Bank Dunia Ungkap Kerugian Kebakaran Hutan Dua Kali Lipat Lebih dari Tsunami Aceh


Bank Dunia menyatakan kerusakan dan kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pengaruh El Nino tahun 2015 setara dua kali lipat biaya pascabencana tsunami Aceh.

Tim Ahli Lingkungan Bank Dunia Ann J. Glauber mengungkapkan, kerugian mencapai Rp 221 triliun atau setara dengan lebih dari dua kali lipat biaya pascabencana tsunami Aceh.

"Dampak jangka panjang karhutla, seperti pada kesehatan, mencapai lima kali lebih besar daripada dampak polusi harian terburuk di Kota Beijing, Cina." Katanya menjelaskan hasil kajian Bank Dunia pada kerusakan dan kerugian akibat karhulta pengaruh El Nino tahun 2015 saat melakukan pertemuan dengan BNPB di Jakarta, Rabu.

Kepala BNPB Willem Rampangilei dan perwakilan Bank Dunia melakukan pertemuan untuk membahas peluang kerjasama di tahun 2016. Sebagaimana dilansir laman BNPB, di samping peluang kerjasama, pertemuan ini mendiskusikan bagaimana pengalaman baik seperti pascabencana tsunami Aceh, gempabumi dan erupsi Merapi Yogyakarta dapat direplikasikan di daerah bencana lain di Indonesia dengan mempertimbangkan kondisi budaya dan lingkungan setempat.

Sehubungan dengan karthutla, "BNPB sedang dipersiapkan upaya pencegahan berbasis masyarakat dalam mengatasi karthutla saat memasuki musim kering yang mungkin terjadi lebih cepat," papar Willem saat itu.

BNPB menyatakan, telah menyusun upaya pelibatan pemerintah daerah setempat, masyarakat dan dunia usaha, termasuk kelompok-kelompok masyarakat dengan mencanankan Relawan Pencegahan Hutan dan Kebakaran. Pencanangan ini dijadwalkan dimulai pada Februari tahun ini.

Kontribusi Bank Dunia
Laman BNPB menjelaskan, Bank Dunia telah berkontribusi dalam konteks penanggulangan bencana, seperti pada saat rekonstruksi bencana gempabumi dan tsunami Aceh (2004) dan gempabumi Yogykarta (2006). Dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Bank Dunia, masyarakat dan pemerintah mampu membangun kembali rumah warga yang rusak dengan jumlah 300.000 unit dalam kurun waktu 18 bulan.

Sementara itu, pascabencana erupsi Merapi 2010, hampir 3,000 keluarga yang tinggal di kawasan rawan bencana di sekitar Merapi berhasil dimukimkan kembali ke tempat yang lebih aman dan dilengkapi fasilitas livelihood.
Capaian ini tercatat dalam rekor MURI tahun 2014 sebagai "Relokasi Permukiman Terbanyak dan Tercepat di Indonesia yang dilakukan melalui pendekatan partisipatif dan tanpa gejolak sosial". Prestasi tersebut merupakan hasil kerja keras bersama antara masyakarakat, BNPB, Kementerian PU, Pemerintah Daerah, dan didukung oleh Bank Dunia dan negara-negara mitra pembangunan international.

sumber: suaranews.com
Like Fanpage kami :

Friday, January 8, 2016

Post a Comment
close