Tiga Nasihat Tere Liye tentang Fenomena LGBT



JAKARTA -- Gerakan aktivis lesbian gay biseksual dan transgender (LGBT) ikut mengundang novelis terkemuka Darwis angkat suara. Lelaki yang lebih dikenal dengan nama pena Tere Liye ini memberi petuah untuk para penggemarnya di laman facebook resminya Tere Liye. Berikut tiga nasihat pengarang novel ' NEGERI PARA BEDEBAH'yang terkenal didunia pernovealan saat ini.

Kaum Cetek

Di dunia yang canggih hari ini, jika kalian habis-habisan menjaga anak-anak, keluarga dari serangan homo, lesbi, maka kalian akan disebut homo-phobia. Sementara yang homo, lesbian, termasuk para pendukungnya mendapat lencana: orang paling toleran, berhati mulia, dan the best people yang pernah ada.

Di dunia lebay hari ini, jika kalian berusaha menjalankan ajaran agama, simply hanya menegakkan perintah kitab suci masing-masing (karena jelas, homo, lesbi itu dilarang semua kitab suci agama tauhid), maka kalian terima nasib divonis: pendek pikir, dangkal, kampungan, berpikir mundur, dan semua gelar hina dina lainnya. Sementara yang homo, lesbian, termasuk para fansnya, pencinta mereka, mendapatkan sanjungan: manusia modern, sangat berpikiran maju, berwawasan, orang-orang terhebat yang pernah dilahirkan di muka bumi.

Tapi itu tidak masalah. Dan memang bukan masalah? 

Jangan terpancing berdebat, jangan habiskan waktu berantem. Tetaplah jadi “orang dangkal”, “kampungan”, “cetek”, biarkan saja orang-orang menilai bebas tentang kita di luar sana. Kita memilih terus fokus menjaga anak-anak, keluarga kita dari paham2 ini. Dan terus sebarkan tulisan, agar mereka tahu, masih banyak yang peduli. Masih banyak yang akan terus saling menasehati.

Propaganda yang Kita Bayari

Starbucks, adalah pendukung legalisasi pernikahan sesama jenis. Boss mereka, sama sekali tidak risih, tidak sungkan, di Amerika sana, menyatakan dukungan secara terbuka, bahkan termasuk membantu apasaja yang bisa mereka lakukan agar pernikahan sesama jenis dilegalkan. Kalian tidak tahu fakta ini? Well yeah, karena kalian tutup mata. Sudah lama sekali Starbuck memposisikan membela habis2an pernikahan sesama jenis. Di Amerika sana banyak yang protes keberatan soal betapa berani dan terbukanya Starbucks, seolah tidak peduli lagi dengan konsumennya yang taat beragama, tapi Starbucks santai saja menanggapi keberatan. Toh, toko mereka tetap ramai. Orang-orang tetap nongkrong di Starbucks, untuk memposting di akun media sosialnya: “Saya menolak pernikahan homo, lesbian.”

Ironis sekali.

Amazon, salah-satu contoh berikutnya. Boss Amazon yang termasuk orang terkaya di dunia, menyumbang 30 milyar rupiah lebih saat kampanye legalisasi pernikahan sesama jenis di Washington. Itu tidak sedikit. Kalian mendukung sesuatu? Paling hanya sebatas dukungan saja. Tapi si boss amazon ini bahkan mau menyumbang 30 milyar lebih, demi terwujudnya undang-undang tersebut. Apakah Amazon tidak khawatir pembelinya kabur? Tidak. Pembelinya sambil memesan produk online di website Amazon, secara simultan mengklik like berita tentang penolakan pernikahan homo, lesbian.

Apple, contoh berikutnya. Boss Apple tidak malu-malu mengaku dia gay. Apakah Apple marah? Tidak. Secara institusi mereka asyik-asyik saja. Apakah penjualan Apple turun drastis saat bos-nya bilang dia gay? Juga tidak.

Inilah propaganda yang justeru diongkosi oleh kita semua. Sadarkah kita? Atau bodo amat. Peduli setan. Toh, dunia ini bukan soal moralitas. Ngapain pula saya harus berhenti ke Starbucks, berhenti membeli produk Apple? Saya suka dengan produk mereka, selesai, tidak ada hubungannya dengan soal homo, lesbian. Itu keputusan kalian semua. Dan memang hak semua orang.

Tapi ketahuilah, inilah sungguh, propaganda besar-besaran yang justeru diongkosi oleh kita semua. Termasuk pesohor2, selebritis, artis2, mereka besar karena fansnya pergi ke bioskop, membeli lagu, dsbgnya, dsbgnya. Propaganda yang mereka sebarkan, justeru dibiayai oleh kita semua. Pikirkanlah.

Bicara Biasa Saja

Bicaralah dengan cara biasa-biasa saja, dek.Yang cowok, kalian nggak perlu genit, centil, manja, dsbgnya. Yang cewek, juga sama, pun tidak perlu lebay imut menggemaskan, atau sebaliknya malah niru-niru cowok. Sesuai kodrat masing-masing sajalah.

Yang sudah terlanjur begitu, segera dilatih untuk berubah, didisiplinkan, bukan malah dibiarkan, lantas bilang: "inilah hidupku, aku memang sudah terlahir begini". Itu argumen ngasal, tidak benar, mana ada bayi yang pas lahir langsung alay, melambai. Melainkan dirinya sendiri dan lingkungan sekitar yang membuatnya begitu.

sumber: republika
Like Fanpage kami :

Saturday, January 30, 2016

Post a Comment
close