DIANTARA EUFORIA ERDOGAN DAN GELAGAT PARA FANS



Mengawali perbincangan tentang Erdogan, kiranya kita harus sedikit nakal dan cekatan merangkai logika-logika yang patah dibenak pemirsa dunia maya, kemudian memaparkan kekeliruan para ‘bobotoh’ Erdogan dalam menyikapi berita secara kalem dan santun. Pasalnya, porsi sentimental dari isu ini jauh lebih besar daripada fakta dan analisis yang ada, sehingga jika terlalu galak takutnya akan banyak yang terluka, ya, ibarat remaja alay putus cinta.

Bismillah, dari bangunan kehati-hatian yang akan coba saya ikhtiyarkan ini ada baiknya jika kita bersama-sama berangkat dari konsep dasar dalam menerima informasi pemberitaan. Adapun bangunan yang harus kita dirikan pertama kali adalah sikap skeptis dan runut, bukan ber-‘talaqqiy’ dengan lapang dada. Munculnya kecemasan yang berlarut dari hal ini disebabkan kegiatan mengindra fakta tanpa memiliki pemikiran yang berkaitan dengan fakta tersebut, dalam istilah lainnya disebut ‘ihsas ash-sharf’ (penginderaan murni). Dalam tradisi penginderaan terhadap fakta merupakan hal yang jorok dan gegabah jika kita menggunakan kacamata ‘ihsas ash-sharf’ dan meninggalkan penginderaan intelektual yang tersistematis –karena penginderaan intelektual didasari oleh pemikiran yang komprehen. Dasar dari penginderaan inilah yang mampu membedakan tajam atau tidaknya sebuah pisau analisis, dari sini jugalah bisa diklasifikasikan golongan pemikir dan golongan cheleader yang hanya jingkrak-jingkrak meramaikan.

Untuk mempersingkat waktu dalam memahami isu Erdogan ini, saya katakan: tidak sesederhana layaknya jilatan fans pada idola. Selanjutnya, mari kita bahas yang lainnya.

Erdogan dan ‘Mantiqul ihsas’

Tidak dipungkiri gejolak dunia Islam saat ini sangat membuncah, arus kebangkitan Islam digadang-gadang sebagai gelombang baru yang akan menggantikan sekaligus mematikan peradaban kapitalisme yang despotik ini, tak terkecuali gemuruhnya juga terasa Turki. Menangnya partai AKP dalam pemilihan tempo hari dengan suara lebih dari 49% nyaris membuat harapan dan decak kagum membumbung, sebagai bukti bahwa kebangkitan Islam sebentar lagi. Sedikit lagi. Kita patut bangga, ya, kita patut bersuka cita seandainya berita ini betul adanya.

Meskipun demikian, agaknya kita harus lebih dewasa dalam bersikap, kedewasaan ini muncul manakala kita tidak memisahkan perbuatan dari pemikiran atau dari tujuan kita: kebangkitan Islam. Manakala kita melenceng sedikit saja, tergiur dengan alasan kekeliruan yang sedikit tidak berdampak, maka sudah bisa dipastikan apa yang kita cita-citakan tidak akan tercapai. Oleh karena itu perlu adanya peninjauan kembali terhadap asas berpikir kita sehingga yang kita gunakan adalah pemikiran yang lahir hanya dari ‘ihsas al-fikry’. Ihsas al-fikriy maksudnya adalah tentang hakikat penginderaan kita yang dibangun oleh seperangkat konsep yang rinci dan nyambung, yang kokoh dan pakem, yang sesuai dan tidak mengawang, yang terisi oleh bangunan pemikiran Islami saja!. Dalam kasus Erdogan dan kaitannya dengan mantiqul ihsas ini adalah seberapa jauh kita menembus fakta dan menepis sentimen golongan yang amat telanjang. Mantiqul Ihsas merupakan asas berpikir yang berpijak pada pandangan terhadap fakta yang begitu jelas dan waspada.

Sudah barang tentu yang akan kita kaji dari Erdogan tidak terbatas pada kepribadiannya sebagai seorang muslim, namun merembet pula pada sejauh mana kiprah dia dalam berpolitik dan membawa Negara Turki saat ini. Logikanya, sebuah wilayah dan rakyat akan sangat bergantung pada pemimpinnya, maka menilai Islami atau tidaknya, bangkit atau mundurnya kepemimpinan Erdogan ini tentu menggunakan standar benar berupa syariat Islam yang tidak hanya level individu. Syariat Islam merupakan bangunan sistem yang sangat agung dan paripurna, berisi pengaturan rinci terhadap individu dengan dirinya, individu dengan Allah, maupun individu dengan lingkungan sosial. Dari sinilah Islam kaaffah menjadi pilihan mutlak, dan dari sini pula syariat yang satu tidak bisa terpisah dari yang lain. Maka dari itu apa yang disinggung sebagai mantiqul ihsas disini adalah jernihnya melihat fakta dan melakukan kerja pemikiran dengan standar benar yang hanya syariat Islam saja.

Masalahnya, jika kita tinjau secara fakta, Erdogan sebelum menjadi presiden menjabat sebagai perdana menteri selama 11 tahun, karir yang cukup panjang untuk mengetahui seluk beluk negaranya. Dan secara fakta pula, hingga kini jika berbicara tentang Turki, maka akan didapati fakta: pertama, Turki merupakan salah satu Negara muslim di eropa yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, kedua, Turki (dalam hal tertentu) merupakan agen AS jika ditinjau dari keanggotaan NATO, ketiga, Turki disebut-sebut oleh Obama termasuk dalam kategori 5 partner terbaik AS. (lihat: beberapa catatan dari theglobal-review.com). Dari sini kemudian kita akan kembali berpikir bahwa mengatakan Islami terhadap negara yang masih bersekutu dengan kafir harbi ibarat menyantap oseng-oseng daging sapi yang dicampur babi, lalu kita mengacungkan jempol dan mengatakan ‘mantaaaaaffff’ dengan bangga. Adapun lebih jauhnya dalam definisi islami atau tidaknya sebuah negara tidak bisa dilihat dari hitungan kuantitatif berupa mayoritasnya muslim, terlebih bersandar pada hitungan hasil gambling di meja judi demokrasi.

Oleh sebab itu, mantiqul ihsas terhadap isu Erdogan ini sangat berpengaruh besar terhadap kebangkitan. Dan saya jadi merenung: mungkin saja, mungkin saja dulu kita marah, kawan dan ustadz kita marah terhadap keterpecahan umat Islam bukan benar karena kita terpecah, namun kita terlanjur basah di ladang pemikiran dogmatis dan apologetik, membela membabi buta atas alasan kebangkitan tanpa fikrah yang jelas dan thoriqoh yang padu.

Hebohnya para fans dan pertempuran opini

Efek kejut yang saya rasakan dari isu Erdogan ini adalah digunakannya rasa kagum menjadi landasan dalam mengejawantahkan rasa lewat perspektif emik. Cara pandang yang berasal dari responden dengan tafsiran penginderaan murni inilah yang menjadi benalu. Kemudian banyak sorak sorai dukungan dan kebanggaan, dari sini muncul rasa simpati tanpa alasan yang jika diganggu akan marah dan wajib membela. Pasalnya, tidak akan pernah bisa Turki diagungkan secara lebay sementara ia sendiri telah mengadakan paket politik komprehensif dengan AS, ini bisa dilihat dari penyerangan Turki pasca ledakan di Suruc. Maka hebohnya teriakan para fans dengan motif apapun sebetulnya tidak bisa dikatakan sebuah alasan. Kemenangan AKP pada pemilihan tempo lalu hanyalah sebuah percikan yang melahirkan dalih, dan bukan motif. Dan teriakan demi teriakan pengagungan yang terdengar takutnya membuat kerongkongan kering dan menyebabkan suara hilang. Jadi jangan lupa minum komix biar tidak batuk-batuk.

Wallahu a’lam.

Aab Elkarimi (Aktipis Warkop Burjo | penulis buku ‘Gerakan Menolak Sembrono‘)
Like Fanpage kami :

Tuesday, November 3, 2015

Post a Comment
close