BEDA TEROR DI SANA DULU DAN DI SINI SEKARANG.




Oleh: Prof. Fahmi Amhar

Tahun 1980-an, di Inggris masih ada kelompok IRA, yang memperjuangkan kemerdekaan Irlandia Utara. Setiap ada bom yang meledak di Belfast, mereka lalu mengeluarkan pernyataan melalui radio gelap, bahwa mereka bertanggungjawab atas bom itu, dan mengancam akan meledakkan bom berikutnya bila pemerintah Inggris tidak melepaskan kawan-kawannya yang dipenjara.

Demikian juga di Italia, saat itu masih ada kelompok Red-Brigade. Setiap ada bom meledak di Roma, bahkan sampai membunuh Perdana Menteri Aldo Moro, mereka mengirim pesan bahwa mereka berada di balik bom itu, dan minta agar publik menekan pemerintah mereka untuk melepas aktivis Red-Brigade yang ditahan.

Bahkan di Timur Tengah juga sama. PLO saat itu melawan Israel dengan taktik gerilya. Meledakkan bom di Haifa, Yerusalem, bahkan di asrama atlet Israel pada Olympiade Munchen, untuk meluncurkan opini ke dunia, bahwa perlawanan Palestina belum berhenti, dan perlawanan itu akan mendunia.

Jadi kalaupun mereka dituduh "teroris", mereka memang memenuhi syarat "membuat takut publik" untuk "tujuan politik". Tujuan politiknya jelas.

Tetapi bom-bom yang meledak di Indonesia sejak tahun 2000-an, termasuk yang di Sarinah hari ini, tidak jelas tujuan politiknya, karena juga tidak ada pernyataan siapa yang bertanggungjawab. Bahkan sampai ketika Amrozy atau Imam Samudra divonis mati pun, tujuan politiknya tidak jelas. Apakah jangan-jangan memang terorisnya sebenarnya "ghaib", dan ini settingan pengalihan isu saja ?
Like Fanpage kami :

Thursday, January 14, 2016

Post a Comment
close