Paradigma Ekonomi Islam, Membantah Teori Kelangkaan




Kelangkaan (Scarcity) Bukanlah Pokok Masalah dari Ekonomi Manusia


Menurut sistem Ekonomi Kapitalisme, masalah yang paling dasar itu adalah, kelangkaan (scarcity). Alasannya, katanya kebutuhan manusia itu tidak terbatas, sedangkan sarana untuk memenuhi kebutuhannya itu terbatas. Dengan kata lain, kesibukan Ekonomi adalah mengatasi masalah kelangkaan ini.

Seandainya kebutuhan manusia itu nggak terbatas, tapi sarana untuk memenuhinya juga nggak terbatas, maka nggak perlu ada Ekonomi-Ekonomian. Termasuk, nggak ada nanti kuliah jurusan Ekonomi dong. Hehehe!

Menurut sistem Ekonomi Islam, ini bukanlah problem yang asasi. Jadi, soal produksi, whathowfor who, bukan prioritas pembahasan Ekonomi Islam.

Produksi Bukan Problem Prioritas Pembahasan Sistem Ekonomi Islam

Produksi Bukan Problem Prioritas Pembahasan Sistem Ekonomi Islam
Kenapa? Bisa dianalogikan bagi Anda yang punya bisnis. Misal, Anda punya Rumah Makan Iga Bakar. Tiba-tiba, selang tabung gasnya rusak. Terus karyawan Anda nelpon Anda, "Pak.." atau "Bu.." gitu katanya, "Selang tabung gas di Dapur rusak nih.. gimana nih.. Kesini dong dateng, perbaiki ayo.."

Hehehe! Ngapain sang owner dateng-dateng ke Kantor buat ngurusin selang tabung gas doang. Kalau pun dateng, biasanya bukan untuk ngurusin masalah kocil gitu. Begitulah analoginya dengan sistem Ekonomi Islam. Allah itu nurunin Islam melalui RasulNya, insya Allah bukan untuk ngurusin "selang tabung gas". Hehehe!

Makanya sekiranya Kapitalisme memandang bahwa masalah utamanya adalah kelangkaan, maka solusinya adalah, yah cuma perlu genjot produksinya saja. Produksi, produksi, dan produksi terus.

Jadi, sejatinya, mohon maaf, untuk urusan produksi itu jangan panggil-panggil Allah. Soalnya, nggak level. Untuk ngatasi masalah produksi, cukup pakai akal manusia saja. Nggak mesti pakai Al-Qur'an dan hadits. Lagi pula coba Anda cari-cari di Al-Qur'an, nggak ada.

Mochi Ice Cream
Contohnya, Anda sebutkan apa bisnis Anda? Misal, ada yang bisnis Mochi. Kebetulan saya lagi kepingin makan es krim mochi nih.. Tolong Anda buatin yaa..

Nah, terus, caranya gimana? Cari aja di Al-Qur'an ayat yang bisa menuntun Anda cara membuat es krim mochi. Hehehe! Adakah? Apakah ada ayat, "Yaa ayyuhalladzi na amanu.. Wahai orang-orang yang beriman.. kalau mau buat mochi itu..." nggak ada itu, hehehe!

So, urusan produksi itu kembalikan ke akal manusia aja. Insya Allah selesai.

Hmm.. barangkali sebagian dari Anda yang protes, "Islam itu kan mengatur semuanya! Termasuk masalah produksi!" Sudahlah, jangan berdebat. Jika memang begitu, tinggal tunjukin saja mana dalilnya. Ntar kalau ketemu, saya sami'na wa atha'na deh..

Namun, justru sejauh yang saya kaji, kalau kita mencari dalil yang menjelaskan persoalan produksi, ternyata ketemu dalil-dalil yang berikut ini...
هُوَ الَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى الْأَرْضِ جَمِيعًا
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di Bumi untuk kamu semuanya..

[QS. Al-Baqarah (2): 29]
وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ
Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. ..

[QS. Al-Jaatsiyah (45): 13]
Nah, begitulah... Terus, apa hubungannya sama produksi? Hehehe, untuk memahami ayat begini, harus dibantu dengan ushul fiqih.

Mari kita pakai qaidah syara' berikut ini.

دليل العام يبقى في عمومه لم يرد دليل التخصيص

Dalil yang umum akan tetap berada pada keumumannya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya.
Coba cek 2 ayat tadi. Penjelasan Allah soal penyerahan Bumi itu semuanya buat manusia, itu bersifat detail atau umum? Udah terinci gitu, atau masih global gitu? Yaps, masih bersifat global, alias umum, alias mujmal.

Pertanyaannya, apakah ada dalil lain yang memerinci dalil umum tersebut? Kalau tidak ada, berarti kita kembalikan pada keumumannya tersebut.

Biar Anda semakin paham, kita coba bahas contoh dalil umum lain. Misal, dalam Al-Qur'an, Allah memerintahkan kita, "aqimus shalah wa atuz zakah.." Dirikanlah sholat, dan tunaikanlah zakat. Nah, kalau sudah begitu, segeralah Anda sholat sekarang. Jangan baca artikel ini lagi. Stop. Benerkah seperti itu? Bisakah sekarang juga Anda sholat? Tidak bisa. Karena, tidak ada rinciannya.

Kalau nggak ada rinciannya, maka yang ditangkap akal manusia adalah, sholat dalam artian bahasa. Secara bahasa, sholat itu kan artinya berdo'a. Kalau begitu, berarti bisa-bisa aja saya nanti pagi-pagi jam 7, duduk-duduk di teras, sambil berdo'a semoga rezeki saya bertambah banyak, orang tua sehat, dan do'a-do'a lainnya, terus Anda tanya, "Kamu lagi ngapain Dan?" Saya jawab, "Lagi sholat." Anda tanya lagi, "Loh sholat kok kayak gitu?" Saya jawab lagi, "Yah memang beginilah, kan perintahNya aqimus shalah aja, berarti bebas do'a apa aja.."

Lalu tiba-tiba Anda berbaring. Saya tanya, "Kamu lagi ngapain?" Anda jawab, "Sholat juga.." Saya tanya lagi, "Loh kok gitu?" Anda jawab, "Yah yang penting kan sholat, terserah saya mau duduk kek, mau berbaring kek, mau tengkurep kek.. Yang penting berdo'a kan?" Hehehe!

Barangkali seperti itulah cara kita memenuhi perintah Allah berupa sholat, kalau nggak ada dalil yang memerincinya. Dalil yang umum akan tetap berada pada keumumannya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya.

Mencuci
Contoh lagi. Misal, temen se-kost-an saya lagi mencuci pakaian-pakaiannya di Kamar Mandiri. Terus saya berpapasan dengannya, saya bilang, "Bro, saya butuh bantuan nih.. Kemana aja Antum dari tadi?" Dia bilang, "Oh, tadi saya barusan membayar zakat.." Saya heran, "Kok gitu?" Dia bilang, "Iya, zakat itu kan artinya mensucikan." Hehehehe! Lanjutnya, "Ini saya lagi bayar zakat, penting nih, wajib nih.."

Hehehe! Nyuci baju kok malah dibilang bayar zakat. Yah terserah dia mau bayar zakat dengan cara gimana, yang penting mensucikan. Kalau, sekiranya nggak ada dalil rincian terkait perintah menunaikan zakat.

Begitulah. Kalau Allah memerintahkan kita dengan dalil umum, tanpa ada rincian, yah kita kembali kepada keumuman tersebut. Jangan sok-sok buat rincian tersebut.

Namun, yaah ternyata dalil perintah sholat dan zakat itu ada dalil rinciannya. Yakni, dari Nabi Muhammad Saw, alias dari sunnah Rasul. Rasulullah memerinci, bahwa yang namanya sholat itu bukan sekadar berdo'a. Sholat itu harus diawali wudhu, dengan niat, takbir, lalu ada perbuatan-perbuatan lainnya, dan diakhiri dengan salam. Kalau nggak gitu, berarti bukan sholat. Begitu pula soal zakat, kan ada caranya, ada nishab-nya, ada haul-nya, jenis-jenisnya, dan rincian lainnya.  Kalau menyimpang dari sunnah Rasul, itu namanya bukan zakat.

Naah, kalau soal dalil penyerahan Bumi pada manusia, ada rinciannya nggak? Ternyata kembali kepada keumumannya. Kita gunakan akal kita, manusia. Bagaimana memanfaatkan Bumi ini, dalam artian produksi?

Bercocok Tanam
Misal, Anda mau menanam padi. Bagaimana cara Anda menanam padi? Terserah Anda saja. Kalau Anda mau nanam padi itu maju, silahkan, terserah. Mau nanam padinya itu mundur, juga silahkan, terserah. Jangan Anda bilang kalau maju itu haram, kalau mundur itu halal, dalilnya mana coba?

Dan jangan dikarang-karang, sementang-mentang rasanya bermanfaat, halal. Sementangkan rasanya nggak enak, haram. Tidak bisa begitu.

Seperti misalnya kan dalam Pertanian itu, ketelitian akan jarak tanam itu kan sangat penting. Jangan ceroboh. Kalau menanam padinya itu rapat banget, nanti mati. Kalau terlalu renggang, boros, nggak efisien.

Jika memang jarak tanam itu masalahnya, coba carilah dalilnya, jarak tanam yang tepat itu berapa? Jangan-jangan nanti malah ketemu dalil kudu merapatkan shaf sholat, "Luruskan dan rapatkan shaf!" terus Anda amalkan itu, yah matilah padinya nanti, hehehe! Nggak ada dalilnya.

Maka ketika Allah sebut isi Bumi itu, berarti bersifat umum.
وَأَنزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنٰفِعُ لِلنَّاسِ
...Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia..

[QS. Al-Hadiid (57): 25]
Lihat tuh, Allah hanya mengatakan bahwa ada kekuatan pada besi itu. Berarti kalau kita kaum muslim pingin jadi hebat, pingin jaya, pingin punya kekuatan yang dahsyat, pingin berkuasa di dunia, berarti kita kudu memanfaatkan besi. Tapi caranya gimana? Nggak ada rinciannya, nggak diajarin sama Allah. Kalau gitu, silahkan gunakan akal.

Dalil lainnya, terkait produksi itu cukup diserahkan akal manusia..
antum a’lamu bi amri dunyakum...

kamu sekalian lebih mengetahui urusan-urusan duniamu...

[HR. Muslim]
Ini juga merupakan salah satu dalil, bahwa urusan produksi cukup diserahkan akal manusia. Sayangnya kadang ada beberapa kaum pengemban sekulerisme yang hobi menyalahgunakan hadits ini. Ntah memang salah paham atau ntah sengaja nyerang.

Kurma
Biar paham bener apa maksud sabda Rasulullah itu gimana, yuk kita lihat saja asbabul wurud-nya.. Gimana dulu ceritanya kenapa hadits ini muncul..

Dulu itu, ada seorang sahabat yang menyerbukkan tanaman kurma. Karena memang di Madinah itu, kalau ada Kurma berbuah, diserbukkan.

Nah, seperti yang kita ketahui, dalam ilmu Pertanian, bunga itu kan ada 3 jenisnya: ada bunga jantan, ada bunga betina, dan ada bunga banci (hermaprodit). Anehnya, dalam "dunia perbungaan" itu yang normal yang bunga banci, hehehe! Yang nggak normal itu, bunga jantan, atau bunga betina. Kalau ada benang sarinya, berarti jantan. Kalau ada putiknya, berarti betina. Jadi satu, namanya banci (hermaprodit).

Kebetulan kurma itu termasuk yang tidak normal. Ada yang jantan saja, ada yang betina saja. Makanya tradisi di Arab waktu itu, bunga-bunga yang jantan itu dipotong, terus diserbuk-serbukkan ke bunga betina.

Ketika itu, Rasulullah Saw lewat, ngelihat ada sahabat yang lagi nongkrong di dekat kurma, terus Rasulullah nanya, "Kamu lagi ngapain?" Jawabnya, "Saya sedang menyerbukkan kurma." Kemudian Rasulullah ngasih nasehat, "Ooh nggak usah diserbukkan. Biarin aja, ntar berbuah sendiri.." Waah, ingat tuh yaa, yang ngomong itu Rasul. Sakti berarti, hehehe! Akhirnya bener si sang sahabat tadi nurut apa kata Rasulullah. Seluruh kebunnya nggak ada yang diserbukinnya.

Besok-besok, tibalah musim buah di Madinah. Ternyata, semua Kebun kurma di Madinah berbuah, kecuali kebunnya si sang sahabat tadi. Hehehe! Heranlah dia, "Haduh gimana ini.. Padahal saya sudah melaksanakan nasehat Rasul.."

Akhirnya ia datangin Rasulullah, "Ya Rasulullah, kenapa ini kok Kebun kurma saya nggak ada yang berbuah.. kan saya sudah ikuti nasehat Engkau, nggak ada yang saya serbukin.." Terus apa jawab Rasul? Beliau jawab, "antum a’lamu bi amri dunyakum..." gitu. Hehehe! Yah itu, Kamu itu lebih tahu tentang urusan dunia Kamu. Yakni, urusan produksi.

Bagaimana cara memproduksi kurma sebaik-baiknya? Cukup serahkan pada akal manusia. Nggak usah buka Al-Qur'an dan hadits. Nggak akan ada. Sebab, Al-Qur'an dan hadits itu bukan untuk ngurusin masalah seperti itu. Kalau coba ngikut ngurusin masalah seperti itu, nggak kebayang dah nanti kitabnya setebal apa..

Nggak mungkinlah, masak nanti ada kitab Pertanian sendiri, ada kita Pertambangan sendiri, ada kita Kedokteran sendiri.. Nanya caranya bangun Rumah gimana, buka Kitab Arsitektur gitu.. Masak semuanya mau diperinci, kasihan dong Nabinya, hehehe!

kitab-fathul-baari

Bukti lainnya, ada diriwayatkan pula bahwa Rasulullah SAW mengutus dua orang sahabat pergi ke negeri Yaman untuk mempelajari pembuatan senjata. Yaman pada waktu itu masih kafir. Tapi kok Rasul mengutus sahabat ke sana? Yah itu, biar bisa memproduksi senjata. Bukan belajar tsaqafah.

Sekadar intermezo, sialnya nggak sedikit kan sekarang orang-orang itu ke Barat malah belajar tsaqafah asing. Harus diniatkan betul dulu, ke luar negeri itu buat belajar teknologi. Jangan malah belajar tsaqafah sosial, ntar jadi tambah sial, hehehe!

Baiklah, clear ya? Terkait pandangan sistem Ekonomi Islam, masalah produksi itu bukan masalah asasi. Masalah produksi itu masalah yang mudah. Garis bawahi, masalah produksi itu masalah yang mudah.

Terus, kalau gitu problem asasinya apa? Menurut sistem ekonomi Islam, masalah asasinya adalah... bersambung...

Oleh : Dani Siregar
Like Fanpage kami :

Monday, January 11, 2016

Post a Comment
close