BERSIKAP ADIL KEPADA SESAMA JAMAAH DAKWAH (2)


Oleh : Ust Choirul Anam


Jika kepada orang yang kita benci (karena keburukannya) kita tetap harus adil, apalagi kepada umat Islam, terlebih lagi kepada para aktivis dakwah Islam. Bukankah mereka adalah saudara kita? Bukankah mereka adalah orang-orang yang telah rela mengorbankan harta, waktu, pikiran bahkan jiwanya untuk Islam? Bukankah kita seharusnya mencintai mereka? Apakah kita begitu benci kepada mereka? Apakah hanya gara-gara kita anggap bahwa mereka sebagai saingan, sehingga kita begitu membenci mereka? Apakah hanya gara-gara ada sedikit perbedaan, kita begitu muak dengan mereka? Lihatlah salafus-sholih sebelum kita. Apakah sikap mereka seperti itu?

Meski mereka berbeda pendapat dalam masalah furu' (cabang), tetapi mereka tetap saling mencintai, tidak bermusuhan dan selalu bersikap adil terhadap sesama. Tidak ada yang menganggap sesat antara yang satu kepada yang lain, meski mereka berbeda dalam banyak masalah dalam urusan furu’. Diriwayatkan telah terjadi ikhtilaf dalam urusan furu' antara Imam Abu Hanifah dengan Imam Malik dalam masalah yang sangat banyak, bahkan sampai kira-kira 14.000 masalah, baik dalam masalah ibadah atau mu'amalah. Imam Ahmad bin Hambal juga berikhtilaf dengan gurunya, yaitu Imam Syafi'i dalam masalah yang sangat banyak. Namun tidak ada permusuhan diantara mereka. Juga tidak ada kebencian, mengucapkan kata-kata kotor, menyalahkan, atau menganggap sembrono yang lain. Mereka selalu saling mencintai, berteman mesra dan saling mendoakan kebaikan. (Syeikh Hasyim Asy’ari, At tibyan fin nahyi an muqoti'atil arham wal aqorib wal ikhwan, hal 15-16)

Oleh karena itu, jika kita justru membenci saudara kita para aktivis dakwah, kita harus ekstra hati-hati. Itulah rayuan setan yang telah memperdaya kita. Jangan mengira, setan hanya memperdaya orang-orang bodoh. Bahkan, orang alim dan syeikh pun masih digoda setan, tentu oleh setan yang levelnya syeikh juga.

Bukankah al-qur’an dan hadits telah mengajarkan agar kita saling menyayangi dan menghormati sesama muslim, apalagi kepada mereka yang memperjuangkan agama Allah dengan ikhlas?

Allah swt berfirman: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujuran 10-11).

Dari Anas ra., ia berkata, bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, saling membenci, saling mendengki. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak dihalalkan bagi seorang muslim menjauhi (membiokot) saudaranya lebih dari tiga hari”. (Mutafaq ‘alaih).

Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Setiap muslim atas muslim yang lain haram darahnya, kehormatannya, dan hartanya”. (HR. Muslim).

Dari Watsilah bin Asyqa’ ra., ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah engkau mengumpat (mengata-ngatai) saudaramu. Bisa jadi Allah akan memberi rahmat kepadanya dan memberikan ujian kepadamu”. (HR. at-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan”).

Rasulullah bersabda: “Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain. Dia tidak mendzaliminya, tidak mengkhianatinya, dan tidak merendahkannya. Takwa itu ada di sini, sembari beliau menunjuk ke arah dadanya sebanyak tiga kali. Cukuplah seseorang dikatakan buruk perangai, ketika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darah, kehormatan, dan hartanya atas muslim yang lain”. (HR. Muslim)

Dari Abu Bakrah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda ketika berkhutbah pada haji wada: “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian haram atas kalian sebagaimana keharaman hari ini, dalam bulan ini, di negeri ini. Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikan?” (Mutafaq ‘alaih).

Itu sikap seorang muslim atas muslim yang lain: saling mencintai, saling menghormati, tidak mencela, merendahkan, apalagi membuah tuduhan-tuduhan palsu.

*****

Lalu bagaimana jika menurut kita, ada aktivis dakwah atau jamaah lain yang keliru atau menyimpang?
Pertama, memang kita harus meneliti dengan seksama. Sehingga yang kita anggap keliru dan menyimpang, itu memang benar-benar keliru dan menyimpang. Bukan sekedar dugaan, apalagi berita burung yang tidak jelas asal usulnya. Apalagi pada zaman sekarang, zaman media sosial, yang salah satu lambangnya saja “burung yang sedang berkicau”.

Setelah itu, kita nasehati mereka dengan cara yang baik, atas dasar cinta dan kasih sayang kepada sesama muslim. Bukan atas dasar kebencian dan pelampiasan amarah. Meski, ini adalah urusan hati, tetapi hal ini akan sangat tampak pada ucapan, tulisan dan tindakan kita.

Yang salah tetap kita anggap salah, yang benar tetap kita anggap benar. Misalkan ada saudara kita yang rajin sholat tetapi memperjuangkan demokrasi yang bertentangan dengan Islam. Maka, kita tidak boleh mencela sholatnya. Yang salah bukan sholatnya, tetapi demokrasi yang mereka perjuangkan. Kita cukup memberi nasihat dan menjelaskan hakikat demokrasi kepada mereka. Jika mereka tetap bersikukuh dengan sikapnya, kita serahkan kepada Allah, itu urusan mereka dengan Allah, kita sebagai saudara telah berusaha menjelaskan sebaik-baiknya.

Jika mereka menyebarkan pemahaman demokrasinya yang berbahaya bagi umat? Jika itu terjadi, misalnya, maka kita perlu jelaskan kepada umat tentang hakikat demokrasi dan bahayanya menurut Islam. Yang kita serang adalah demokrasinya, bukan umat Islam yang menyuarakan demokrasi. Ini bedanya memang sangat tipis. Bahkan terkadang sangat sulit dipisahkan karena begitu menyatu. Tetapi, tetap harus kita bedakan.

Jika mereka yang kita nasehati menyerang balik? Jika itu terjadi, kita tidak perlu meladeninya atau membalasnya. Kita tetap fokus, bahwa yang kita kritik atau kita salahkan adalah sesuatu yang memang salah menurut Islam. Kita tidak boleh geser fokus, lalu kita ikut-ikutan menyerang orang atau figur tertentu. Terus terang ini memang kondisi yang cukup sulit, tetapi meskipun begitu kita tetap harus berprilaku adil. Kita tidak boleh terjebak pada generalisasi suatu masalah. Tetapi masalah itu harus kita rinci satu persatu, lalu kita respon satu-persatu sesuai dengan faktanya.

Jika mereka menempati posisi kunci di masyarakat, sementara tindakan, sikap dan keputusannya sangat membahayakan umat Islam dan Islam itu sendiri, pada saat yang sama ia mengatakan bahwa yang ia lakukan adalah demi kemaslahatan umat Islam dan Islam itu sendiri, maka dalam situasi ini, kita memerlukan “analisis politik”. Analisis politik adalah suatu kajian secara mendalam atas berbagai peristiwa dan kejadian untuk mengetahui hakikat yang terjadi, yang terkadang realitas itu berbeda dengan yang kelihatan di permukaan. Analisis politik bukanlah su’udz dzan. Analisis politik justru upaya untuk menyingkap sesuatu yang disembunyikan dan membahayakan bagi umat. Analisis politik dasarnya bukan praduga, tetapi dasarnya adalah data, yang terkadang data itu berserakan, sehingga perlu dikumpulkan dan dianalisis untuk mengetahui realitas yang sesungguhnya terjadi. Dalam analisis politik pun kita harus bersikap adil, hati-hati, dan tidak sembarangan.

Kemudian analisis ini kita sampaikan kepada umat, bukan sebagai upaya merendahkan pihak lain, tetapi agar umat tahu realitas yang terjadi, sehingga tidak tertipu dengan berbagai manuver politik phak tertentu yang akan mencelakakan mereka. Analisis politik ini kita lakukan sebagai bagian dari amanah Allah, karena Allah telah menganugrahi kemampuan untuk itu demi melindungi umat dan perjuangan Islam.
Semua aktivis dakwah itu dasarnya adalah kecintaan kepada kebenaran, umat, dan Islam. Bukan atas dasar kebencian atau kedustaan, apalagi biar dianggap sebagai pejuang Islam atau yang lain. Dan kita harus selalu bersikap adil dalam kondisi apapun.

*****

Sikap adil itu adalah salah satu ajaran Islam yang sangat mulia. Kita sebagai umat Islam harus selalu bersikap dan berprilaku adil, kepada siapapun juga, baik yang kita benci atau kita sukai. Terlebih lagi sikap kita kepada aktivis dakwah dan jamaah dakwah Islam yang lain.
Kita harus selalu ingat, bahwa apapun yang kita lakukan, katakan, tuliskan, dan pikirkan selalu dimonitor oleh Allah, dan kelak akan kita pertanggung-jawabkan di hadapan Allah, Dzat Yang Mahaadil. “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (Raqib dan Atid)”. (QS. Qaf 18)

Ya Allah, jauhkan kami dari sikap dzalim kepada sesama manusia, apalagi kepada sesama muslim, apalagi kepada sesama pengemban dakwah. Ya Allah, berikanlah kami sikap saling sayang dan selalu bersikap adil kepada mereka.
Like Fanpage kami :

Monday, January 11, 2016

Post a Comment
close