Mirip di Chechnya: Gagal Lemahkan Oposisi Suriah, Rusia Targetkan Rakyat Sipil



Suriah – Kampanye udara Rusia di Suriah terus menuai kecaman dunia. Rusia mengklaim hanya menargetkan militan ISIS, tetapi kenyataannya warga sipil Suriah juga menjadi korban serangan. Hal tersebut mengingatkan kembali strategi militer Rusia di Chechnya di akhir 1990-an. Rusia mulai menargetkan infrastruktur sipil setelah gagal melemahkan pejuang Chechnya.

Tindakan Rusia saat ini di Suriah yang memberikan dukungan udara untuk pasukan rezim Bashar Assad diharapkan dapat melemahkan oposisi anti-Assad.

Pada tahun kelima dari konflik Suriah, rezim Assad mulai mengalami kesulitan memperoleh tenaga kerja militer. Untuk itu, kmpanye Rusia di sini bermaksud menyeimbangkan kekuatan yang dimiliki rezim.

Sejak 30 September 2015, Rusia berulangkali menegaskan bahwa serangan hanya ditujukan kepada militan ISIS. Namun kenyataannya, pesawat-pesawat tempur Rusia telah berulang kali menyerang daerah sipil dan kelompok-kelompok oposisi moderat yang ada di wilayah tersebut.

Oktober lalu, mayoritas serangan udara Rusia dilakukan di Idlib, Hama, Homs dan Aleppo Suriah. Di pertengahan bulan Oktober hingga November, serangan udara mengarah ke daerah oposisi di selatan Idlib, selatan dan utara Aleppo serta wilayah yang didominasi etnis Turkmen di Bayirbucak, Latakia.

Di bulan Desember, serangan yang dilakukan Rusia masih intensif di wilayah-wilayah tersebut.

Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah (SNHR) mengatakan kepada Anadolu Agency, jumlah korban tewas dari warga sipil Suriah yang disebabkan oleh kampanye udara Rusia sekarang ini hampir mencapai 1.000 jiwa.

November lalu, juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan bahwa, pada periode antara 5 dan 22 Oktober, serangan yang terus menerus dari jet tempur Rusia telah menyebabkan lebih dari 120.000 orang di Aleppo, Hama dan Idlib bermigrasi ke luar daerah.

Meskipun kritikan dan kecaman dari berbagai negara di dunia terus berlangsung, hal itu tidak digubris oleh Rusia. Hal tersebut sudah menjadi kebijakan dalam negeri sebagaimana yang pernah terjadi ketika menghadapi para pejuang di Chechnya.

Tragedi Chechnya Kembali Terulang

Setelah Uni Soviet hancur pada tahun 1991, Chechnya dengan cepat mendeklarasikan kemerdekaan. Rusia menanggapi hal itu dengan mengirimkan pasukan ke Chechnya untuk melawan pejuang Chechnya yang mempertahankan negaranya di tahun 1994-1996.

Konflik berdarah akhirnya berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata setelah pasukan Rusia gagal untuk menghancurkan para pejuang.

Pada tahun 1999, Rusia kembali melakukan invasi Republik Chechnya. Kali ini taktik yang dilakukan adalah menggempur dengan kekuatan udara.

Dari bulan Agustus sampai September di tahun itu, sebanyak 1.700 serangan udara dilakukan oleh Rusia di wilayah Chechnya.

Rusia dilaporkan menggunakan bom cluster selama enam bulan pertempuran, sehingga mengakibatkan ratusan warga sipil Chechnya tewas dan 100.000 orang mengungsi.

Dalam konflik ini, serangan Rusia terhadap infrastruktur sipil Chechnya dimaksudkan untuk memberikan tekanan fisik dan psikologis pada rakyat yang sebagian besar mendukung pejuang.

Selain itu, Rusia juga telah membuat negara itu menjadi sebuah zona perang besar, sehingga para penduduk melarikan diri dan keluar dari negeri tersebut.

Setelah daerah itu dibersihkan dari warga sipil, militer Rusia mampu melaksanakan serangan udara tanpa kendala. Keuntungan besar pun dicapai ketika melawan para pejuang Chechnya.

Sebuah Strategi untuk Mengurangi Dukungan Sipil

Rusia telah berulangkali menargetkan wilayah-wilayah yang dihuni komunitas sipil Suriah. Di antara daftar serangan Rusia sejak Desember lalu adalah sebagai berikut:

Pada 15 Desember 2015, sedikitnya 25 orang tewas dan 30 terluka setelah serangan udara Rusia menargetkan sebuah pompa bensin dan pasar di desa Maarat Al-Naasan di Idlib.

Tanggal 18 Desember 2015, pesawat tempur Rusia menyerang pemukiman penduduk dari wilayah Jisr Al-Sughur provinsi Idlib Suriah dan menewaskan 16 warga dan melukai 20 orang lainnya.

Tanggal 25 Desember 2015, serangan udara Rusia menewaskan sedikitnya enam warga sipil dan melukai delapan orang lainnya di Aleppo

Tanggal 26 Desember 2015, pesawat Rusia menyerang sebuah sekolah di provinsi Idlib sehingga menewaskan sembilan orang dan melukai 11 orang lainnya.

Tanggal 11 Januari 2016, 17 orang tewas dan 25 lainnya cidera ketika pesawat tempur Rusia menyerang sebuah sekolah di Aleppo.

Tanggal 12 Januari 2016, serangan udara Rusia menargetkan masjid di Aleppo dan menewaskan delapan orang. Sementara itu, 37 warga sipil tewas dan 55 lainnya terluka dalam serangan terhadap pemukiman penduduk di Idlib.

Sedangkan pada tanggal 13 Januari 2016, tiga anak-anak tewas dan 25 orang terluka setelah jet-jet tempur Rusia menargetkan sebuah SD di Aleppo. Pada hari yang sama, serangan udara Rusia di Idlib memaksa sekolah lokal tutup selama satu pekan.

Layaknya di Chechnya, serangan Rusia terhadap infrastruktur sipil Suriah -termasuk masjid, sekolah dan rumah sakit- tampaknya ditujukan untuk mengurangi dukungan sipil kepada oposisi anti-Assad. Hal tersebut tentunya memberikan keuntungan tersendiri bagi Rusia akibat hilangnya dukungan rakyat kepada pihak oposisi anti-Assad. Baik itu karena semakin berkurangnya warga akibat kematian oleh serangan, ataupun migrasi besar-besaran karena rakyat sudah tidak tahan lagi merasakan tekanan dan penderitaan.

sumber: panjimas
Like Fanpage kami :

Monday, January 18, 2016

Post a Comment
close