Jamaah Shadiqah dan Qiyadah Rasyidah, Pemicu Kebangkitan Umat

Jamaah Shadiqah dan Qiyadah Rasyidah Pemicu Bangkitnya Umat

Jamaah Shadiqah dan Qiyadah Rasyidah Pemicu Kebangkitan Umat

Oleh : Syaikh Abu Sa’ad al-Amili

Lasdipo.co – Tulisan berikut merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya tentang syarat kebangkitan umat.

Ketika jiwa setiap individu mukmin, betapapun sedikitnya, telah dipenuhi dengan aqidah yang murni ini, maka mereka akan mampu untuk mewujudkan adanya sekelompok orang mukmin yang dengan mereka ini Allah akan memenangkan dien-Nya.

Inilah yang diwujudkan oleh Rasulullah ketika Allah mengutusnya kepada umat manusia. Beliau telah memilih sekelompok orang mukmin yang dalam jiwa mereka telah ditanamkan aqidah yang benar, yang bersih dari segala kotoran dan mengambil langkah-langkah yang sesuai dengan masa saat itu sampai buah itu matang dalam keadaan yang paling baik.

Islam tidak akan tegak eksistensinya kecuali melalui sekelompok orang mukmin yang istiqomah di atas perintah Allah. Kelompok orang  mukmin ini harus memiliki sejumlah sifat tertentu agar kelompok tersebut memiliki kapabilitas dalam memikul amanah perubahan dan kebangkitan yang diharapkan.

Kemurnian aqidah menjadi sifat pertama dan utama (pokok) di antara sifat-sifat dan syarat-syarat ini karena sejumlah individu tidak akan mungkin berkumpul di atas ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya jika aqidah mereka menyimpang atau ada kabutnya.

1. Ikhlas

Di antara bentuk kemurnian aqidah adalah bersikap ikhlas dalam beramal. Bergabungnya seseorang ke dalam jamaah tidak dibangun di atas maslahat atau target-target pribadi atau panggilan hawa nafsu. Maka dari itu, hijrah itu harus karena Allah dan Rasul-Nya dan bukan karena mengharap balasan duniawi.

Sejak  dari  awal  harus ada  pelurusan keterikatan (intima’) seseorang kepada dien ini agar menjadi jelas bagi kita arah dan tujuan yang ingin kita tuju.

Keterikatan kita harus kepada menolong dien ini dan menyebarkan aqidah tauhid walaupun hal itu menuntut kita untuk mengorbankan apa pun yang kita miliki. Kita ini hanyalah sarana yang digunakan oleh Allah untuk mewujudkan penghambaan kepada-Nya di bumi ini.

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan  aku  adalah orang  yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al- An’am: 162-163)

Ikhlas merupakan unsur asasi yang selayaknya terpenuhi di kalangan qiyadah dan anggota (jundiyah) dalam batas yang sama. Sebelum membahas tentang qiyadah rasyidah, harus dibahas terlebih dahulu tentang jundiyah. Mereka  ini  merupakan asas  jamaah yang memikul bangunan yang tak terkira besarnya.

2. Para anggotanya keras kepada orang-orang kafir dan saling mengasihi di antara mereka

Kita tidak akan mungkin mendapatkan ungkapan yang lebih mendalam, lebih menyeluruh dan lebih benar untuk menyatakan keadaan yang selayaknya masing- masing kelompok orang beriman itu berada di atasnya.

Ta’bir qur’any merupakan ta’bir insya’i. Ungkapan semacam itu  pada saat yang  bersamaan merupakan perintah kepada orang-orang mukmin untuk mewujudkannya secara nyata dalam hidup mereka baik dalam dakwah maupun jihad.

Lawan dari keras adalah lembut. Tidak ada kontradiksi dalam hal itu, namun saling melengkapi dan menyeluruh dalam akhlaq dan berinteraksi dengan orang lain.

Bersikap keras dalam menghadapi musuh-musuh dien dan musuh-musuh kebenaran bahkan musuh kemanusiaan merupakan benteng yang kokoh bagi jamaah mukminah. Sebaliknya, bersikap lembut kepada sesama mukmin merupakan unsur kekuatan dan dukungan maknawiah yang mampu mensuplai jamaah tersebut dengan kekebalan diri (imunitas) dalam menghadapi pihak-pihak yang memusuhi.

Oleh karena itu, tidak mungkin bagi sebuah kelompok untuk bisa bertahan menghadapi bahaya dari luar dan dari dalam tanpa adanya proses sementasi (pelekatan yang sangat kuat) sikap lembut dan itsar di antara individu dalam kelompok tersebut.

Tiap individu dalam kelompok itu seperti satu jasad. Masing-masing memiliki  posisi  dan  fungsi  sendiri- sendiri. Kita tidak mungkin tidak membutuhkan satu anggota tubuh dari sekian anggota tubuh yang ada, sebagaimana tidak mungkinnya bagi sebuah anggota tubuh untuk bekerja di luar aturan yang telah Allah tetapkan pada tubuh tersebut kecuali akan menimbulkan gangguan dalam tubuh.

Aturan yang harus dijalankan dalam kelompok mukminah tersebut adalah apa saja yang telah Allah wajibkan kepada kita untuk mentaati-Nya dan mentaati ulil amri di antara kita dalam hal yang makruf serta tidak takut karena Allah terhadap celaan para pencela jika jelas-jelas terdapat hal-hal yang menyelisihi perintah Allah dan perintah Rasul-Nya `.

Dengan demikian, para anggota jamaah itu ibarat para penjaga yang terpercaya bagi kelompok mukminah dari melakukan penyimpangan terhadap kebenaran.

Rep: Muhammad Ishaq
Editor: Muhammad Ishaq

from lasdipo/Pusat Media Islam



from
via Pusat Media Islam
Like Fanpage kami :

Wednesday, July 1, 2015

Post a Comment
close