Salahkah mendiamkan kebaikan namun selalu mengkritik kesalahan?


oleh: Farid Ma’ruf

Melihat secara Utuh
Bagaimana jika kita ketemu orang yang kita ketahui :
1. Selalu sholat 5 waktu di masjid.
2. Sering khutbah Jumat.
3. Sedekah Rp100juta per minggu (di hari Jumat).
4. Zakat 10 milyard per tahun.
5. Membiayai 100% pembangunan 50 masjid di berbagai propinsi.
6. Seluruh aktivitas baiknya tersebut tidak diliput wartawan media besar (hanya diliput media Islam kelas kecil).

Di sisi lain, kita ketahui juga bahwa ia :
1. Punya perusahaan minuman keras.
2. Sering bermain proyek pemerintah dengan menyuap pejabat.
3. Bisnisnya dibiayai dari bank ribawi.

Pertanyaannya :
1. Orang tersebut baik atau tidak?
2. Jika kita mengkritik / menasihati dia (terkait perusahaan miras, main suap, riba), apakah bisa disebut bahwa kita (yang menasihati) ini adalah pendengki, pengadu domba, pencela, tukang fitnah? Tidak hanya menasihati secara pribadi, kita juga meminta pemerintah agar perusahaan miras tsb ditutup.
Sementara itu, kita yang menasihati tidak/belum sedekah 100juta per minggu, tidak zakat 10 M per tahun, tidak membantu pembiayaan pembangunan 50 masjid?
Selain itu, kita juga tidak pernah memuji-muji aktivitas kebaikan dia (sedekah, zakat, dll). Adanya kita selalu mengkritik dan menasihati. Apakah berarti kita jahat?

Jawabannya, tentu tidak.
Allah tidak mewajibkan kita untuk memuji-muji orang yang berbuat baik. Orang lain berbuat baik sementara kita diam saja, adalah tidak ada masalah. 
Sementara itu, Allah mewajibkan kita untuk amar ma'ruf nahi munkar. Orang lain berbuat buruk (maksiat), kita wajib menasihati. Bahkan kita berdosa jika diam saja (menyetujui aktivitasnya).

Begitu juga dalam level yang lebih besar.
Jika ada negara dengan kepala negara yang nampak dermawan (membantu sana-sini), menerapkan sedikit syariah Islam seraya melanggar banyak syariah Islam secara sistemik kenegaraan.
Kemudian ada sebuah kelompok dakwah (partai politik Islam Ideologis) yang mengkritik pelanggaran2 syariah tersebut, dan tidak pernah memuji-muji kebaikannya, maka itu tidak salah.
Aktivis kelompok dakwah tersebut sedang menjalankan kewajibannya dalam amar ma’ruf nahi munkar, menasihati penguasa. Bahkan jika menasihati penguasa kemudian dibunuh, maka itu termasuk mati syahid.
Di sisi lain, jika ada yang mengaku kelompok dakwah, tidak pernah terdengar kritikannya kepada kepala negara terkait pelanggaran2 syariah sistemik kenegaraan, sering memuji-muji kebaikan/kedermawanan sang kepala Negara, seraya mencaci-maki kelompok dakwah yang mengkritik dan menasihati kepala negara, maka apakah itu benar? Justru itu salah.
Yuk melihat secara utuh….


sumber: https://www.facebook.com/faridm/posts/10153317411832849
Like Fanpage kami :

Sunday, December 27, 2015

Post a Comment
close