Sejarah Berdirinya Bogor Alias Buitenzorg (Kota tanpa Rasa Risau)



Oleh: Alwi Shahab

Pemandangan indah seperti tertera dalam foto adalah pusat Kota Bogor. Warga Belanda saking kagumnya terhadap Kota Bogor menyebutnya Buitnzorg yang secara harfiah kira-kira berarti 'Kota tanpa Rasa Risau'.

Belanda memang memberikan nama-nama gelar bagi kota tempat yang mereka promosikan untuk menarik kedatangan para wisatawan mancanegara. Seperti Batavia Queen of the East (Ratu dari Timur), Garut Bern of the East (Bern kota di Swiss dari Timur) atau Bandung Parijs van Java (Paris dari Jawa).

Bogor yang jaraknya hanya sekitar 60 km sebelah selatan Batavia menjadi tempat yang diincar warga untuk berwisata di akhir pekan. Dari kejauhan gedung berwarna putih yang letaknya berdekatan dengan Kebun Raya Bogor adalah Hotel Bellevue yang kini sudah tergusur. 

Kemudian, Belanda membangun Hotel Salak yang hingga kini masih kita dapati terletak di depan Kebun Raya. Bogor kini dijuluki 'kota sejuta angkot'.

Sampai 1960-an masih merupakan kota untuk para pensiunan. Dalam foto terlihat Jalan Juanda yang sunyi senyap karena kala itu belum muncul kendaraan bermotor. Di jalan elite inilah pernah tinggal Ibu Hartini, istri Presiden Soekarno. Dari jalan raya inilah, setelah melewati Kebun Raya, kita menuju ke arah puncak.

Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya ketika Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811), membangun 'Jalan Pos', di tengah-tengah medan tanjakan dengan menggunakan gerobak sapi untuk mengangkut baru-batuan dan menghancurkan bukit-bukit.

Seorang penulis Belanda pada 1912 menceritakan tamasya ke Bogor dari Batavia, suatu kebiasaan yang dilakukan warga Belanda dan orang-orang-orang kaya guna berakhir pekan menghadapi kesumpekan Kota Batavia saat musim panas. 

Dari Hotel Bellevue dikaki Gunung Salak kami melihat pemandangan yang paling indah. Selama bergulat dengan berbagai kesibukan di Batavia seolah-olah hilang melihat pemandangan indah dan udara segar yang malam hari cukup menggigilkan.

Gubernur Jenderal Baron van Imhoff pada 1744 ketika mengadakan ekspedisi ke daerah selatan Batavia. Di tengah perjalanan ia terpesona oleh keindahan Kota Bogor. 

Gubernur Jenderal keturunan Jerman ini langsung memerintahkan membangun gedung untuk tempat tinggal para gubernur jenderal yang kini menjadi Istana Bogor. Seperti juga para gubernur jenderal, Presiden Soekarno juga menghabiskan akhir minggunya di Istana Bogor. Istana ini kemudian dirapikan Gubernur Jenderal Daendels.

Para gubernur jenderal ini pergi ke Bogor dengan kereta kuda yang ditarik dua sampai empat ekor kuda. Belanda juga membangun Istana Cipanas di tempat yang lebih tinggi dan kini letaknya di Kabupaten Cianjur. Bung Karno menjelang 17 Agustus selama beberapa hari tinggal di Istana ini membuat pidato yang dia akan ucapkan di hadapan rakyat pada peringatan kemerdekaan.

Bogor, kota yang begitu dibangga-banggakan dan tempat istirahat warga Jakarta, kini merupakan kota yang kemacetannya hampir di seluruh penjuru kota. Bukan hanya macet, polusi udaranya sudah tidak ketolongan lagi. 

Padahal, Kota Hujan ini memiliki Kebun Raya yang amat terkenal di dunia, khususnya di kalangan ahli botani. Di sini bisa ditemui koleksi dari banyak jenis tanaman langka dari berbagai penjuru dunia.

Tidak kurang 10 ribu jenis tanaman di Kebon Raya yang didirikan 1817. Kini Bogor berpenduduk sekitar dua juta. Tiap hari ratusan ribu dari mereka menyerbu Kota Jakarta dengan KRL dan kendaraan bermotor tempat mereka mencari nafkah.
sumber: republika
Like Fanpage kami :

Tuesday, January 12, 2016

Post a Comment
close