Kisah Saladin, Musuh no 1 Pasukan Salib



Saladin Ayyubi adalah salah satu pejuang terbesar di dunia. Kelembutan hati, sopan, manusiawi, lincah, brilian dan berani itulah sosok yang dapat menggambarkan dirinya. Pada tanggal 2 Oktober 1187, sekitar 828 tahun yang lalu, Yerusalem dibebaskan sehingga mendorong kembali gelombang Kristen keluar untuk menelan Tanah Suci.

YUSUF bin Ayyub. Beliau lebih dikenal dengan panggilan Salahuddin Ayyubi. Lahir dari orangtua keturunan Kurdi di Tikrit, Irak pada 1137AD. Pada saat kelahirannya, dunia Islam sedang mengalami banyak gejolak konflik.

Banyak Konflik yang tengah berlangsung pada saat itu. Seperti pada abad keenam dari era Islam yang banyak menyaksikan ketidakmampuan pemimpin dari Kekhalifahan Abbasiyah dan kerajaan Seljuk di Timur serta runtuhnya Dinasti Fatimide di bagian Barat. Di negara Crescent—sekarang lebih dikenal sebagai Lebanon, Suriah, Palestina, Yordania dan Irak—penguasa di setiap kota kecil membuat negara merdeka masing-masing dan mencoba memperluas kekuasaannya melalui peperangan antara satu negara dengan negara lainnya. Sehingga hampir semua kota-kota pesisir utama di Timur Mediterania dikuasai oleh penjajah Tentara Salib. Salah satunya Yerussalem (target pengklaiman dari Tentara Salib) yang sudah berada di bawah kekejaman penjajah asing.


Kenaikan jabatannya dari seorang tentara sampai Raja Mesir dan Suriah merupakan hasil dari strategi cerdas yang berhasil ia patahkan. Beliau memegang posisi terpenting di Mesir, yang memungkinkan untuk mengkonsolidasikan kekuasaan dan menggulingkan Fatimiyah. Suriah, pada saat itu dikuasai oleh Zengids; dan ketika penguasa Zengids meninggal, akhirnya kekuasaan di Suriah digantikan oleh penerus yang masih berusia di bawah umur, siapa lagi kalau bukan Salahuddin. Selama masa pemerintahannya, Salahuddin membangun banyak sekolah, rumah sakit, dan lembaga sebagai suatu prestasi intelektual dan sipil. Dia juga bertekad untuk membawa keadilan, perdamaian, dan kemakmuran selama masa kepemimpinannya.

Meskipun mungkin orang akan berharap Salahuddin dibenci bangsa-bangsa Tentara Salib, ia malah menjadi salah satu tokoh Muslim paling terhormat di dunia Islam pada abad pertengahan. Dengan kemurahan hati Salahuddin kepada orang-orang Kristen, ia bisa dihormati. Walaupun ditangan Tentara Salib, Muslim mengalami masa yang kejam. Seperti yang telah dilakukan ketika orang-orang Kristen menyusul Yerusalem selama Perang Salib pertama, mereka melakukan kekejaman massal dan pembunuhan kepada Muslim. Tidak hanya itu mereka juga menciptakan pertumpahan darah, di mana warga Muslim adalah target utama yang paling menonjol. Seperti yang didokumentasikan dalam seri PBS Islam; Empire of Faith.


Ketika Salahuddin merebut kembali Yerusalem, orang-orang Kristen menunggu untuk serangan serupa. Namun, Salahuddin tidak hanya terhindar dari orang Kristen, malah ia memperlakukan mereka dengan hormat. Sehingga membuat mereka melakukannya dengan damai dan harmonis pula. Sebenarnya, inilah salah satu contoh hidup toleran, progresif, dan inklusif. Dengan jalan damai, Salahuddin berhasil menjunjung tinggi prinsip utama Islam, seperti kebebasan beragama dan perlindungan bagi non-Muslim.


Ruangan ini, tersimpan di Quarter Muslim dari kota tua adalah tempat umum Muslim terkenal Salahuddin Ayyubi tinggal ketika ia ingin pengasingan dan melaksanakan sukarela (nafl) ibadah.
Ruangan ini, tersimpan di Quarter Muslim dari kota tua sebagai tempat umum Muslim terkenal Salahuddin Ayyubi yang tinggal ketika ia pengasingan dan melaksanakan ibadah sukarela (nafl).
Tentu bukan hanya itu, perilaku sopan Salahuddin juga ditunjukkan kepada Raja Richard I. Meskipun keduanya sangat berperan dalam peperangan, tetapi Salahuddin menunjukkan sikap saling menghomati.

Ketika Richard jatuh sakit pada pengepungan Acre di tahun 1192, Salahuddin tidak hanya mengirimkan Maimonides—dokter pribadinya—untuk mengobati Richard, tetapi dia juga mengirimkan es dan buah-buahan untuk membantu Richard melawan demam. Bahkan ketika kuda Richard dibunuh selama pertempuran, Saladin mengirimkan dia dua tunggangan segar sehingga ia tidak akan mengalami kerugian. Lalu ketika Raja Inggris berada di kaki menghadap seluruh tentara Muslim, Muslim tanpa menyerang membiarkannya berjalan; tulis Michael Hamilton Morgan di Lost History.

Kebenaran peristiwa ini diperkuat menurut sejarawan Prancis Rene Grousset tentang kesungguhan kemurahan hati, keshalehan, tanpa fanatisme, kesopanan Saladin.


Salahuddin Ayyubi wafat pada tahun 1193 Masehi di usia 56 tahun. Meskipun ia berada di puncak pimpinan kerajaan dari Mesir ke Suriah, ia sendiri memiliki sangat sedikit kekayaan. Pada saat kematiannya, properti dan asetnya termasuk kuda serta uang pun bahkan tidak cukup untuk proses pemakamannya. Dia telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani Islam dan rakyatnya, menghindari kemegahan dan keindahan yang sering mengalihkan perhatian penguasa. Memang, dia adalah lambang pahlawan sejati dan seorang Muslim yang setia. []
Like Fanpage kami :

Friday, January 22, 2016

Post a Comment
close