PBB Didesak Buka Pengepungan di Madaya Suriah, Penduduk Makan Serangga untuk Bertahan

Aktivis Suriah meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turun langsung untuk membantu warga Desa Madaya yang terkepung, dimana mereka mengatakan lusinan orang telah meninggal karena kelaparan.

Kelompok oposisi di Suriah meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil tindakan atas terbunuhnya 26 warga sipil dalam serangan udara dan penembakan di Douma, Damaskus.

Madaya, sebuah kota berpenduduk 40.000 orang di bagian barat laut Suriah, telah terkepung selama lebih dari enam bulan, dan penduduknya terpaksa memakan dedaunan dan serangga untuk bertahan hidup.

Aktivis setempat mengatakan bahwa kota tersebut dikelilingi oleh lahan ranjau, dan penembak jitu musuh yang akan menembak siapapun yang mencoba untuk mencari makanan.

Koalisi Nasional Suriah mengatakan Madaya sedang menghadapi sebuah “bencana kemanusiaan” demikian dikutip laman middleeasteye.net hari Kamis (07/12/2016).

Di dalam sebuah surat yang dikirimkan ke PBB dan Liga Arab, koalisi tersebut mendesak dilaksanakannya Resolusi Dewan Keamanan PBB 2139, yang diloloskan pada Februari 2014 yang isinya memastikan semua pihak di dalam konflik diperbolehkan meminta pengiriman bantuan kemanusiaan.

Prancis juga bersuara keras menolak pengepungan, menyebut itu “tidak dapat dipertahankan dan tidak dapat diterima”.

“Prancis mengutuk keras pengepungan terhadap kota Madaya yang dilakukan rezim Suriah,” jurubicara Kementerian Luar Negeri Roman Nadal mengatakan dalam briefing press di Paris pada Rabu petang.

Kementrian Luar Negeri Prancis meminta agar pengepungan segera diakhiri sesuai hukum internasional.

Para aktivis telah mengeluarkan sebuah petisi online mendesak Sekjen PBB Ban Ki-moon segera turun langsung untuk menengahi kesepakatan antara PBB, Iran, dan Turki akhir September lalu untuk membebaskan wilayah yang terkepung.

Sebagai respon meningkatnya tekanan internasional untuk mengirim bantuan kesehatan ke Madaya, dokter lokal menuduh PBB sama sekali tidak bertindak.

Amir Burhan, yang menjalankan sebuah rumah sakit lapangan di Zabadani wilayah utara Madaya, mengatakan pada kantor berita Radio Sawt Beirut bahwa seorang pejabat PBB merespon permintaan bantuan yang dilakukan dokter itu dengan mengatakan bahwa seluruh staf PBB sedang berlibur.
Burhan mengatakan bahwa kepala pejabat PBB yang bertanggungjawab untuk urusan lokal merespon email penting berisi permintaan bantuan dengan mengatakan bahwa seluruh staf PBB akan berlibur mulai dari 24 Desember 2015 hingga 5 Januari 2016 dan tidak dapat berbuat apa-apa.

26 Orang Terbunuh

Bombardir yang dilakukan rezim Bashar al Assad menewaskan lebih dari 26 warga sipil dan melukai lusinan lainnya di ibukota Suriah dan di dekat benteng pertahanan oposisi pada Rabu, demikian dilaporkan media nasional dan sebuah kelompok pengawas.

Sejumlah mortar ditembakkan dari Timur Ghouta, wilayah yang dikuasai kelompok oposisi menuju wilayah pemukiman di Damaskus menyebabkan delapan warga sipil tewas dan 23 terluka, kata pejabat kantor berita SANA melaporkan.

Penyerangan terjadi setelah pemerintah menembakkan roket yang menarget Kota Douma wilayah timur Ghouta pada pagi hari, menewaskan enam warga sipil, menurut Syrian Observatory for Human Rights, lembaga monitor bekedudukan di Inggris.

Lembaga monitor itu memberi jumlah yang sedikit berbeda dengan melaporkan bahwa sembilan orang tewas dan 30 luka-luka, beberapa terluka berat, dalam pemboman Damaskus.

Sepuluh warga sipil lain, termasuk seorang anak kecil, terbunuh dalam serangan udara pemerintah atas Kota Hazzeh dan satu orang tewas di Mesraba, sebelah timur ibukota, Observatory mengatakan.

Sebagaimana diketahui, Rezim Bashar al Assad telah mengepung Kota Madaya lebih enam bulan menyebabkan kesengsaraan warga. Mereka dikepung ranjau, sniper dan pesawat. Puluhan warga tewas kelaparan. Banyak warga kesulitan makanan. Anak-anak terpaksa memakan serangga dan daun. Tiap hari yang pingsan tak berbilang. Janin-janin gugur sebab ibunya tak makan berbulan-bulan.

sumber: hidayatullah
Like Fanpage kami :

Sunday, January 10, 2016

Post a Comment
close