NKRI Milik Umat Islam, Tapi Berjamaah Bukan Karena Satu Bangsa


Menurut Pimpinan Umum Hidayatullah, umat Islam jangan dipetak-petakkan.



NKRI Milik Umat Islam, Tapi Berjamaah Bukan Karena Satu Bangsa

Muh. Abdus Syakur/Hidayatullah.com


Ustadz Abdurrahman (sorban merah) bersama peserta Pelatihan Kepemimpinan gelaran HiTC-Syabab Hidayatullah di Depok




Hidayatullah.com–Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah milik umat Islam. Olehnya, kaum Muslimin di Indonesia harus mempertahankan negeri ini dari pihak-pihak yang ingin menghancurkannya.


Demikian salah satu intisari pesan yang disampaikan Ustadz Abdurrahman Muhammad saat menutup acara Pelatihan Kepemimpinan gelaran Hidayatullah Training Center (HiTC) dan Syabab Hidayatullah di Cilodong, Depok, Jawa Barat, Senin (02/03/2015).


“Jadi, kita harus pertahankan ini NKRI (karena) milik umat Islam. Jangan musuhi NKRI, ini rumahnya umat Islam,” ujar Pimpinan Umum Hidayatullah tersebut.


Ustadz Abdurrahman mengatakan, umat Islam, terkhusus di Indonesia, jangan dipetak-petakkan, termasuk mereka yang berada di kancah politik.


“Itu yang namanya partai (politik/parpol) cuma ‘aksesoris tangan’ yang sewaktu-waktu bisa hilang. Jangan dilihat (politisi) yang ngawur,” ujarnya, seraya mengatakan bahwa masih banyak politisi yang ibadahnya tampak lebih baik dari aktivis dakwah.


Menurut Ustadz Abdurrahman, untuk bisa memimpin Indonesia dengan baik, calon pemimpin harus terdepan ruh spiritual dan tekadnya. “Pasang tekad, saya jadi barisan yang menegakkan peradaban Islam,” pesannya.


Di depan puluhan dai se-Indonesia peserta pelatihan, Ustadz Abdurrahman juga mengingatkan bahwa, “Berjamaah atau berorganisasi itu betul-betul ruh. Bukan karena satu suku, bukan karena satu bangsa, bukan karena satu daerah. Tapi karena Islam yang mengikatnya, tauhid yang mengikatnya.”


Ustadz Abdurrahman pun menyerukan para jamaahnya untuk senantiasa bersikap inklusif (terbuka) terhadap berbagai harakah di Indonesia.


“Kita ini inklusif, cari persamaannya saja. Dalam doa pun harus inklusif. (Jangan menganggap) itu doanya partai anu, doanya harakah anu,” ujarnya, seraya menegaskan pengecualian terhadap aliran Syiah.


Menurutnya, jika umat Islam Indonesia menerima Syiah, maka negeri ini bisa hancur. [Baca beritanya di sini!]*







Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Tuesday, March 3, 2015

Post a Comment
close