawarah antara Menag serta tim ru’yat dalam menentukan awal Syawal, Ramadhan, sepuluh Dzulhijjah, Gerhana Bulan maupun Gerhana Matahari.*






Like Fanpage kami :

Sunday, March 1, 2015

Post a Comment
close