Dijemput Malaikat



EH Fik, Fik, tunggu…”

Aku menoleh. Di belakangku, di dekat pintu gerban, Deni mengejarku terengah-engah. Ia segera menyejajarkan langkahnya. Angin pagi Jalanan Ganesha sejuk menerpa.

“Eh, Fik, aku ingin malam ini kamu mengisi tausiah Karisma. Bisa nggak?”

“Jam berapa?”

“Bada Isya tentu. Kayaknya tuh anak-anak Salman juga bakalan hadir. Maksudku yang tergabung dalam Karisma-kan tidak semuanya aktif, jadi nanti semacam ukhuwah ulang lah….”

“Ya bagus juga sih, Den. Tapi, kamu tahu nggak, anak-anak Arsitektur sekarang ini lagi supersibuk. Asitensiku kali inipun tahu diterima tahu enggak nih. Dosen konstruksiku banyak menuntut. Kurang inilah, harus begitulah. Itu tuh Pak Misbah. Balum lagi tentamen Sigma dan persiapan KKN. Lagi pula aku tak bisa menyusun konsep materi hanya dalam satu atau beberapa jam saja.”

“Fik, kalau bicara masalah sibuk, siapa sih yang nggak sibuk? Tausiahnya paling banter dua jam. toh kamu pun takmungkinkan menghafal dan menggambar terus-terusan sepanjang malam. Kurasa nggak terlalu jelek jika kamu mengambil tema seperti kamu mengisi di MIPA itu, tadi malam itu. Itu sudah cocok kok…”

Langkahku terhenti mendadak. Begitu juga Deni. Ia nampak terkejut. Apalagiaku. Kupandangi temanku itu dengan sorot mata yang penuh menyiratkan kekagetan.

“Ada apa, Fik?”

Aku menelan ludah, “Sebentar, Den….Kata kamu tadi, aku mengisi tausiah di MIPA? Tadi malam?”

“Ya.”

“Malam Jumat tadi?”

“Ah ya, masa kamu lupa sih? Baru tadi malam, Fik. …”

Aku menelan ludah lagi, “Den, kamu jangan main-main. Tadi malam itu aku tidak kemana-mana…”

Gantian Deni yang terlihat keheranan, “Lha Fik, yang bener saja. Kamu yang main-main. Oke, aku tau, anak Arsitektur sibuknya luar biasa sekarang ini. tugas kamu gila-gilaan. Sampai makanpun kamu sepertinya lupa. Tapi toh, bukan berarti kamu juga jadi lantas gilakan?”

Keningku berkerut. Kupandangi terus Deni.

Deni mengangkat bahunya, “Ada yang salah dengan kamu, Fik?”

Aku masih terdiam, terpaku menatap Deni. Ia takmungkin main-main kelihatannya.

Deni menggaruk-garuk kepalanya yang sepertinya takgatal. “Yah, gitu aja deh Fik. Nanti sebelum maghrib aku jemput kamu. Inget jangan kemana-mana. Afwan nih, kuliah menunggu. Yo, assalamuallaikum…”

Aku menjawab lirih. Kemudian terdiam lagi. Mulutku masih ternganga. Apa pula ini? Angin makin meliuk-liuk, namun tidak terasa indah bagiku. Di depan Gedung Dekanat, Indra berlari-lari kecil. Ia tampak berat dengan beban tasnya yang begitu besar. Sudah hampir dua minggu ini aku takbertemu dengan anak itu. kesibukan asitensi memasungku, dan juga dia, untuk selalu berkutat di kamar. Aku melangkah perlahan. Indra mengikutiku.

“Fik…” Indra berujar, sementara aku masih sibuk mencerna perkataan Deni tadi, “Sekali lagi, makasih berat. Tau deh, kalau kamu takmembantuku, tadi malam, aku takbakalan bisa menyelesaikan tugasku sekarang ini. setidaknya, walau dapat C, toh aku bisa lulus di kuliah Pak Misbah ini…”

Aku menghentikan langkahku, sontak. Belum hilang kekagetanku yang tadi, kini bagai disengat petir di siang hari bolong, mendengar perkataan Indra tadi, aku melonjak, “Apa? A.. A.. aku Ndra? Membantu… ka.. kamu?”

Indra tersenyum, “Yah, kamu boleh menyebutnya apa saja deh. Tapi bagiku, it means a lot. Maaf Fik, ke perpustakaan nih.”

Indra bergegas berbelok ke Gedung Biru.

Dan aku? Di gerbang ITB yang megah, aku kembali terdiam. Patung gajah di belakangku masih kelihatan duduk dengan kokoh. Matahari pagi mulai terasa panas menyengat pipi.

***

DENGAN masih tak mengerti aku memasuki ruangan kuliah. Anak-anak Arsitetur sibuk luar biasa hari ini. Antre. GSG ITB tiba-tiba saja terasa begitu sempit. Kulihat Pak Misbah Syukur, Dosen Konstruksi Bangunan IV, tengah mengabsen dan memeriksa lembar kertas asitensi dengan menggunakan komputer digital sebesar handphone Nokia di tahun 2000 dulu.

Dengan benda itu, sebelumnya telah diprogram, semua pekerjaan mahasiswa akan terdeteksi dengan mudah ketika ada kesalahan. Kertas-kertas lebar bergulungan silih berganti.konstruksi ulang Gedung Sate saja menghabiskan lima lembar. Belum lagi rute Jalan Braga. Bertumpuk-tumpuk. Kalau aku dosennya, mungkin sudah kabur duluan sebelum memeriksa kertas-kertas itu. pun walau telah dibantu benda kecil yang dulu diciptakan Bill Gates itu.

Hasil kerja kami, para mahasiswa, berminggu-minggu itu, bisa dengan mudahnya melayang begitu saja dalam hitungan detik dengan sebuah tanda silang merah besar. Dengan tanpa pernah merasa berdosa sekali, Pak Misbah takmau ambil pusing mengoreksi kesalahan mahasiswanya.

Roy, teman asal Banyuwangi, kali ini entah jadi korbannya yang keberapa. Kasihan dia. Dengan lesu dia cuma memungut lembaran asitensinya. Wajah nya pucat. Terbayang Roy harus mengulang lagi tahun depan.

Kudengar Pak Misbah berujar, tidak keras namun berkat komputer kecil di sampingnya yang multifungsi, suaranya bisa terdengar bahkan jika mau ke seluruh ITB. Itupun kalau diakses, akan memungkinkan terrelay oleh gelombang radio FM yang mempunyai kapasitas gelombang yang sama. “Kalian itu, sudah tingkat II begini, masih saja melakukan kesalahan ingusan. Yang sepele lagi. jangan sodoran asistensi kalian kepada saya jika Saudara belum yakin benar. Saya tidak mau dipusingkan dan disiksa oleh asitensi seperti milik Saudara Ahmad Royani tadi. Itu berlaku untuk semuanya, atau kalian mengulang tahun depan untuk mata kuliah saya.”

Semua jelas tak berkomentar. Semuanya terdiam sambil terus menggenggam pekerjaannya masing-masing. Roy, yang duduk di sampingku, berujar lirih, “Lagi sial Fik. Aku terburu-buru mengambil garis perspektifnya dari pondasi awal. Padahal gradiennya dari kiri. Yah,m tahun depan deh…”

Aku garuk-garuk kepala yang takgatal. Kasihan Roy, aku tidak berkata-kata lagi. Roy pun diam. Sejuta pikiran mungkin tengah berkecamuk dalam pikirannya.

Tiba-tiba, terdengar bunyi bip berulang kali. Semua merandeg termasuk aku kecuali Roy. Bunyi itu malapetaka. Berarti komputer mendeteksi atau memasukan catatan data yang sama tetapi mengacu pada bad sektor di disket asitensi mahasiswa. Jika ini terjadi, ini jeleknya piranti modern tahun ini, maka semua program yang telah disave kemungkinan bisa tertukar. Jadinya nilai mahasiswa akan serabutan. Tidak jelas siapa yang akan mendapat A atau E. Bisa dipastikan, siallah mahasiswa yang melakukan itu.

Dan itu ternyata aku.

Ketika namaku disebut, aku masih dengan berkerut dan kaget, menghadap. Disket dan lembaran asistensiku masih erat kupegang. Dosen keturunan Arab itu berdiri, rambut ikal bergetar-getar, mungkin menahan amarah yang sangat. Kentara benar dari wajahnya.
Ia membentak ke arahku, “Saudara Taufik, Anda mempermainkan saya? Anda menyia-nyiakan waktu Anda, teman-teman Anda dan saya? Flashdisk dan asistensi Anda telah menghack semua program di komputer saya. Butuh waktu tiga bulan untuk menginstall ulang dan up-graingnya tidak ada di Indonesia.”

Aku tertegun. Apa pula ini. kulihat sekilas semua temanku menahan nafas. Aku kebingungan. Aku masih belum memberikan pekerjaan tiga bulanku pada Pak Misbah. Komputer itu tentu takakan begitu saja menerima data. Ia akurat. Dalam display yang ditampilkan, di flashdisk itu memang meuat semua ID-ku.

Pak Misbah berkata lirih, “Asistensi kita tunda empat bulan. Maaf. Dan untuk Anda, Saudara Taufik, Anda saya skor. Anda mengulang tahun depan.

Aku terhenyak. Merandeg.

***

HARI ini tanggal 20 Desember, selepas Isya, entah mengapa aku resah sekali. Ada sesuatu yang melonjak tak karuan dalam diriku.

Aku merasa sendiri. aku merasa takut. Takut terhadap ‘lelucon-lelucon’ yang dikirimkan oleh bapak itu. Sesimpel itukah kematian? Bagaimana jika semua orang diberitahukan dahulu kematiannya? Aku menelan ludah…

Ya Allah apa yang tengah kualami tiga bulan belakangan ini? Relativitas? Tapi terhadap aku? Aku bukan rasul, bukan wali, bukan orang suci. Sama sekali tidak istimewa. Selama ini takhabis pikir aku. aku memang cukup sering mengisi acara tausiah di Salman, namun tidak untuk hari Kamis malam Jumat itu. Masalah asitensi Indra juga. Adalah mutalk dan harga mati kalau semua anak Arsitektur takakan pernah sempat membantu dalam soal yang satu ini. jangankan untuk embantu, yang punya sendiri pun, masyaAllah puyengnya.

Lagi pula aku sama sekali takkemana-mana hari itu. Berkutat di rumah. Dan masalah komputer Pak Misbah itu. Aku termasuk dari 20 orang mahasiswa yang harus mengulang tahun depan. Yang kasihan adalah teman satu jurusanku. Mereka harus menunggu sedikitnya empat bulan lagi, sebelum boleh mengikutiseminar dan sidang. Asitensi kali ini memang diproyeksikan untuk kebutuhan itu. Seseorangatau entah siapatelah dengan ‘baik hati’ memasukan data dan tugasku. Yang takhabis kumengerti juga, semua fingerprint dalam disket itu memang milikku. Komputer takakan mau membuka akses jika telusur kulit taksesuai dengan data yang dipunyainya.

Bingung dan resah.

Aku mendesah tertahan. 1 2 3 4 5 6 7 8 9? Nomor telepon macam apa pula itu? Aku terdiam, gugup.

Tiba-tiba telepon berdering aku melonjak kaget. Beristighfar.

Aku takkuasa mengangkatnya. Aku hanya memandangnya.

Ia terus berdering. Dan aku cuma memandangnya dengan kucuran keringat yang deras. Sampai kemudian terdengar Ayahku

berteriak,”Fik, angkat tuh telepon. Ngapain saja kamu…?”

Aku menelan ludah. Mengangkatnya. “Halo?”

“Dengan Taufik?”

HHH, suara itu lagi. bapak itu lagi. Aku tak menjawabnya. Malah kemudian menyimpannya lagi.

Telepon berdering lagi. Aku memandangnya. Menarik nafas. Akhirnya setelah menenangkan diri, aku mengangkatnya lagi. “Ya hallo?”

“Assalamualaikum. Taufik?”

Aku mengangguk. Bego sekali. Siapapun yang di ujung kabel sebelah sana tentu saja takakan mengetahuinya.

“Ha ha ha, ya mau mati sebegitunya. Sampe lupa jawab salam…”

Aku menjawab salam. Menelan ludah. Suara itu lagi. “Bapak.. Mala…”

“Sebentar, Fik,” Suara itu menukas, “Kamu tidak mengenal suaraku?”

Aku menggeleng lagi. Dan aku tiba-tiba merasa bego lagi. terdengar suara ‘trek’ di sana. Aku tiba-tiba teringat bahwa di telepon digital sekarang ini ada hardware yang bisa mengubah getaran suara untuk mengubahnya. Aku tercekat.

Kali ini suara itu berujar lagi, “Halo, Fik? Udah kenal nih?”

Aku merandeg? “Jono?”

“He eh.”

“Jono?”

“Iya. Iya. Kenapa? Tegang ye?”

Aku menarik nafas kesal, “Jadi kamu, kamu ya yang selama ini mempermainkan aku?”

Terdengar suara tertawa renyah di sana, “Sorry, sorry, coy! Inikan hari ulang tahun elo! Masa sih elo lupa?”

Aku merandeg lagi. Jono itu teman lama dan deket banget sewaktu di Jakarta. Kami dulu punya band. Sempat bikin rekaman segala.

‘Elo’ ‘Gue’ adalah Setelah pindah ke Bandung aku kemudian ‘hijrah’ jadi aktivis. Jono, entah bagaimana nasibnya. Walau selalu berhubungan lewat telepon, nampaknya ia tidak berubah.

“Met ultah aja deh! Sorry nggak bisangirim apa-apa.”

“Kamu sudah kok. Leluconmu bikin aku jantungan.”

“Ha ha ha katanya anak Rohis, masak segitu aja jadi lantas kamu ketakutan.”

Aku tersenyum mesem. “Terima kasih juga telah menyelesaikan ‘tugas asitensiku’ lewat internet. Hebat kamu. Nggak sia-sia deh kuliah di Informatika. Gimana kabarnya UI? Masih sering hujan di Depok?”

Takada jawaban. Aku berkata, “Halo? Kamu masij di situ, Jon?” Jono paling nggak suka dan akan kamu ngamuk berat jika kupanggil

“No,” untuk panggilan kecilnya. Terlalu ‘ngampung’ katanya.

“Fik..”

“Ya…”

“Gue tidak tahu masalah asitensimu. Gue udah tidak kuliah di UI lagi. dropped-out. Mana bisa gue jadi hacker?”

Aku mengernyit. “Jadi bukan kamu?”

“Bukan.”

Aku terdiam. Setelah itu kami berbincang satu kalimat atau dua. Ia dengan seperti terburu-buru menutup pembicaraan. Fasilitas interlokal yang dihubungkan dengan satelit sekaligus internet sekarang ini memang berbuntut biaya mahal. Aku menarik nafas.

Sendirian. Terpekur. Begitu tipisnyakah keyakina dan keimananku sampai aku bisa terjebak dalam lelucon Jono, dengan begitu telak.

Sangat telak. Aku beristghfar.

Jam berdentang delapan kali. Pukul 20. 00. Bersamaan dengan itu, bel bering. Aku begegas ke depan, membuka pintu. Seketika langkahlu terhenti. Mataku tepaku. Lima meter dariku, satu sosok tinggi menjuntai, tinggi sekali, bergerak ke arahku. Ia begitu cepat. Begitu sigap. Ringan. Kakinya tidak menyentuh tanah. Melayang bersama angin. Sekilas aku melihat mukanya, rata, takbermuka.

Aku merandeg.

Aku menarik nafas. Ia begitu sebat memasukiku. Aku mendesah keras, semuanya seperti tercekat di kerongkongan. Ia memasuki, mengambil sesuatu, dan semuanya terasa berat, sakit, dan gelap. Sakit yang luar biasa menerjang dan menerpa seluruh tubuh. Aku seperti lolos dari tubuhku.

Beberapa detik kemudian, semuanya menjadi begitu jelas. Aku merasa seperti tengah dipanggul, dan melihat satu sosok tubuh yang sangat mirip denganku tergolek di serambi depan rumah. Pintu rumah terbuka. Takada siapa-siapa.

Aku melayang semakin jauh meninggalkan ia. Tubuhku seperti hologram yang tak dibatasi ruangdan waktu. Di belakangku, kulihat sosok tadi begitu sempurna menyerupai cahaya. Tak adapun di mukanya. Kuarasakn ia seperti tersenyum padaku. Ia dengan cepat melewati bintang-bintang, matahari dan bulan, membawaku pergi entah kemana.

Setelahnya cuma dingin, sepi, dan gelap yang kurasa.
sumber: islampos
Like Fanpage kami :

Saturday, January 2, 2016

Post a Comment
close