Rahasia Dibalik Hubungan Iran-AS dan Reaksi Partai Republik


Washington – Akhir-akhir ini dunia telah menyaksikan Amerika Serikat, salah satu negara super power mencabut embargo internasional yang sedianya mengisolasi negara Iran. Saat ini, kebanyakan orang berpendapat bahwa mungkin Teheran kini telah menjadi mitra untuk Washington. Namun siapa kira, ada negoisasi terselubung dibalik pembebasan tahanan AS dan negoisasi nuklir.

Sebagian besar kalangan media AS menyadari bahwa terdapat rahasia dibalik pertukaran tawanan yang sudah dibicarakan semenjak 14 bulan lamanya. Namun kebanyakkan dari media tersebut enggan menyiarkan berita ini, dalam rangka menjaga keselamatan para tawanan AS yang ditahan oleh Iran.”Alhaventon Post” misalnya, salah satu surat kabar AS yang sudah menyelidiki isu negoisasi rahasia Iran-AS.

Nasir Husaini wartawan Aljazeera mengaku pejabat senior AS telah menjelaskan kepadanya bahwa ada sebuah keputusan untuk menahan informasi yang bisa membahayakan tahanan AS. Serta mengancam keselamatan mereka. Banyak pengamat memandang, pembebasan tahanan dan ketaatan AS terhadap Iran yang membiarkan berlansung proyek nuklirnya merupakan “prestasi politik”.

Fase Baru

Awal pekan ini, tampak seolah-olah Teheran-Washington membuka fase baru dalam hubungan bilateral kedua negara. Terlepas pertentangan dari Partai Republik dan lobi-lobi AS-pro-Israel yang menyatakan bahwa itu adalah konvergensi / tujuan yang tidak dapat diperhitungkan hasil dan dampak pada masa depan krisis Arab di Suriah dan Yaman. Meskipun hubungan belum bisa dikatakan mencapai tingkat normal atau kembali dibukanya kedutaan kedua negara.

Sangat jelas, sejak pertama kali dirilisnya kabar pertukaran tawanan empat orang Amerika dengan tujuh warga Iran, Presiden Barack Obama tampak lemah dalam mencapai kesepakatan dengan Iran dalam negoisasi yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan. Jika diukur dari sudut pandang dampak politik, proses pertukaran tahanan serta mencabut blokade terhadap Iran adalah fakta bahwa AS memaksakan dirinya dalam menghadapi ambisi Iran di Washington.

Ini merupakan jalan singkat yang mengabaikan masalah Iran di Amerika Serikat. Lalu mengeser konflik menuju kampanye pemilu sebagai jalan lain membuka Partai Republik dan pendukung Israel mendapatkan kritikan terus-menerus dan berkelanjutan dari pemerintahan Obama sebagaimana kampanye sebelumnya.

Kritikan dari Partai Republik

Sebagaimana faktanya, Partai Republik menentang langkah AS dalam proses pertukaran tawanan. Sebagai upaya untuk memperlihatkan reaksi dan posisi mereka saja. Tapi tanpa berusaha langsung untuk menghadapi pemerintah Presiden Obama. Kandidat Partai Republik Ted Cruz mengatakan bahwa kesepakatan ini merupakan rekayasa yang berbahaya. Orang lain telah dibayar untuk menahan warga Amerika sebagai sandera.

Morco Rubio juga kandidat Partai Republik melihat bahwa kesepakatan ini mencerminkan kelemahan Amerika. Musuh-musuh akan menyadari bahwa mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan menahan warga Amerika.

Namun pengamat memandang pemerintahan Obama dan sikapnya terhadap negara Iran merupakan taktik Presiden AS dalam menempatkan posisi lawanya dari Partai Republik (partai yang akan menguasai Gedung Putih) dalam kodidi sulit dimasa depan. Dimana mereka suatu saat akan membangunkan Iran baru yang menjadi pemain internasional penting dan mengusai pasar komersial yang besar.

sumber: kiblat.net
Like Fanpage kami :

Monday, January 18, 2016

Post a Comment
close