Pepesan Kosong Nasionalisme dan Penjarahan SDA


Pada hari ahad tanggal 12 Desember 2014 diadakan Halaqoh Islam dan Peradaban (HIP) oleh HTI Jawa Tengah dengan tema: Indonesia Dijual???. Alhamdu lillah, saya diberi kesempatan untuk menjadi salah satu pembicara. Selain saya, ada tiga pembicara yang lain, yaitu Ust Farid Wajdi, SIP (DPP HTI dan Pimred Majalah Alwaie), Bapak Sunu Andhy Purwanto (Produser Eksekutif  Pro TV), dan Bapak Sutjipto, SH, MH (Wakil Ketua PDIP Jawa Tengah).

Saat dihubungi panitia untuk menjadi salah satu pembicara dan diberi tahu temanya, yaitu Indonesia Dijual???, saya berkata dalam hati, “Wah, temanya provokatif sekali...”. Terlintas dalam pikiran saya, apa memang benar “Indonesia Dijual”?. Tetapi, saya sadar, bahwa pada saat itu, memang isu tersebut baru panas di masyarakat, terkait dengan pernyataan Presiden RI, Joko Widodo, saat pertemuan APEC di Beijing. Sebagaimana diketahui, Presiden RI mengundang investor asing untuk membangun infrastruktur dalam merealisasikan program poros maritim.

Pernyataan Indonesia dijual ini, ternyata juga banyak disampaikan oleh para tokoh politik dan ekonomi di negeri ini. Misalnya Dr. Fuad Bawazier menyampaikan bahwa Penawaran investasi asing yang dilakukan Presiden RI dinilai sama dengan menjual negara. Lanjut beliau, bahwa saat ini hampir semua kekayaan alam Indonesia telah dikuasai asing. Satu-satunya yang belum dikuasai asing adalah infrastruktur. Lebih lanjut beliau mengatakan, “Satu yang masih belum diserahkan ke pihak asing yakni infrastruktur. Sekarang sedang dijual Jokowi, untuk disempurnakan”. Lalu beliau menambahkan, “Bukan produk yang dijual Jokowi di APEC, melainkan negaranya. Mengajak negara asing untuk membangun pelabihan, rel kereta api. Kebangetan itu.” lanjutnya.

Setelah diminta untuk menjadi narasumber saya mencoba untuk menelusuri data kekayaan Indonesia. Terlepas dari data itu valid atau tidak, yang jelas data yang ada menunjukkan bahwa kekayaan alam Indonesia memang sesuatu yang mencengangkan. Tetapi, kekayaan alam yang melimpah ruah tadi, justru dinikmati dan dikuasai oleh asing, bukan oleh rakyatnya sendiri. Ini sesuatu yang lebih mencengangkan lagi.

Indonesia merupakan negeri yang luas dan terdiri dari ribuan pulau. Luas wilayah teritorial Indonesia sekitar 5 juta km2. Sekitar 1,9 juta km2 berupa daratan sedangkan 3,1 juta km2 berupa lautan. Jika ditambah dengan zona ekonomi eksklusif, luas wilayah Indonesia menjadi lebih dari 7,5 juta km2, dengan luas wilayah laut menjadi 5,8 juta km2. Jika peta Indonesia ditempelkan di peta Eropa, maka panjangnya hampir sama. Indonesia membentang dari Inggris di bagian baratnya, sampai ke Rusia di bagian timurnya.

Areal hutan Indonesia paling luas di dunia, tanahnya subur, alamnya indah, di laut terdapat potensi kekayaan laut luar biasa (ikan, mutiara, minyak dan mineral lain), di darat terkandung potensi yang tidak kalah luar biasanya berupa emas, nikel, timah, tembaga, batubara dan lain sebagainya. Di bawah perut bumi tersimpan gas dan minyak yang cukup besar.
Tentu saja, kekayaan yang melimpah merupakan karunia yang luar biasa, namun keyaan yang melimpah tersebut juga dapat menjadi malapetaka yang tak kalah mengerikan. Di manapun di dunia ini, kekayaan yang melimpah, termasuk di Indonesia, akan selalu menjadi incaran bangsa asing penjajah, dari dulu sampai sekarang.

Sekedar contoh, Tambang Grasberg yang terletak di Tembagapura memiliki cadangan 2.500 metrik ton, yang mengandung 1,13 persen tembaga, 1,05 gram per ton emas, dan 3,8 gram per ton perak. Saat ini, dikuasai oleh PT. Freeport Indonesia (PTFI), sebuah perusahaan Amerika Serikat yang sudah beroperasi sejak penanda-tanganan Kontrak Karya (KK) pada tahun 1967. Diperkirakan total pendapatan PTFI lebih dari 1800 Triliun.

Tambang Batu Hijau yang terletak di Sumbawa, NTB memiliki cadangan 1 miliar ton metrik terdiri dari tembaga 0,52 persen dan emas 0,4 gram per ton. Diperkirakan produksi per tahun mencapai 245.000 ton tembaga dan 18 ton emas. Siapa yang menguasai? PT. Newmont Nusa Tenggara. Nama Newmont sendiri, katanya, dipilih oleh Thompson sebagai singkatan dari New York dan Montana, karena, seperti dikatakan oleh seorang penulis biografinya, "ia dibesarkan di Montana, dan memperoleh keuntungan di New York."

Sementara penguasaan asing dalam sektor migas juga tak kalah ngerinya. Menurut BKPM, modal asing semakin dominan dibanding seluruh investasi dalam negeri. Investasi sektor minyak dan gas bumi misalnya, sebanyak 85,4 persen dari 137 konsesi pengelolaan lapangan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia dimiliki oleh perusahaan multinasional (asing). Perusahaan nasional hanya punya porsi sekitar 14,6 persen. Data terbaru di BP Migas menyebutkan, hanya ada sekitar 20 perusahaan migas nasional yang mengelola lapangan migas di Indonesia.

Penguasaan asing pada sektor-sektor lain, juga sangat luar biasa. Dapat dikatakan bahwa hampir semua sektor, kekayaan alam kita sudah dikuasai oleh asing.

*****

Apakah rakyat Indonesia kaya raya, karena memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah? Dari beberapa data yang ada, dengan sangat disesalkan, ternyata tidak. Mayoritas rakyat Indonesia justru berada dalam kemiskinan.

Hutang Indonesia sampai Juli 2014 sudah melebihi angka Rp 3.000 triliun. Sebuah angka yang sangat besar. Hutang ini sudah melebihi APBN Indonesia, yang kurang dari Rp.2000 triliun. Uang sebanyak itu kalau dibelikan mobil Xenia seharga Rp.100.000.000,- dapat sekitar 30 juta unit mobil. Saya tidak tahu harus dengan apa membayar hutang sebesar itu? Padahal, APBN Indonesia saja setiap tahun minus. Ini artinya hutang kita akan meningkat setiap saat. Jumlahnya akan semakin besar setiap tahunnya.

Dengan kekayaan alam yang sedemikian besar apakah pendapatan Indonesai mayoritas berasal dari penjualan SDA? Ternyata juga tidak. Penerimaan negara tahun 2014 sebesar Rp. 1.667,14 triliun terdiri dari Pendapatan Pajak Rp. 1.280,39 triliun, Pendapatan Bukan Pajak Rp. 385,39 triliun dan hibah Rp. 1,36 triliun. Artinya pendapatan dari pajak sekitar 76,8%.

Karena itu, istilah Indonesia dijual, yang menurut saya awalnya terlalu kasar dan terkesan provokatif, namun kenyataan dilapangan lebih parah dari itu. Indonesia bukan dijual. Sebab, jika kekayaan SDA Indonesia dijual, hasil penjualannya sudah cukup untuk biaya hidup semua rakyat Indonesia.
Misalnya, kalau saya jual mobil seharga RP.100 juta, maka uang yang saya terima adalah Rp.100 juta. Uang itu bisa saya gunakan untuk keperluan saya. Inilah makna dari kata menjual.
Faktanya, di Indonesia tidak seperti itu. Indonesia bukan dijual, sebab jika dijual kita akan kaya, minimal saat penjualan. Lalu, jika habis itu miskin lagi, itu masalah lain. Indonesia selalu miskin, baik saat kekayaan SDA di tangan Indonesia atau di tangan asing.

Oleh karena itu, yang terjadi bukan Indonesia dijual, tetapi Indonesia dihibahkan!!! Sekali lagi, Indonesia dihibahkan!!!

Di manakah nasionalisme yang katanya menjaga kedaulatan sumber daya alam??? Ternyata nasionalisme itu hanya pepesan kosong. Bahkan, partai yang mengklaim paling nasionalis, justru menjual Indonesia dan seluruh kekayaan yang dibutuhkan masyarakat dengan harga yang sangat murah, bahkan dalam beberapa kasus, Indonesia diberikan secara gratis.
Inilah hasil dari penerapan kapitalisme yang dibangga-banggakan itu. Jadi, siapapun presidennya, selama yang diterapkan kapitalisme-demokrasi, semuanya tidak akan mengubah apa-apa. Indonesia akan semakin terjerumus pada hutang yang semakin besar, kekayaan alam yang semakin habis, dan defisit APBN yang semakin besar.

Secara pribadi, sebenarnya saya berharap, masalah ini dapat diselesaikan dengan hanya cukup menggati pemimpin. Tetapi, saya sadar itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Sebab, masalah ini adalah masalah sistemik. Kita tidak sekedar butuh perubahan figur, yang kita butuhkan adalah perubahan sistem. Memang perubahan sistem adalah sesuatu yang sangat berat, yang kelihatan di awamg-awang, terlebih kita sudah menikmati segala keterjajahan yang ada. Tetapi, memang tidak ada pilihan lain.

Saat kita bicara perubahan sistem kapitalisme, pilihannya cuma: sistem sosialisme atau sistem Islam. Sosialisme telah dicoba untuk diterapkan pada era Bung Karno dan hasilnya kita sudah tahu semua. Terjadi krisis dan inflasi yang luar biasa. Dengan demikian pilihannya tinggal satu, yaitu sistem Islam atau yang sering dinamakan dengan Khilafah Islam. Sistem inilah yang terbukti secara historis, mampu membawa kemajuan peradaban manusia, dan tanpa eksploitasi. Dalam sistem ini, nyaris tidak ada inflasi, sehingga perekonomian sangat stabil. Namun, lebih utama lagi, sistem inilah, satu-satunya yang diridloi Allah swt.

Khilafah memang bukan pilihan yang ringan, yang dapat direalisasi sekedar masuk bilik suara. Khilafah butuh usaha ekstra untuk merealisasikannya. Tetapi, inilah satu-satunya pilihan yang ada, untuk menyelematkan Indonesia pada khususnya, dan dunia pada umumnya.


Wallahu a’lam.

disadur dari buku Cinta Indonesia Rindu Khilafah oleh Muhammad Choirul Anam


Like Fanpage kami :

Wednesday, December 16, 2015

Post a Comment
close