Jika Makar Allah tak Lagi Terhindarkan

INILAHCOM, Jakarta- Makar Allah adalah hal terakhir yang diinginkan setiap mahkluk. Ia begitu halus, melenakan, terselip di antara kesenangan-kesenangan hidup, namun saat hukuman yang menyertainya datang, siapapun hanya bisa tenggelam dalam penyesalan.

Al-Qur’an menyebut bahwa salah satu bentuk tipuan Tuhan adalah penguluran waktu dan penangguhan azab yang disertai dengan penambahan karunia. Ini tiga kombinasi mematikan. Siapapun masih tetap tenang, senyum kiri-kanan, meski telah berbuat dosa. Orang akan mengira, meski tak dia ucapkan, Tuhan telah tertipu atau mungkin sedang sibuk dengan urusan yang lain.

Toh tak ada hukuman yang kontan datang dari langit. Toh orang masih bisa bernafas, dunia berputar seperti biasa dan kenikmatannya, seringkali, lebih baik dari yang sudah-sudah. Yang korupsi masih bisa tidur nyenyak. Yang zalim masih bisa masuk spa dan sauna, makan paha ayam, bercengkerama dengan istri, memukul-mukul stik golf dan sebagainya.

Namun sekiranya pintu menuju alam gaib terbuka, orang bakal melihat para pendosalah yang sebenarnya sedang tertipu. Mereka lah yang sebenarnya sedang mendorong dirinya sendiri ke jurang yang dasarnya tak terlihat. Neraka.

Dan janganlah sekali-kali kalian menyangka bahwa penangguhan hukuman Kami adalah hal yang baik. Semua itu sebenarnya hanya agar bertambah-tambah dosa kalian; dan bagi kalian jelas bakal ada azab yang menghinakan. Di ayat yang lain, Al-Qur’an menggambarkan betapa orang-orang kafir (mencoba) membuat tipu daya lalu Allah membalasnya. Dan sungguh, Allah lah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Makar Tuhan juga kadang bekerja lewat hadirnya kesombongan dalam jiwa. Ujub memang ibarat panacea. Ia kontan menggelembungkan dada manusia dan memoles keburukan di hati seperti komestik menutup kerut wajah. Orang pelan-pelan akan melihat besar perbuatan baiknya yang kecil, merasa semuanya sudah benar, tersipu-sipu setiap saat seperti perawan yang sedang dirayu. Ia juga akan merasa bangga pada diri sendiri, meyakini bahwa kebaikan yang telah dia perbuat murni karena jerih payahnya sendiri, karena kerja kerasnya, keringatnya, pemikirannya dan kesungguhannya. Ini jelas kesombongan yang telanjang. Tapi orang melihatnya sebagai sesuatu yang baik.

Dalam Al-Qur’an, Tuhan menyindir orang-orang yang berpandangan seperti itu. “Lalu bagaimana kiranya,” kata Tuhan, “kesudahan orang-orang yang dihias perbuatan buruknya sehingga ia melihatnya sebagai kebaikan?” (QS 35: 8).

Di antara mahkluk Tuhan, Iblis termasuk yang tahu persis kesudahan yang seperti disebutkan dalam ayat itu. Dulu, mereka dikenal sebagia mahkluk yang taat, yang waktunya habis dengan kebaktian pada Tuhan. Tapi lantaran senang pada ibadahnya sendiri, ujub perlahan muncul. Mereka pelan-pelan merasa bahwa mereka lebih mulia dari manusia; mahkluk yang diciptakan belakangan dari tanah. Iblis merasa bahwa api lebih mulia dari tanah — meski tidak ada satu pun bukti yang bisa membenarkannya. Inilah makar Tuhan pada iblis. Halus, melenakan, sebelum akhirnya muncul sekenyong-koyong dalam bentuk hukuman. Iblis, yang tak pernah menduga kedatangannya, hanya bisa ternganga. Tuhan mengutuk mereka, menghinakan mereka, menjadikan mereka mahkluk yang kalah untuk selama-lamanya.

Ada banyak hadis yang membawa pesan yang sama. Salah satunya merekam dialog antara Allah SWT dan Daud as, nabi yang dikenal dengan mukjizatnya melunakkan besi. “Wahai Daud, sampaikan lah kabar gembira ke para pelaku dosa dan peringatkanlah para pelaku kesalehan.” Daud hanya bisa terheran-heran mendengar firman itu. Bagaimana aku,” katanya, “akan menyampaikan kabar gembira kepada para pelaku dosa dan memperingatkan para pelaku kesalehan?”

Allah menjawabnya seketika. “Sampaikanlah kabar gembira kepada para pelaku dosa bahwa Aku menerima taubat mereka dan peringatkanlah orang-orang yang saleh agar mereka tidak memiliki sifat ujub atas perbuatan-perbuatan mereka karena, sungguh, tidak ada seorang hamba pun yang akan selamat jika Aku mengadili perbuatan-perbuatan mereka.”

Hadis ini benar belaka. Jika rahmat Tuhan diukur dengan neraca keadilan, jika manusia harus membalas rahmat Tuhan dalam bentuk ibadah dan ketaatan, maka tak ada satupun orang yang bisa selamat. Bahkan sekiranya setiap manusia datang menghadap Tuhan dengan ibadah seluruh manusia, jin dan malaikat digabungkan. Bukankah agar bisa beribadah, manusia masih harus bergantung pada rahmat Tuhan yang tetap harus mereka bayar dengan ketaatan?

Ya Allah! Kami berlindung kepada-Mu dari tipu daya setan dan muslihat hawa nafsu yang selalu mengajak pada keburukan. Lindungilah kami dari tipu muslihat keduanya demi kemuliaan Rasul kekasih-Mu serta orang-orang suci dari keluarga dan sahabat beliau. [ ]

Sumber islamindonesia

from Mozaik Inilah/Pusat Media Islam



from
via Pusat Media Islam
Like Fanpage kami :

Friday, June 26, 2015

Post a Comment
close