CIIA: Keterlibatan Polisi Asing dalam Penangkapan Terorisme Nodai Kedaulatan RI



KABAR keterlibatan polisi asing dalam operasi penangkapan terorisme di Sukoharjo menjadi sorotan berbagai pihak. Hal ini membuktikan ada persoalan serius dalam penanganan terorisme di tahun 2015.

“Ada bukti dan banyak kesaksian dari awak media di lapangan tentang keterlibatan Polisi asing saat penangkapan di Sukoharjo. Ini berpotensi melanggar UU,” ujar Direktur the Community Ideologycal Islamic Analyst, kepada Islampos.com, Rabu (28/12).

Dikatakan Harits, kalau merasa tidak mampu, Polri seharusnya bisa minta bantuan TNI dulu. Untuk kerjasama dengan negara lain masih wajar jika di tataran tukar menukar info atau diklat saja.

“Tapi kalau sudah tindakan operasional selain aspek jurisdiksi aspek pertanggungjawaban anggaran juga pasti banyak potensi pelanggaran,” tukasnya.

Harits menyarankan agar Komisi I atau III DPR RI memberi perhatian masalah ini. Jangan sampai hanya karena faktor dolar kemudian penegakkan hukum berjalan sesuai keinginan asing atau mengakomodir keinginan asing langsung atau tidak langsung.

“Kedaulatan negara bisa runtuh hanya karena dolar,” tukasnya.

Seperti diberitakan, laporan keterlibatan Polisi Australia muncul saat Densus 88 menggerebek Budiyanto alias Abdul Karim pada hari Sabtu, (19/12/2015) di Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo. Sejumlah wartawan mengaku, melihat sejumlah polisi asing dalam operasi Densus 88 tersebut.

Dalam kesempatan terpisah Juru bicara Kepolisian Rl Anton Charliyan membantah adanya laporan itu. Anton mengklaim, pihaknya memang mencium rencana penyerangan teroris antara lain ke kantor-kantor polisi dan terhadap pejabat pemerintahan, termasuk Presiden Joko Widodo. Penangkapan itu dilakukan setelah Polri mendapat informasi dari polisi federal Amerika Serikat, FBI, dan Kepolisian Australia.
sumber: islampos
Like Fanpage kami :

Wednesday, December 30, 2015

Post a Comment
close