Putus-Nyambung Hubungan Saudi-Iran



ARAB Saudi dan Iran sejak awal abad ke-20, dikenal bukan dua negara yang bisa ‘akur’ secara permanen. Meski sudah meresmikan hubungan diplomatik sejak 1929, namun gejolak selalu ada di antara dua negeri yang mayoritas warganya terbagi dua sektarian, Sunni dan Syiah ini.

Pertama kali Saudi dan Iran putus hubungan adalah pada era 1960an, di mana saat itu Iran memberi pengakuan terhadap berdirinya negara Israel. Pada 1966, kedua pemimpin saat itu, Syah Iran – Mohammad Reza Pahlavi dan Raja Faisal, saling mengunjungi.

Pasca-mundurnya pasukan Inggris dari Teluk Persia pada 1968, Saudi dan Iran menandatangani perjanjian demarkasi dan bertanggung jawab atas stabilitas keamanan di Teluk Persia.

Di awa 1970an, persahabatan Syah Iran dan Raja Saudi mulai goyah lagi, lantaran Iran memodernisasi setiap aspek militernya. Perebutan beberapa pulau di Teluk Persia yang mencuatkan konflik dengan Uni Emirat Arab (UEA), juga jadi faktor lain soal adanya tensi dalam pertalian hubungan Saudi-Iran.

Hubungan Saudi-Iran juga digemparkan kritik keras pemerintahan baru Iran pasca-revolusi yang menjatuhkan rezim Syah, terhadap Kerajaan Saudi pada 1979. Semakin derasnya kecaman Iran di bawah pimpinan Ruhullah Musavi Khomeini, memutuskan hubungan diplomatik kedua negara.

Pada Perang Iran-Irak, Saudi memihak Irak yang kala itu berada di bawah pimpinan Saddam Hussein. Bahkan, Saudi diketahui menyokong finansial Irak sebesar USD25 miliar. Dukungan yang sama terhadap Irak juga datang dari beberapa “sekutu” Saudi, macam Kuwait, Bahrain, Qatar dan UEA.

Serangan terhadap Kedutaan Saudi yang terjadi belum lama ini, juga sedianya pernah terjadi pada 1987, pasca-insiden Haji yang menewaskan 400 jamaah Haji, di mana dua per tiga dari korbannya adalah warga Iran. Buntutnya, pada 1988 tak satu pun jamaah Iran bisa mendapatkan visa Haji.

Saat perang Iran-Irak berakhir, hubungan diplomatik Iran dan Saudi berangsur membaik, di mana pada 1991, hubungan kedua negara dipulihkan, pasca-terpilihnya Presiden Iran, Mohammad Khatami. Dua pemimpin kembali saling berkunjunjung, di pada Pangeran Abdullah melawat ke Tehran pada Desember 1997 dan Khatami menyambangi Riyadh, Mei 1999.

Di sisi lain, Saudi dan Iran memainkan peran berbeda dalam Krisis Suriah. Saudi menyokong para pemberontak, sementara Iran berdiri di belakang Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

Tragedi haji lainnya pada 2015, kembali jadi faktor memanasnya hubungan Iran dan Saudi. Terhitung, sekira 464 warga Iran diklaim tewas dan akibatnya, pemerintah Iran mengecam Saudi dan menyebut tidak kompeten dalam mengurus musim Haji.

Terakhir dan terbaru, Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir menyatakan memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, Senin, 4 Januari 2015 kemarin waktu setempat, pasca-diserangnya Kedutaan Saudi di Tehran.

Kedutaan Saudi di Tehran, diserang massa demonstran yang marah akibat eksekusi ulama Syiah, Sheikh Nimr al-Nimr. Massa bahkan melemparkan sejumlah bom bakar ke gedung kedutaan.

Tapi para diplomat Saudi bisa dievakuasi dengan selamat. Setelah mengetahui kabar para diplomat Saudi selamat, Al-Jubeir segera menggelar konferensi pers, untuk memutus hubungan diplomatik dan hubungan dagang dengan Iran.

sumber: okezone.com
Like Fanpage kami :

Thursday, January 7, 2016

Post a Comment
close