Ketika Hakim Tak Takut Menghadirkan Khalifah ke Persidangan


Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Tak ada hukum yang lebih adil, melebih keadilan hukum Islam. Hukum Islam tak hanya tajam ke bawah, tetapi juga tajam ke atas. Hukum Islam tidak pandang bulu. Semua orang mempunyai kedudukan yang sama di mata hukum. Maka, tak ada lagi bedanya pejabat dan rakyat jelata, Khalifah maupun orang biasa. Islamlah juga satu-satunya yang konsisten menerapkan asas praduga tidak bersalah. Karena itu, siapapun tidak boleh dituduh, dan dijatuhi hukuman, sebelum terbukti secara sah bersalah.

Hakim di dalam negara Khilafah adalah orang yang terhormat, dan sangat disegani. Mereka begitu berwibawa, karena prinsip dan ketakwaannya. Bahkan, Khalifah pun tak berkutik di hadapan mereka. Sebut saja, Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, yang merupakan penerus ‘Abbas as-Saffah, dari Bani ‘Abbasiyyah. Beliau bukan Khalifah biasa, karena beliau adalah pendiri Baghdad, ibukota Khilafah ‘Abbasiyyah. Beliau pernah bersengketa dengan para kuli pengangkut barang, yang tak lain adalah rakyatnya.

Para kuli pengangkut barang ini ada di Madinah. Khalifah sendiri berdomisili di Baghdad. Beliau menginstruksikan kepada para kuli pengangkut barang itu untuk meninggalkan Madinah, dan pergi ke Syam. Namun, titah itu ditolak oleh para kuli barang. Para kuli itu tidak ingin meninggalkan Madinah, dan pergi ke Syam. Selain itu, menurut mereka, pekerja yang harus mereka pikul itu juga berat. Jadi, secara fisik menurut mereka ini berat, begitu juga secara psikologis pekerjaan ini juga berat, karena harus meninggalkan Madinah.

Pendek kata, kasus ini kemudian diajukan oleh para kuli pengangkut barang itu ke pengadilan di Madinah. Hakim Madinah ketika itu dijabat oleh Muhammad bin ‘Imran at-Thalhi. Khalifah pun akhirnya dipanggil oleh Hakim ‘Imran untuk datang ke pengadilan di Madinah. Dari Baghdad, beliau berangkat ke Madinah. Sebelum sampai di tempat, beliau mengingatkan sekretarisnya agar tidak memanggilnya dengan sebutan “Amirul Mukminin” atau “Khalifah”. Tetapi, cukup panggilan dengan nama aslinya saja, Abu Ja’far al-Manshur.

Khalifah pun memenuhi panggilan hakim Madinah. Ketika di pengadilan, Hakim ‘Imran pun memperlakukannya seperti rakyat yang lain, tak ada yang istimewa. Tak ada penyambutan, atau berdiri ketika beliau memasuki ruang persidangan. Pendek kata, benar-benar diperlakukan sama dengan rakyat biasa. Padahal, kasus ini melibatkan beliau sebagai pejabat negara. Akhirnya, persidangan pun dimenangkan oleh para kuli pengangkut barang. Sang Khalifah pun kalah di persidangan.

Karena dalam sistem peradilan Islam tidak ada mahkamah banding, atau PK, maka keputusan Hakim ini mengikat. Suka atau tidak, Khalifah pun tunduk dengan keputusan Hakim ‘Imran. Baru setelah semuanya selesai, Hakim pemutus perkara tersebut berdiri memberikan ucapan salam kepada Khalifah. Khalifah pun tidak marah dengan jalannya persidangan, bahkan sebaliknya mendukung penuh sikap dan tindakan Hakim ‘Imran. Tak hanya itu, beliau pun mendoakan keberkahan untuk Hakim ‘Imran, serta memberi hadiah 1,000 Dinar [1000 x 4,25 x 500,000 = Rp. 2,125 milyar].

Begitulah, sistem peradilan dalam Islam. Para hakim pun berwibawa. Pada saata yang sama, para Khalifah dan pejabat negara pun tunduk dan hormat kepada mereka. Karena itu, tak ada yang berani mempermainkan hukum, hakim dan pengadilannya. Hukum benar-benar menjadi panglima. Bandingkan dengan hukum, hakim dan pengadilannya di zaman kita!
Like Fanpage kami :

Wednesday, December 2, 2015

Post a Comment
close