Antara Sains dan ISLAM, Kepada Budiman Sudjatmiko


Oleh : Ust Titok Priastomo

Sebuah teori dlm sains mrpkn penyimpulan manusia thd data2 empirik di alam yg didapat dgn metode tertentu.

Teori2 dlm sains terus berkembang seiring dengan pertambahan dan perbaikan pengetahuan manusia thd alam. Teori yg sekarang dianggap benar bisa jadi besok menjadi kebenaran yg telah kadaluarsa.

Sementara itu, akidah Islam berangkat dari keyakinan rasional nan final -bukan mitos- ttg fakta bahwa Allah ada, dan bahwa Al Qur'an adalah KalamNya dan bahwa Muhammad saw adalah utusanNya.

Maka jika Al Qur'an dan Muhammad saw terbukti benar secara rasional, adalah hal yg sepenuhnya rasional pula jika kita percaya kepada segala apa yg difirmankan Allah dan ucapan Rasulullah saw.

Dari sinilah kita percaya akan adanya fakta-fakta yg tak terjangkau akal secara langsung -sejauh fakta tersebut diungkap/dikabarkan secara gamblang oleh Allah dan RasulNya. Siapa yg mau mendustakan firman Allah dan sabda Rasulullah saw selain orang ingkar?

Dengan demikian, bagi umat Islam, sains harus distandardisasi oleh akidah Islam. Artinya, Islam tak menentang sains. Sejauh pengamatan dan penyimpulan manusia itu benar, niscaya ia tak akan menabrak hal yg dinyatakan Allah an RasulNya. Namun, teori manusia yg dihasilkan lewat metode ilmiah -yg kebenarannya tidak bisa dimutlakkan itu- hanya bisa diterima sejauh tak bertentangan dengal hal yg qath'i di dlm Islam.

Maka adalah naif jika Akidah Islam yg kebenarannya final justru menjadi pihak yg harus mengalah jika ia bertentangan dengan sebuah teori manusia yg masih kita akui kenisbiannya itu, karena di mana-mana, yg nisbi harus tunduk kepada yg mutlak kebenarannya.

Ini juga yg mnjd sikap kita thd teori yg mengatakan bahwa prilaku menyimpang kaum LGBT ditentukan oleh faktor determinan yg tak dapat dilawan, yakni semacam gen atau yg lainnya. Lagi pula, tak sedikit ilmuan yg membantah teori semacam itu.
Like Fanpage kami :

Wednesday, February 10, 2016

Post a Comment
close