Filipina Tawarkan 8 Pangkalan Militer pada Amerika, Untuk Apa?


Manila – Filipina telah menawarkan kepada Washington delapan pangkalan militer di mana Amerika bisa membangun fasilitas untuk menyimpan peralatan, arsenal, dan berbagai suplai lainnya di bawah satu kesepakatan keamanan baru. Demikian juru bicara militer Manila mengatakan pada hari Rabu (13/01) di tengah meningkatnya ketegangan dengan Beijing seputar masalah di Laut Cina Selatan.

Tahun lalu, AS dan Filipina telah menandatangani kesepakatan EDCA (Enhanced Defence Cooperation Agreement) yang membolehkan Washington meningkatkan kehadiran militernya di negara bekas koloninya tersebut, termasuk rotasi keluar masuk kapal-kapal dan pesawat baik untuk misi kemanusiaan maupun operasi keamanan maritim.

Filipina, Koloni Abadi AS
Kepada para wartawan, Kolonel Restituto Padilla mengatakan, “Daftar tersebut sudah mulai dipersiapkan beberapa bulan yang lalu saat kami melakukan diskusi awal.” Semuanya meliputi 5 pangkalan udara, 2 pangkalan laut, dan 1 kamp pelatihan di hutan yang telah kami tawarkan kepada Amerika.

“Ini semua masih dalam proses persetujuan dan kami akan melakukan tahap akhir pembicaraan mengenahi tempat-tempat tersebut,” imbuhnya. Tiga di antara pangkalan militer tersebut berada di pulau Luzon sebelah utara Filipina, termasuk pangkalan angkatan udara Clark yang pernah ditempati Amerika di era Marcos, sementara 2 lainnya di pulau sebelah barat, Palawan, dekat Laut Cina Selatan.

Seorang pejabat senior militer menyampaikan kepada Reuters, AS juga menginginkan akses terhadap 3 pelabuhan dan bandara sipil di Luzon, termasuk Teluk Subic yang sebelumnya pernah jadi basis angkatan laut Amerika bersama dengan Clark.

Tahun 2015 lalu, dilaporkan lebih dari 100 kapal perang Amerika berlabuh di Subic, sementara 2 kapal selam siluman bertenaga nuklir AS juga dikabarkan mampir dalam kunjungan mereka selama 2 pekan di awal tahun ini.

Bagi Amerika, Subic sangat penting karena termasuk salah satu pelabuhan yang memiliki lokasi strategis dan aman bagi basis militer. Demikian menurut sumber seorang pejabat militer Filipina yang tidak bersedia disebut namanya karena tidak punya wewenang berbicara ke publik.

Isu Laut Cina Selatan
Menteri Pertahanan Filipina Voltaire Gazmin saat di Washington mengatakan bahwa kerjasama keamanan dengan AS terjalin semakin erat di tengah ketegangan di Laut Cina Selatan. Filipina sempat mengajukan nota protes terhadap Cina atas sejumlah ujicoba penerbangan/pendaratan pesawat oleh Beijing di sebuah pulau buatan di Laut Cina Selatan. Kementerian Luar Negeri Filipina menggambarkan tindakan Cina tersebut sebagai aksi provokasi serta merupakan pelanggaran etika informal yang ada.

Lebih dari 5 Triliun USD nilai perdagangan dikapalkan melalui Laut Cina Selatan setiap tahunnya. Di kawasan ini pula diyakini tersimpan cadangan minyak dan gas dalam jumlah sangat besar di mana Beijing mengklaim hampir seluruh bagian di kawasan tersebut. Selain Cina, sejumlah negara juga melakukan klaim yang sama, di antaranya: Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam.

Pangkalan Militer AS Kepung Asia Tenggara
Kehadiran militer Amerika di Filipina dengan jumlah kekuatan yang semakin besar, di samping untuk mengantisipasi ketegangan terkait klaim wilayah di Laut Cina Selatan yang melibatkan beberapa negara, juga dianggap membawa agenda dan kepentingan lain. Cina daratan sebagai salah satu kekuatan dunia jelas dianggap sebagai ancaman langsung baik secara militer, ekonomi, dan politik bagi kepentingan AS di Asia Tenggara.

Keterlibatan 2 negara besar, Cina dan AS dalam isu tersebut, menunjukkan tidak efektifnya organisasi kerjasama regional ASEAN dalam menangani masalah-masalah yang terjadi dikawasannya sendiri.

Kehadiran basis militer Amerika di Filipina akan semakin melengkapi kehadiran pangkalan Amerika lainnya yang sudah ada di Thailand, Singapura, Australia dan Guam. Ditinjau secara geografis, maka kawasan Asia Tenggara sudah terkepung dengan fasilitas militer Amerika. Hal ini membuat negara-negara seperti Malaysia, Indonesia, dan Brunei harus berhitung kembali ketika harus berhadapan dengan kepentingan AS, termasuk dengan perusahaan-perusahaan swasta pertambangan yang beroperasi di negara-negara tersebut.

Antisipasi Militan Islam
Sejak peristiwa 11/9, terjadi peningkatan aktifitas militer AS dengan digelarnya sejumlah “balikatan” atau latihan gabungan antara militer AS dan Filipina pada tahun 2006, 2008, 2010, dan 2013. Latgab tersebut diselenggarakan di sejumlah tempat termasuk di wilayah selatan Filipina di Zamboanga, yang sedang menghadapi perlawanan kelompok-kelompok jihadis Islam.

Para pejuang Islam sudah berpuluh tahun berjuang untuk mendirikan negara Islam merdeka yang terpisah dari pemerintah Filipina. Meski tidak se-glamour perjuangan saudara-saudara mereka di Timur Tengah dan sejumlah wilayah lainnya, para militan Islam di wilayah selatan tetap dianggap sebagai ancaman serius oleh Manila.

Meskipun bukan merupakan aktor negara yang memiliki instrument-instrument kekuatan primer di bidang politik, ekonomi, dan militer, militan Islam dianggap sebagai suatu ancaman yang bukan hanya berisiko bagi hegemoni Amerika, tetapi juga bagi poros kekuatan dunia lainnya yang selama ini menikmati dominasi ekonomi, politik, dan militer di atas mayoritas negara-negara lemah lainnya. Dicegahnya militan Islam dari kursi kekuasaan negara oleh sistem politik dunia modern di seluruh dunia menunjukkan bahwa ‘ancaman’ mereka dianggap lebih fundamental.

Kebijakan “War On Terror” Amerika sejak 2001 dinilai berperan dalam meng-upgrade level ancaman militan Islam di Filipina ke tingkat yang lebih besar. Bersama dengan kelompok-kelompok jihadis lainnya di luar Filipina, para pejuang Islam dianggap potensial mendestabilisasi kawasan Asia Tenggara.

Penulis dan pengamat masalah-masalah keamanan, Ken Conboy mengkategorikan Asia Tenggara sebagai front kedua perang Amerika melawan “teroris”. Di sinilah pentingnya kebijakan Amerika untuk mendirikan pangkalan militer sebanyak mungkin, selain sebagai alat penekan terhadap negara-negara yang dianggap lemah di kawasan ini, juga untuk menjadikan perang lebih efisien jika suatu saat harus terjadi konfrontasi bersenjata.

sumber: kiblat.net
Like Fanpage kami :

Thursday, January 14, 2016

Post a Comment
close