Arah Pembajakan Intelektual Era MEA: Buruh Kapitalisme



Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) Kota Bandung bersama LDK UMMI UNIKOM kembali mengadakan Jendela Dakwah Kampus (JDK). Bertempat di Auditorium Miracle Universitas Komputer Indonesia (22/12), JDK kali ini mengangkat tema mengenai “Arah Pembajakan Intelektual Era MEA: Buruh Kapitalisme”, dengan menghadirkan pembicara antara lain Rezaldi Harisman (Analis Muslim Analyze Bidang Pendidikan), Ridwan Rustandi (Ketua Hima Persis Jawa Barat) dan Saeful Anwar (Ketua BE BKLDK Kota Bandung).

Asean Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sempat menjadi perbincangan nasional di awal tahun 2015, walaupun memang wacana ini sudah digulirkan sejak era presiden sebelumnya. Namun, seiring berjalannya waktu tema MEA seolah hilang dari pembicaraan. Padahal, MEA akan segera dibuka. Lantas bagaimana kesiapan Indonesia dan apa sebenarnya MEA itu? Pembajakan intelektual seperti apakah yang terjadi dengan adanya MEA ini? Maka hal tersebut yang kembali didiskusikan dalam JDK edisi 7 ini.

“Keikutsertaan Indonesia dalam MEA semakin memperjelas bahwa sistem ekonomi yang dianut negeri ini adalah Kapitalisme Liberal”, tutur Rezaldi. Ia juga menambahkan bahwa yang sangat diuntungkan dengan adanya MEA ini adalah negara-negara maju yang memainkan bisnis di kawasan Asia Tenggara dengan memanfaatkan negara-negara asia tenggara.

“Ikut serta dalam MEA tanpa didukung dengan persiapan politik yang matang bukanlah kebijakan politik, tetapi Bunuh Diri Politik”, tegas Rezaldi.

Hal senada juga disampaikan oleh Ridwan bahwa MEA adalah salah satu bentuk penunjang neo-kapitalisme dan neo-liberalisme dengan ditandai oleh adanya privatisasi, liberalisasi, dan deregulasi. “Pertukaran barang dan jasa, investasi, serta tenaga kerja akan semakin bebas”. Sistem Kapitalisme-Liberal menempatkan negara sebagai regulator untuk menunjang kepentingan para Kapitalis.

Adapun Indonesia digambarkan oleh sebagian intelektual yang mempunyai kepentingan seolah-olah siap, namun pada faktanya belum ada langkah-langkah strategis yang diambil oleh pemerintah untuk menghadapi MEA. “Kondisi pendidikan Indonesia masih jauh dari harapan”, tambah Ridwan.

Hal ini terbukti dengan masih tingginya angka buta huruf di daerah dan hanya 1,7 juta anak yang lulus SMA dari 4,3 juta anak yang masuk SD setiap tahunnya.

“MEA sama halnya dengan pasar bebas”, tutur Saeful. Dimana kepemilikan harta diserahkan kepada mekanisme pasar bebas. Disinilah MEA merupakan mekanisme pengelolaan ekonomi berdasarkan paradigma kapitalisme yang berbeda dengan Islam.
“Adapun terkait kerjasama dalam bidang ekonomi dengan negara lain, maka negara Islam akan melihat status negara yang bersangkutan” tambah seaful.

Acara yang dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai kampus di kota Bandung ini, berlangsung hangat dengan tanya jawab dari peserta.

“Solusi sistemik sangat dibutuhkan dalam menghadapi berbagai persoalan yang mendera Indonesia, Asia Tenggara Bahkan Dunia, solusi yang akan mengeliminasi Kapitalisme termasuk perangkap MEA yang dimainkannya”, tutup Saeful. [] DS.

sumber: bdg.news

Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Wednesday, December 30, 2015

Post a Comment
close