SOLUSI “ASLI INDONESIA”: SOLUSI BERDARAH-DARAH, KABUR, TANPA VISI (1)



Oleh: Husain Matla

Mengapa solusi penegakan syariah dan khilafah selama ini banyak dihambat? Mengapa kemudian yang sering dikumandangkan adalah solusi yang mengatasnamakan Bhinneka Tunggal Ika dan asli Indonesia, yang sebenarnya hanyalah pluralisme dan nasionalisme? Juga dikatakan solusi Timur Tengah itu (sindiran untuk Islam) keras, sementara solusi asli Indonesia itu lembut..., mengapa?

Tampaknya, semua alasan itu karena ketidakpahaman akan betapa terbatasnya solusi-solusi yang dikatakan “asli Indonesia” ini, serta keterbatasan pemahaman tentang betapa cuantiknya solusi Islam ini.

Pada faktanya, realitas sejarah menunjukkan bahwa solusi “asli Indonesia” itu sangat berdarah-darah, tidak jelas arahnya sehingga gampang dibelokkan, serta tidak visioner sehingga akhirnya gampang jatuh ke dalam penjajahan. Pada akhirnya nanti bisa kita bandingkan dengan solusi Islam.
Mari kita coba ulas satu per satu.

***

Pertama, “solusi asli Indonesia” berdarah-darah. Benarkah? Mengapa?

Nyatanya itulah yang terjadi. Karena ketika suatu negara menjelang hancur, wilayahnya jadi terpecah, wilayah intinya menyusut menjadi sangat kecil seiring dengan konflik-konflik yang terjadi, dan berikutnya negara baru yang muncul harus melakukan penakhlukan ulang, yang mana ini menimbulkan adanya pihak-pihak yang tidak puas, dan bisa berefek pada nasib negara di waktu berikutnya.

Pertengahan abad VIII M, pemerintahan konfederasi Sunda dan Galuh (Jawa Barat) dilanda perang saudara. Salah satu keturunan mereka, Sanjaya, yang juga keturunan kerajaan Kalingga (Jawa Tengah utara) memenangkan perang saudara itu dan mendirikan kerajaan baru, Mataram, di pertengahan Jawa Tengah. Setelah meluaskan wilayah, para keturunannya berhasil membangun kerajaan ini menjadi besar, bahkan mendirikan candi Borobudur dan menakhlukkan Sumatera. Namun perpecahan agama terjadi. Sebagai pewaris Sunda Galuh yang Hindu dan Kalingga yang Budha, Mataram terdiri dari dua agama. Para keturunan pun dilanda konflik agama. Di Jawa, Hindu menang dan kerajaannya pun menjadi Hindu sepenuhnya dibawah pimpinan Rakai Pikatan Mpu Manuku. Adapun Sumatera menjadi kerajaan Budha di bawah pimpinan Balaputradewa (kerajaannya dikenal sebagai Sriwijaya).

Akhir abad IX M, para keturunan Rakai Pikatan memimpin Mataram baru. Namun ini harus melalui peperangan karena sebagian pihak di Jawa ternyata pro Balaputradewa. Akhirnya di bawah Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala, markas kubu pro Balaputra di Kraton Boko (selatan Prambanan) berhasil dihancurkan. Namun ternyata konflik terus terjadi. Patih Wawa melakukan kudeta atas Raja Tulodong. Karena bencana letusan Merapi dan suasana yang kurang kondusif, raja berikutnya, Mpu Sindok, meninggalkan wilayah Jawa Tengah dan mendirikan kerajaan baru, Medang, di Jawa Timur.
Dari tempat baru, Medang harus merakit wilayah baru dan mengadakan perluasan wilayah. Namun tidak mudah. Konflik dengan anak keturunan Balaputradewa yang memerintah Sumatera (Sriwijaya) dan para sekutunya yang masih tersisa di Jawa Tengah terus terjadi. Setelah sempat menyerang Sriwijaya, berikutnya keadaan berbalik. Melalui sekutu Sriwijaya di Jawa Tengah, Aji Wurawari, raja Lwaram (Blora), kraton Medang diserbu saat Raja Dharmawangsa Tguh mengadakan pesta pernikahan anaknya. Sang raja dan banyak pengikutnya tewas.

Tahun 1009 M, seorang keturunan Medang, Airlangga, selamat dan mendirikan kerajaan baru, yaitu Kahuripan. Namun itu melalui perjalanan yang panjang, menakhlukkan banyak wilayah yang telah memisahkan diri dari Medang, seperti Lodoyong (Tulungagung) dan Wengker (Ponorogo). Terakhir, ia membalas dendam kepada Aji Wurawari dan meratakan istananya dengan tanah. Sayang, usaha keras sepanjang 30 tahun ini tak bertahan lama. Kedua anaknya meminta jadi raja sehingga kerajaan dibelah dua, menjadi Kediri dan Jenggala. Itupun dalam waktu beberapa dekade keduanya senantiasa perang saudara. Sampai-sampai muncul kitab sastra (kekawin) Bharatayudha, yang dimaksudkan oleh Raja Kediri, Jayabhaya, sebagai pengibaratan konfliknya dengan saudara sepupunya di Jenggala. Ia menganggap pihak Kediri seolah Pandawa dan pihak Jenggala seolah Kurawa. Kediri memenangkan persaingan. Wilayahnya meluas ke Kalimantan Barat. Sastra mengalami kemajuan. Namun kejayaan itu tak berlangsung lama. Kerajaan menyusut. Dan akhirnya muncul pemberontakan Ken Arok, bupati Tumapel.


Awal abad XIII M, Ken Arok, yang menghancurkan tentara Kediri di desa Ganter, mendirikan kerajaan baru, Singhasari. Kemenangannya dilatar belakangi konflik di dalam agama Hindu sendiri yang lebih parah dari konflik Sunni Syiah (karena tuhannya saja saling terbalik). Di sini, kubu raja Sri Kertajaya adalah Hindu Waisnawa (Wisnu atau Krishna sebagai tuhan, Syiwa sebagai pembantu tuhan) sementara kubu brahmana yang beroposisi beragama Hindu Syiwa (Syiwa atau Bathara Guru sebagai tuhan, justru Wisnu yang jadi pembantu tuhan). {Bayangkan, berebut posisi tuhan, padahal berebut posisi bupati saja membuat anarki antar pendukung pasangan!} Ken Arok sendiri beragama Budha. Sehingga kerajaan baru ini, hasil koalisi Ken Arok dengan brahmana oposan, bercorak Syiwa Budha. Kubu Waisnawa tersingkir seiring terbunuhnya Sri Kartajaya. Adapun suasana pemerintahan Singhasari kita selama ini sudah tahu. Tidak stabil. Paten-patenan. Podar-podaran. Pararaton menyebut, beberapa kali raja baru memerintah dengan membunuh raja sebelumnya. Pemerintahan sempat membaik dan Singhasari cukup disegani di Nusantara di bawah Kertanegara. Namun itu tak lama. Keturunan Sri Kertajaya yang bernama Jayakatwang memberontak. Kertanegara terbunuh.

Seorang keturunan Singhasari, Wijaya, berhasil lolos. Kemudian berbalik mengalahkan Jayakatwang melalui aliansi dengan tentara Mongol. Ia mendirikan kerajaan baru, Majapahit. Namun ternyata sejarah Majapahit ini begitu mirip dengan Indonesia. Harus melalui perang saudara dengan “sesama pendiri bangsa”. Tak beda dengan Bung Karno yang harus bertikai dengan dua saudara seperguruannya, Muso dan Kartosuwiryo, para senopati Majapahit harus menghadapi dua sahabat kental Wijaya sendiri, Lembu Sora dan Nambi. Keduanya berhasil dikalahkan. Muncul pemberontakan yang lebih besar dipimpin Ranggalawe, bupati Tuban. Ia berhasil dikalahkan sahabatnya sendiri, Mahesa Anabrang (persis Kolonel Ahmad Hussein, pimpinan PRRI, yang dikalahkan sahabatnya sendiri, Letjen Ahmad Yan). Kemudian muncul pemberontakan yang lebih besar lagi, pemberontakan Sadeng, dipimpin Ra Kuti. Huru hara yang mirip G 30 S PKI ini akhirnya berhasil diatasi oleh panglima kopkamtip saat itu, Jendral Gajah Mada. Baru setelah itu Majapahit berada dalam suasana tenang namun bernuansa kediktatoran. Dalam banyak hal Jendral Gajah Mada memang mirip Jendral Soeharto, bedanya ia hanya menjadi mahapatih. Pemerintahan di bawah Ratu Tribuana Tunggadewi, anak perempuan Wijaya. Majapahit sempat merasakan puncak kejayaan dan menakhlukkan banyak wilayah. Namun setelah Gajah Mada meninggal tahun 1364 M, pelan-pelan Majapahit surut. Dilanda Perang Paregreg (perang saudara yang cukup besar) awal abad XV. Kemudian pada tahun 1478 terkalahkan oleh kesultanan Demak.

Dari berbagai kisah tadi, sering terjadi kerajaan lama hilang wilayahnya. Kemudian kerajaan baru melakukan penakhlukan ulang. Sehingga wilayahnya berkutat di situ-situ saja. Jawa Tengah dan Jawa Timur. Wilayah hanya meluas ke luar Jawa ketika setelah generasi ketiga. Itupun sebentar saja.
Konflik, perang saudara, pemberontakan, kubu-kubuan militer, disintegrasi, itu hal yang alamiah dialami suatu negara. Khilafah Islamiyah juga mengalaminya. Namun tak sampai menghancurkan negara. Negara baru yang menggantikan, tak perlu merintis ulang dan melakukan banyak penakhlukan ulang. Kita tahu wilayah khilafah Umayah, betapa luasnya. Kemudian digantikan khilafah Abbasiyah. Hanya Spanyol yang memisahkan diri, tapi pemisahannya hanya setingkat Taiwan (diposisikan sebagai provinsi yang membangkang), itupun tak berani menyebut pimpinannya khalifah. Sikap Spanyol pun terbayar dengan bergabungnya wilayah Khurasan Timur ke dalam khilafah. Berikutnya muncul pemerintahan Buwaih. Negara tetap besar. Begitu juga pemerintahan Seljuk dan Utsmani. Negara tetap besar. Bahkan Utsmani meluaskan wilayah ke Eropa Tenggara, mengalahkan Konstantinopel, dan mengepung Roma. Sejelek-jeleknya khilafah Islam di masa surut, wilayahnya tetaplah lebih besar dari Indonesia daratan.

Negara tetap besar berarti peperangan untuk mengembalikan luas wilayah tidak perlu selama dan seberdarah-darah penakhlukan raja-raja di Jawa saat mengawali kerajaan. Dan ketika terjadi penyusutan tak separah penyusutan kerajaan-kerajaan di Jawa.

Yang membedakan sejarah khilafah dan sejarah jawa: yang terjadi di Jawa adalah negara hilang kemudian muncul negara baru; adapun yang terjadi pada khilafah adalah negara goncang kemudian berganti negara versi baru.

Kekuatan sistem khilafah adalah adanya sistem bai’at dan kesadaran bahwa semua yang diperjuangkan adalah untuk Islam, bukan untuk pimpinan (khalifah). Hidup adalah perjuangan dan para pejuang sekedar prajurit Allah. Berapa banyak pimpinan provinsi yang berada dalam suasana sangat kuat sebagaimana Khalid bin Walid di masa Abu Bakar atau Ibnu Thulun, Alp Arselan, Nuruddin Zanki, dan Shalahuddin al Ayyubi, di masa Abbasiyah. Tapi itu tak membuat mereka melepaskan diri. Hal lain, kekuatan sistemnya (ipoleksosbudhankam) menjadikannya terasa terlalu mahal untuk digadaikan hanya untuk persaingan dinasti atau kelompok. Umumnya ulama dan umara dalam sistem khilafah dulu sangat menyadari hal ini.

PERTANYAANNYA: Kita mau pilih mana untuk sejarah Indonesia ke depan. Menyusut sampai hilang kemudian muncul negara baru dengan penakhlukan berdarah-darah dan menyisakan dendam Jayakatwang? Itu yang kita maui? Itu yang kita maui? Itulah cara Jawa. Atau kita pilih cara Islam. Goncang sebentar. Kemudian berganti negara versi baru. Ini tak jauh beda dengan bubarnya Uni Soviet berganti Federasi Rusia, yang tak butuh suasana berdarah-darah, serta wilayahnya mayoritas masih bertahan, serta wilayah yang terlepas pelan-pelan bergabung lagi dalam corak baru.

***
Kedua, solusi itu tidak jelas dan gampang dibelokkan.
Kita lihat faktanya. Tampaknya orang Jawa itu memang pandai bersepakat tapi tidak punya jenis kesepakatan yang baku. Semuanya fleksibel. Kita lihat di kampung-kampung Jawa, terutama di Jawa selatan, bekas wilayah kerajaan Kediri atau bekas kesultanan Mataram. Semuanya serba formal dan menghormati sesepuh. Ini membuat yang muda juga agak sungkan berpendapat. Ujung-ujungnya pendapat diserahkan kepada forum. Sering hasilnya buntu. Namun ketika datang “perintah dari atas” semuanya segera dilaksanakan.

Orang Jawa bagus dalam berorganisasi, trampil dalam bekerja, punya solidaritas antar sesama. Orang Jawa cepat tahu tamu yang belum dapat hidangan, sungguhpun hajatan mengundang lima ribu orang. Namun itu semua seperti gerigi dalam sebuah roda atau seperti badan tanpa kepala. Makanya tak jelas mau di bawa kemana.

Sebenarnya ini sangat bagus ketika mendapatkan kepala yang jelas dan mantap, yaitu Islam. Inilah yang terjadi di masa Kesultanan Demak Bintoro. Maka Portugis dihancurkan di Sunda Kelapa. Malaka dibombardir, dan walaupun ini tidak berhasil, tapi bisa memancing motivasi banyak kesultanan lain untuk mengeroyoknya di Maluku, membantu Sultan Baabullah. Sejarah telah menulis kepahlawanan armada Kalinyamat ketika itu.

Namun ketika tak ada kepala memutuskan, yang ada adalah tarik menarik antar kepentingan atau negara bisa dibelak-belokkan.

Konflik Hindu Budha, sesama Hindu (Waisnawa versus Syiwa), militer berada dalam kubu-kubuan antar bangsawan atau jenderal, kita telah tahu hasilnya bagaimana. Juga kondisi kesultanan di masa Belanda dulu. Kesultanan di Jawa Tengah yang terorgansir rapi berada dalam kebingungan. Para kyai di Jawa Timur tegas dengan Islamnya. Belanda di Batavia tegas dengan ide-ide Barat-nya. Di tengah bingung, padahal merekalah yang punya sumber daya alam, rakyat, birokrat, dan prajurit. Akhirnya negara pecah. Satu pro timur satu pro barat. Masing-masing dengan komando dan pengorganisasian rapi.

Kita tahu pula Indonesia setelah merdeka. Rakyat di belakang Bung Karno. Akhirnya dibawa menuju Poros Peking. Kemudian birokrat di bawah Pak Harto, yang membawanya menuju poros Washington. Dan kemudian sekarang ada yang kubu asing ada yang kubu aseng. Masing-masing dengan komando yang lumayan teratur.

Dan jika kita ngotot mengatakan bahwa cukuplah negara ini negara Pancasila dan menolak syariah dan khilafah, sama saja kita semakin tegas untuk mengatakan bahwa Indonesia memang seharusnya negeri tanpa kepala. Bukan Pancasila itu buruk. Tapi karakternya memang leher, bukan kepala. Leher itu penyambung, bukan pemberi perintah. Akhirnya Bung Karno memberi kepala bernama Sosialisme, dan Pak Harto memberi kepala bernama Kapitalisme Keynesian, Jokowi memberi kepala berjudul “That is your opportunity”. Berbeda dengan Gajah Mada yang membawa kolektivitas Jawa menuju prinsip Satya Haprabhu (setia kepada pemerintah), kapitalisme liberal yang tampaknya cukup memahami Jawa menyeret ketekunan dan kolektivitas penduduknya menuju Satya Hapabrik.

PERTANYAANNYA: Apa kelemahan bangsa ini akan kita teruskan, dan malah kita ikrar-ikrarkan, kita bikinkan bingkai ide yang bisa kita jadikan alasan? Kita ingin punya KEPALA atau tidak?
{BERSAMBUNG}
Like Fanpage kami :

Friday, December 11, 2015

Post a Comment
close