ARAB SAUDI DAN INDONESIA, PELAYAN KEPENTINGAN PENJAJAH



Jika ditarik garis politik secara ideologis, ada dua kejadian yang memiliki motif sama, antara Arab Saudi dan Indonesia.

Di Hotel Riyadh terjadi konferensi yang mendudukkan faksi-faksi Suriah untuk gencatan senjata, berunding, menyepakati format negara untuk Suriah, yakni masyarakat sipil Demokrasi.

Selanjutnya, Arab Saudi juga mengumumkan dibentuknya aliansi militer 34 negara untuk memerangi apa yang mereka sebut "terorisme'.

Sementara di Jakarta, terjadi skandal "papa minta saham", yang memaksa Ketua DPR Setya Novanto mundur dari jabatan. Diikarenakan adanya rekaman yang diduga permintaan saham PT. Freeport sebesar 20%, yakni 11 % untuk Joko Widodo dan sisanya untuk Jusuf Kalla. Permintaan saham tersebut sebagai konpensasi untuk perpanjangan operasional kontrak PT. Freeport yang telah beroperasi sejak tahun 1967.

Ujung dari dua kejadian ini tidak memiliki kebahagiaan hakiki buat umat Islam. Konferensi yang disponsori oleh Arab Saudi di Riyadh, jelas-jelas bertujuan untuk mengaborsi Revolusi Islam di Suriah. Kemudian membentuk Negara demokrasi sekuler yang tidak berdasarkan hukum Islam. Ini jelas bertentangan dengan tujuan revolusi Sham yang diberkati.

Arab Saudi telah berkoordinasi dengan Turki, dan Qatar mengumpulkan fraksi untuk mendapatkan kepercayaan Barat (AS). Hal itu mereka lakukan meskipun Muslim Palestina memanggil tentara mereka. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap Allah, Rasulullah, Muslim Suriah, Palestina, serta kaum muslimin seluruhnya.

Demikian pula dengan apa yang terjadi atas hingar bingarnya PT. Freeport di Jakarta. Lengsernya Setya Novanto jelas bukan solusi persoalan. Dan nyatanya idzin operasional PT. Freeport tetap diperpanjang. Drama yang dimainkan oleh para pencari "rente" ini tidak lebih dari tontonan nyata pengkhianatan penguasa negeri ini. Dalam rangka berkhidmat kepada Barat, Amerika Serikat. PT. Freeport merupakan "pabrik pencurian" Amerika Serikat atas kekayaan negeri muslim ini.

Penguasa Arab Saudi dan Penguasa Indonesia pada prinsipnya tidak jauh berbeda. Fokus mereka hanya untuk kepentingan singgasana mereka. Mereka terus berupaya agar tetap "dapakai" oleh majikannya. Cara yang mereka lakukan juga mirip, dengan berkhidmat kepada tuannya, seraya berkhianat terhadap rakyatnya.

Kaum muslim yang dirahmati Allah, mari kita renungkan sabda Rasulullah saw;

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّة

"Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidlah turut bicara." Lalu beliau ditanya, "Apakah Ruwaibidlah itu?" beliau menjawab: "Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum."(HR. Ibnu Majah). []

H. Luthfi Hidayat, SP. MP.


Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Monday, December 21, 2015

Post a Comment
close