Kisah `Berbuka Sambil Sahur` di Negeri Nyaris Tanpa Malam

Saking singkatnya waktu, muslim di negeri ini kerap menyatukan saat berbuka puasa dan dilanjutkan makan sahur.

Dream – Ramadan yang jatuh di bulan Juli ini bisa jadi adalah yang terberat bagi umat muslim di Norwegia. Memasuki bulan Juni dan Juli, beberapa tempat di Norwegia mengalami periode yang disebut Midnight Sun (Matahari Tengah Malam).

Pada momen itu, matahari seolah nyaris tidak tenggelam. Periode itu juga dikenal sebagai masa ekstrem.

Pengalaman itu dirasakan pula oleh beberapa warga negara Indonesia yang tinggal di Norwegia. Salah satunya adalah Safitri Johnsen. Safitri yang tinggal di Tromso, Norwegia Utara mengaku dirinya memang mempersingkat waktu puasa.

“Saur dengan imsak jam 4 pagi dan buka jam 19:00. Tidak kuat lebih dari itu,” kata Safitri yang telah tinggal di Tromso selama lima tahun. Di kota Norwegia utara ini, pada saat musim dingin matahari juga tidak terbit.

Yuwono Putranto, Duta Besar Indonesia untuk Norwegia, menceritakan pengalamannya menjalani Ramadan saat negara itu memasuki periode ekstrem. Yuwono yang tinggal di Oslo, ibu kota Norwegia, harus menjalani puasa selama 20 jam-an.

“Ada yang berbuka pukul 19.00, 20.00, ada yang mengikuti waktu buka setempat pukul 22.47, ada yang mengikuti waktu Mekah atau negara Islam terdekat, biasanya Turki,” kata Yuwono dikutip Dream dari laman BBC Indonesia.

Berlakunya periode ekstrem di Norwegia membuat masyarakat Indonesia punya waktu berbuka yang berlainan. Hal itu, menurut Yuwono, diserahkan kepada keputusan masing-masing.

Di Oslo sendiri, untuk imsak tanggal 23 dan 24 Juni 2015 terjadwal pukul 02.18. Adapun waktu buka puasa, pukul 22.47.

“Saya sendiri ikut yang waktu lokal jadi cukup panjang. Selama minggu ini matahari sinarnya tetap ada terus dan terang,” cerita Yuwono tentang puncak musim panas di Oslo pada tanggal Selasa, 23 Juni 2015.

Saking singkatnya waktu, Yuwono biasanya membatalkan puasa dan langsung dilanjutkan dengan makan malam menjelang tengah malam. Jadi dia berbuka sekaligus sahur. Menjelang imsak, Yuwono tinggal minum.

Meski berpuasa dengan waktu sangat lama, Yuwono terbantu oleh cuaca sejuk Norwegia yang berada di kisaran 17 derajat celcius.

“Suasananya jadi enak dengan cuaca sekitar 17 derajat celsius. Jadi tak ada masalah, seperti biasa saja (puasa dalam waktu panjang ini),” ungkapnya.

Suka artikel ini ?

RELATED NEWS

from dream/Pusat Media Islam



from
via Pusat Media Islam
Like Fanpage kami :

Friday, June 26, 2015

Post a Comment
close