SIKAP ISLAM TERHADAP IDE NASIONALISME



Kaum Muslim terpecah belah dalam berpuluh-puluh negara, membangga-banggakan bangsanya masing-masing, dan menonjolkan ide tentang nasionalismenya lebih tinggi dibandingkan apa pun. Tidak jarang, nasionalisme dijadikan dalih untuk membela kepentingan orang sebangsa dengan mengabaikan bangsa lain, padahal sama-sama muslim. Bagaimana sikap Islam terhadap ide nasionalisme?

          Islam adalah agama yang bersifat universal. Allah Swt menurunkan dinul Islam kepada Muhammad saw, tidak lain ditujukan untuk seluruh umat manusia. Firman Allah Swt:
]وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ[
Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (TQS. Saba [34]: 28)

Ayat ini menunjukkan kelayakan risalah Islam beserta hukum-hukum Islam di dalamnya bagi seluruh umat manusia, tanpa memperhatikan lagi ras, suku bangsa, bangsa, jenis kelamin, zaman (waktu), tempat dan sebagainya. Syariat Islam sangat layak bagi umat manusia di masa Rasulullah saw hidup, masa sekarang, maupun masa yang akan datang.
          Konsekuensi dari hal itu adalah kewajiban untuk menjalankan dakwah Islam ke seluruh pelosok dunia, ke setiap orang yang tidak menganut agama Islam (orang-orang kafir). Rasulullah saw bersabda:

أعطيت خمسا لم يعطهن أحد قبلي كان كل نبي يبعث الى قومه وبعثت الى كل أحمر وأسود

Aku diberi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku. Dahulu setiap Nabi diutus hanya untuk kaumnya, sedang aku diutus untuk setiap orang, baik yang berkulit merah maupun hitam (untuk seluruh umat manusia)…. (HR. Ahmad)

          Disamping itu, Allah Swt dan Rasul-Nya mempersaudarakan sesama muslim, tanpa melihat lagi bangsa, suku, maupun tempat tinggalnya. Dan kenyataan ini merupakan nikmat tersendiri bagi kaum Muslim yang dianugerahkan Allah Swt.
]إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ[
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. (TQS. al-Hujurat [49]: 10)
]فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا[
Maka menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. (TQS. Ali Imran [3]: 103)

Rasulullah saw bersabda:

المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يسلمه

Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzhaliminya dan tidak boleh membiarkannya dizhalimi (oleh musuh). (HR. Bukhari dan Muslim)

ولا يقتل مؤمن مؤمنا في كافر ولا ينصر كافرا على مؤمن و إن ذمة الله واحدة يجير عليهم أدناهم و أن المؤمنين بعضهم موالي بعض من دون الناس

Seorang mukmin itu tidak boleh membunuh orang mukmin lainnya karena (membela) orang kafir. Seorang mukmin tidak boleh menolong orang kafir untuk (melawan) orang mukmin. Sesungguhnya jaminan (perlindungan) Allah adalah satu, yang menjaungkau orang terendah dari mereka. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah penolong bagi sebagian lainnya. Mereka sangat berbeda dengan manusia lainnya1.

          Seruan Islam adalah seruan yang bersifat universal, yaitu menyelamatkan umat manusia dari kegelapan (kekafiran dan kemusyrikan) menuju cahaya (yaitu dinul Islam). Seruan ini tidak mungkin dipalingkan menjadi seruan yang bersifat kedaerah atau kebangsaan (qaumiyah).
          Nasionalisme merupakan ikatan yang dilandasi pada perasaan emosional manusia yang dimiliki secara bersama-sama dengan manusia lainnya di dalam suatu bangsa2. Ikatan ini lahir dari naluri untuk survive (untuk mempertahankan diri), perasaan senasib dan sepenanggungan, yang mendorongnya untuk melahirkan perlawanan dan keinginan untuk memimpin. Ikatan ini bukan lahir dari suatu pemikiran (ide). malah bisa dikatakan bahwa ikatan nasionalisme itu kosong dari pemikiran.
          Islam telah mengharamkan propaganda kepada nasionalisme (ashabiyah, yakni fanaitsme golongan) maupun kebangsaan (qaumiyah). Islam telah mencela nasionalisme dengan kata-kata yang sangat menjijikkan, sehingga tidak patut dijadikan pengikat bagi kaum Muslim. Celaan-celaan terhadap fanatisme golongan, termasuk di dalamnya adalah ikatan kesukuan dan kebangsaan atau nasionalisme dilontarkan sendiri oleh Rasulullah saw:

من دعا إلى عصبية فليس منا

Siapa saja yang menyeru kepada ashabiyah (fanatisme golongan), maka dia tidak termasuk kita (kaum Muslim). (HR. Abu Daud)

          Islam memasukkan orang-orang yang tengah berperang dan menyerukan ashabiyah, lalu mati, maka matinya sama dengan mati dalam keadaan jahiliah. Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw:
ومن قاتل تحت راية عمية يغضب لعصبية أو يدعو إلى عصبية أو ينصر عصبية فقتل فقتلة جاهلية
Siapa saja yang berperang di bawah panji kejahilan, dia marah karena ashabiyah, atau menyerukan ashabiyah, atau ikut menolong (membantu) dalam rangka ashabiyah, lalu dia mati, maka matinya adalah mati jahiliah. (HR. Muslim)

Seruan kepada nasionalisme atau kebangsaan termasuk seruan-seruan jahiliah, karena pada masa jahiliah, ikatan kesukuan berada di atas segalanya, mengalahkan kebenaran. Berbangga-bangga dengan seruan jahiliah juga dikecam oleh Rasulullah saw, dan dikelompokkan sama dengan hewan-hewan yang menjijikkan yang pekerjaannya mengais-ngais tumpukan sampah, sebagaimana sabdanya:
من تعزى بعزاء الجاهلية فأعضوه هن أبيه ولا تكنوه
Siapa saja yang berbangga-bangga dengan kebanggaan jahiliah, maka hendaklah kalian menyuruh mereka menggigit kemaluan bapaknya, dan janganlah kalian mengatakan hal itu secara samar-samar. (HR. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Thabrani)
لينتهين أقوام يفتخرون بأبائهم أو ليكونن أهون على الله من الجعل يدهده النتن بأنفه
Sungguh hina dina kaum yang membangga-banggakan nenek moyang mereka. Atau mereka itu akan benar-benar menjadi lebih hina di sisi Allah dari pada seekor ju’al (sejenis hewan) yang mengais-ngais sampah dengan menggunakan hidungnya. (HR. Ahmad dan Thabrani)

          Ide nasionalisme adalah ide yang asing bagi kaum Muslim. Ide ini diusung oleh peradaban Barat kafir ke negeri-negeri muslim pada awal masa penjajahan Barat (sekitar abad ke-16). Manuver kaum imperialis itu menjadi satu bagian dari serangan mereka di bidang pemikiran terhadap kaum Muslim. Di satu sisi mereka secara politis dan militer memperlemah kekuatan dan kekuasaan negara Khilafah Islamiyah Utsmaniyah dengan cara menjajah dan mengkapling-kapling negeri-negeri Islam yang satu, menjadi puluhan negara jajahan. Di sisi lain mereka menjejalkan ke dalam benak pemikiran kaum Muslim perasaan/sentimen kedaerahan, kesukuan, dan kebangsaan. Tujuannya untuk memecahbelah kaum Muslim, dan menjauhkan umat Islam dari kebangkitannya di bawah naungan negara yang satu, yaitu negara Khialafah Islamiyah.
          Siapa saja yang mengkaji sejarah Islam di masa negara Utsmaniyah, dan mencermati langkah-langkah imperialis kafir di negeri-negeri muslim yang dijajah mereka, akan menjumpai penyebarluasan propaganda kebangsaan atau nasionalisme. Merekalah yang menyerukan rasa bangga akan negeri Mesir dan peradaban Fir’aun sehingga diikuti oleh kaum Muslim Mesir; mereka juga yang mempropagandakan sentimen ke-Melayuan, ke-India-an, ke-Pakistan-an, ke-Indonesia-an, dan lain-lain. Kaum imperialislah yang berada di belakang tumbuh dan berkembangnya gerakan-gerakan nasionalisme di dunia Islam. Kaum imperialis meninggalkan wilayah jajahannya dengan menanam benih-benih yang bakal mereka panen di kemudian hari.
          Kita juga akhirnya mengerti bahwa kemerdekaan banyak bangsa –yang seluruhnya adalah kaum Muslim- pada periode tahun 1940-an dan 1950-an merupakan panen pertama bagi para penjajah; yaitu terhalangnya umat Islam oleh dinding yang sangat tebal untuk bangkit kembali menjadi sebuah peradaban besar di bawah satu bendera, bendera negara Khilafah. Umat Islam terpecah belah menjadi puluhan negara, yang memiliki banyak pemimpin/penguasa, berbeda-beda UU dan konstitusinya, padahal agama mereka satu, Tuhan mereka juga satu, dan peraturan mereka (yakni syariat Islam) juga satu. Lalu, atas dasar apa mereka berpecah belah dan terkotak-kotak menjadi puluhan negara?
          Berdasarkan hal ini, nasionalisme atau sentimen kebangsaan, kesukuan, golongan, ras dan sebagainya tidak mempunyai tempat di dalam Islam, dan bertolak belakang dengan ajaran Islam. Ikatan yang harus kita tumbuhkan di tengah-tengah masyarakat muslim adalah ikatan ukhuwah Islamiyah, yaitu ikatan yang menyatukan seluruh orang muslim berdasarkan akidah dan sistem (hukum) Islam yang diterapkan secara praktis di dalam Daulah Islamiyah. Selain ikatan Islam adalah bathil!
]وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ
مِنَ الْخَاسِرِينَ
[
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (TQS. Ali Imran [3]: 85)




1 Ibnu Hisyam., Sirah Nabi saw., jilid I/501., Darul Fikr
2 Taqiyuddin an-Nabhani., Nizham al-Islam., p. 21., Hizbut Tahrir

Like Fanpage kami :

Friday, October 30, 2015

Post a Comment
close