NASIONALISME, MENGHANCURKAN UMAT ISLAM (Studi TURKI-SURIAH)



Jangan tergesa-gesa mengagumi bahkan menyanjung seorang pemimpin di era Demokrasi Kapitalis. Keberhasilan mereka hanya pada tampak Accessories verbal, bukan pada perkara strategis (kemiskinan, pendidikan dll) sementara pemilik modal mengangkat keberhasilan pada sisi accessories verbal, agar masyarakat menyangjung nya.

Jangan tergesa-gesa mengagumi bahkan menyanjung seorang pemimpin yang tampak islami di era Demokrasi Kapitalis. Sebelum ia membuktikan pembelaan (perbuatannya bukan lisannya) terhadap islam.

sebagai kasusnya adalah Negara Turki (ex Khilafah Utsmaniah).
Juru bicara pemerintah sementara Turki, Bulent Arinc, menyatakan bahwa negaranya akan membangun tembok pemisah disepanjang perbatasan Suriah.

“ akan tetapi tembok penghalang tersebut akan dilengkapi dengan semua sarana teknologi terbaru, dan jika tetap tidak membantu kita akan menggunakan sarana teknologi lainnya,” ujar Bulent Arinc.
Bulent Arinc menambahkan, “Kami berjanji bahwa tembok ini akan membantu kita untuk mencegah aksi terorisme dari wilayah Suriah yang menargetkan Turki sebagai negara tetangga.”
Pembangunan tembok pembatas ini sesuai dengan berita yang diturunkan surat kabar Milliyet Turki pada tanggal 27 Juni 2015, yang menyatakan bahwa tembok pembatas dibangun dengan ketinggian 3,5 meter meliputi wilayah Hatay , Kilis, Gaziantep dan Şanlıurfa dilengkapi dengan kamera pengawas dan kawat berduri. (Almasryalyoum/Ram).



Nasionalisme, biangnya!

pemisahan kedua negara terjadi karena rasa nasionalisme yang memang telah diagendakan oleh penjajah kafir Barat.

Nasionalisme adalah ide bathil yang merupakan strategi Barat untuk melemahkan kekuatan Islam. Sehingga meskipun mereka mempunyai aqidah yang sama yakni Islam, tetapi perasaan bersaudara diantara sesama muslim menjadi pudar. Fakta minimnya rasa solidaritas sesama muslim, dapat disaksikan dari kurang pedulinya kaum muslimin dunia terhadap penjajahan dan pembunuhan oleh bangsa kafir terhadap kaum muslimin di Palestina, Afghanistan, Iraq, Moro-Philipina, Pattani-Thailand, Ambon-Indonesia, Uzbekistan, Chechnya, dll. Padahal konsep Islam: ”Innamal mu’minuuna ikhwah”, sesama mukmin bersaudara.

DR. Syafiq A. Mughni dalam “Sejarah kebudayaan Islam di Turki” menyatakan bahwa pada dasarnya bangsa Arab mempunyai ikatan nasionalisme yang kuat, kemudian datang Islam yang membawa konsep “ummah” yang mengesampingkan ikatan nasionalisme dan menyatukan dalam ikatan aqidah, Islam juga tidak mengenal batas wilayah.

Sayyid Quthb dalam ”Fiqih Dakwah” juga menjelaskan bahwa perjuangan Rasulullah saw tidak membawa-bawa nasionalisme. Rasulullah saw bisa saja menggunakan rasa Nasionalisme Arab dalam menyatukan penduduk Makkah, karena adanya ancaman 2 super power Rumawi dan Persia. Setelah penduduk Makkah bersatu (kaum musyrik Quraisy dan muslimin) maka Rasulullah saw mempunyai kesempatan luas untuk berda’wah dikalangan Quraisy, tetapi Rasulullah saw tidak melakukannya.
Rasulullah sangat membenci nasionalisme seperti ini, beliau memarahi sahabat yang menghina sahabat lain karena kebangsaannya, warna kulitnya atau sukunya. Beliau tidak membedakan Abu Bakar dan Umar yang Arab, Salman yang Persia, Shuhail yang Rumawi, Bilal yang negro (Habasyah Afrika), semuanya sama dihadapan Rasulullah saw. Islam hanya mengenal satu ikatan, yaitu Aqidah Islam. Hanya ikatan aqidah ini yang abadi, nasionalisme akan luntur ikatannya saat tidak ada lagi ancaman dari luar.

Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada ‘ashabiyyah (nasionalisme/sukuisme), orang yang berperang karena ‘ashabiyyah, serta orang yang mati karena ‘ashabiyyah (HR Abu Dawud).

Walhasil, seharusnya sesama muslim merasakan penderitaan muslim lain, apapun kebangsaan dan sukunya. Apalagi sesama muslim tidak boleh saling berperang, karena ketika dua orang muslim saling membunuh maka pembunuh dan yang dibunuh keduanya masuk neraka.
Apabila dua muslim berhadap-hadapan dengan senjata, maka pembunuh dan yang dibunuh keduanya di neraka. Aku (Abu Bakrah) berkata; ‘Wahai Rasulullah kalau yang membunuh itu sudah jelas berdosa, tapi bagaimana dengan yang dibunuh’. Beliau bersabda; ‘Iapun berdosa, karena telah bermaksud membunuh saudaranya’ (HR Muslim).

Seharusnya sesama muslim bersaudara dan menyatu dalam satu aqidah Islam, bahkan negeri-negeri kaum muslimin diseluruh dunia-pun seharusnya bersatu dalam satu pemerintahan Islam yakni Khilafah Islamiyah. Yakni sistem Islam yang telah diterapkan pertama kali di Madinah oleh Rasulullah saw, sistem Islam ini kemudian dilanjutkan oleh para sahabat utama (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) yakni Khulafaurrasyidin, kemudian dilanjutkan oleh para Khalifah dari Bani Umayah, Abassiyah (Iraq dan Mesir) dan terakhir Utsmaniyah di Turki. Kekhilafahan terakhir dihancurkan oleh Inggris melalui tangan seorang Yahudi Kemal Attaturk pada tahun 1924.

Telah lebih 80 tahun kaum muslimin tidak mempunyai satu kepemimpinan (Khilafah Islamiyah), sehingga kaum muslimin mudah dipecah-belah, dihina-dinakan, didzalimi, dikuras kekayaan alamnya, bahkan dibunuh tanpa mempunyai cukup kekuatan untuk melawan kafir penjajah. Kaum muslimin lemah karena bercerai-berai dalam banyak negara, bahkan sesama muslim sendiri bertengkar. Saatnya kaum muslimin menyadari bahwa perlunya bersatu dalam Khilafah Islamiyah dan diterapkannya hukum-hukum Allah swt dalam pemerintahannya, sehingga Allah swt melimpahkan rahmat-Nya dan kita selamat dunia-akhirat.

Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (Al-A’raf 96).

Persatuan Ummat Islam atau Persatuan Bangsa (Nasionalisme)

Ketika Allah berbicara mengenai persatuan di dalam Al-Qur’an jelas bahwa yang dikehendaki ialah muncunya suatu kesatuan berdasarkan ikatan yang jelas dan hakiki. Allah tidak pernah menyuruh manusia untuk menjadikan hal-hal primordial sebagai sebab atau ikatan jalinan yang menumbuhkan persatuan antar manusia. Allah memang menyebutkan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, namun Allah tidak pernah menyuruh kita untuk menjadikan faktor suku atau bangsa sebagai faktor perekat. Eksistensi suku dan bangsa yang beraneka ragam di tengah pergaulan antar manusia merupakan sebuah fakta yang tak terelakkan, tetapi bukan berarti persatuan
berdasarkan kesamaan suku atau bangsa merupakan persatuan yang dianjurkan apalagi diperintahkan oleh Allah maupun RasulNya. Malah sebaliknya kita temukan sebuah hadits yang mencela persatuan sekedar berdasarkan fanatisme golongan, baik itu golongan berdasarkan kesamaan bangsa, suku atau warna kulit.

“Tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyeru kepada ashobiyyah (fanatisme golongan). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang berperang atas dasar ashobiyyah (fanatisme golongan). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang terbunuh atas nama ashobiyyah (fanatisme golongan).” (HR Abu Dawud 4456)

Islam mengajarkan ummatnya untuk menjadikan tali Allah sebagai faktor perekat antara satu sama lain sesama orang-orang beriman. Yang dimaksud dengan tali Allah ialah nilai-nilai yang bersumber dari ajaran sempurna Al-Islam. Islamic values merupakan satu-satunya sebab orang-orang beriman pantas dan layak bersatu dan berjamaah. Percuma kita meneriakkan slogan persatuan ummat Islam bilamana kita menyuruh mereka untuk mengikatkan diri kepada tali selain tali Allah alias ajaran Islam. Allah bahkan mengancam bahwa kondisi tercerai-berai pasti akan muncul bilamana kita berpegang kepada selain tali Allah.

”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai...” (QS Ali Imran ayat 103)

Allah mengancam bahwa segala bentuk persahabatan, persekutuan, koalisi, pertemanan, perkoncoan, aliansi, kemitraan akan berakibat kepada saling bermusuhan kelak di hari berbangkit, kecuali bila menjalin persahabatan yang berlandaskan taqwa kepada Allah semata. Mereka yang menjalin hubungan semata berlandaskan taqwa kepada Allah akan akrab di dunia dan tetap akrab di akhirat.
”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf ayat 67)

Persahabatan yang berlandaskan taqwa kepada Allah seringkali disebut sebagai Al-Ukhuwwatu Fillah (Persaudaraan dalam/karena Allah). Mengapa? Karena mereka yang bersaudara karena Allah adalah orang-orang yang sadar bahwa sesungguhnya Allah-lah sebab bersatu yang hakiki dan abadi.
”dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Anfal ayat 63)

Orang-orang yang bersatu bukan berdasarkan tali Allah akan bersatu sebatas masih tersedianya ”kekayaan” yang mempersatukan mereka. Kekayaan merupakan simbol dari ”kepentingan duniawi” yang sifatnya sementara bahkan sesaat. Begitu kepentingan tersebut telah menghilang, maka mereka akan segera tercerai berai dan hilang kesatuannya. Bahkan tidak kadang perpecahan serta permusuhan akan segera tampak selagi masih di dunia tanpa menunggu datangnya hari berbangkit.
Sedangkan orang-orang beriman tidak pernah tertipu. Mereka sangat faham dan sadar bahwa segala kepentingan dunia sifatnya adalah kesenangan sementara dan menipu. Maka mereka tidak akan mau menjalin bentuk persatuan, perkoncoan, pertemanan, aliansi, koalisi atau apapun namanya kecuali bila jelas bahwa yang jadi sebab dan landasan bersatu adalah Allah semata. Sebab Allah adalah Dzat Yang Maha Hidup. Jika kita menyatukan diri satu sama lain hanya karena Allah, maka kita akan merasakan keakraban yang melampaui batas-batas ruang dan waktu, sebab sampai kapanpun dan dimanapun Allah tetap hadir dan mendampingi mereka yang bersatu karena Allah. Sekalipun sudah sama-sama meninggal dunia, namun kelak ketika dibangkitkan di hadapan Allah mereka yang saling bercinta, bersaudara serta bersatu hanya karena Allah akan mendapati Allah sebagai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang di hari tersebut. Mereka tidak akan memiliki rasa takut, khawatir dan resah saat semua orang lainnya dalam keresahan dan ketakutan di hari Kiamat. Bahkan Allah akan menjadikan mereka sebagai orang-orang istimewa yang dibanggakan dan dilimpahkan cahayaNya. Sedemikian istimewanya kedudukan mereka sehingga menimbulkan kecemburuan dari para Nabi dan para Syuhada.

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat mereka yang bukan para Nabi maupun para Syuhada, namun para Nabi dan para Syuhada cemburu dengan mereka di hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah.” Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kabarkanlah kepada kami, siapakah mereka? “ Beliau bersabda: ”Mereka adalah kaum yang saling mencinta dengan ruh Allah, mereka tidak diikat oleh hubungan keluarga di antara mereka maupun harta yang mereka kejar. Maka, demi Allah, sungguh wajah mereka bercahaya, dan mereka di atas cahaya. Mereka tidak takut saat manusia ketakutan. Dan mereka tidak bersedih saat manusia bersedih.” Lalu beliau membacakan ayat: ”Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak merasa takut dan tidak bersedih hati.” (HR Abu Dawud 3060)

Saudaraku, sudah tiba masanya bagi ummat Islam, dimanapun dan kapanpun, untuk menyadari hal fundamental ini. Kita selama ini telah tertipu bila menyangka masih ada ideologi lain yang mampu mempersatukan manusia. Apapun nama ideologi tersebut. Oleh karenanya, marilah kita kembali meneladani sunnah Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam dalam segala hal, termasuk dalam hal menjalin ikatan persahabatan dan mewujudkan persatuan.

Ideologi Nasionalisme itulah yang sempit dan primordial. Kenapa? Karena ia hanya sibuk dengan satu bangsa saja dan mengabaikan bangsa-bangsa lainnya yang sesama muslim. Sedangkan Islam datang justeru untuk mempersaudarakan ummat manusia dari aneka latar belakang suku dan bangsa.
Lihatlah sejarah, bagaimana Islam telah mempersaudarakan sahabat Umar bin Khattab dari bangsa Arab, Salman Al-Farisi dari Persia, Shuhaib Ar-Rumi dari bangsa Romawi dan Bilal bin Rabah dari Ethiopia. Jika hari ini kita lihat bahwa persatuan ummat Islam sedang tidak tampak, barangkali suatu pertanyaan mendasar perlu diajukan. Benarkah ummat Islam dewasa ini secara jujur telah menjadikan tali Allah saja sebagai perekat untuk mewujudkan persaudaraan dan persatuan di antara mereka satu sama lain? Wallahua’lam bish-showwaab.

Ya Allah, sungguh Engkau tahu bahwa hati-hati kami telah berhimpun dalam cinta kepadaMu, bertemu dalam taat padaMu, bersatu dalam da’wah menyeruMu, saling berjanji untuk menolong Syari’atMu, maka kokohkanlah -ya Allah- ikatannya, kekalkanlah kasih-sayang di antaranya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah dengan cahayaMu yang takkan pernah padam, lapangkanlah dada-dadanya dengan keutamaan iman kepadaMu, keindahan tawakkal padaMu, hidupkanlah dengan Ma’rifah akan Engkau dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalanMu. Sesungguhnya Engkau-lah sebaik-baik Pemimpin dan sebaik-baik Penolong. Sholawat dan salam atas Rasulullah Muhammad. Amin ya Rabb.

Masihkah kita mempertahankan nasionalisme, yang memecah belah kita, sementara kaum kuffar telah menumpahkan darah saudara kita di muka bumi ini. Lihatlah keadaan kaum muslim Palestina, di Iraq, dan dinegeri muslim lainnya, siapa yang berani membela mereka. Sementara kita sibuk ingin bereperang dengan saudara kita sendiri ??????...


Chandra Purna Irawan
Like Fanpage kami :

Sunday, December 27, 2015

Post a Comment
close