Di Balik Serangan 11/9



Beberapa waktu sebelum Syeikh Nasir Al-Wuhaisy gugur akibat serangan drone AS pada bulan Juni 2015, beliau sempat merekam sebuah catatan eksklusif mengenai serangan pada hari Selasa yang penuh barokah atau yang dikenal sebagai serangan 11 September 2001.

Pernah menjabat sebagai asisten pribadi pemimpin Al-Qaidah Syeikh Usamah Bin Ladin Rahimahullah pada masa sebelum terjadinya operasi pembajakan pesawat tersebut, menjadikan Syeikh Al-Wuhaisy sebagai figur penting yang mengetahui seluk beluk tentang detil rencana tersebut.

Organisasi AQAP (al Qaeda in the Arabian Peninsula) yang pernah dipimpin oleh Syeikh Nasir Al-Wuhaisy sampai beberapa waktu saat beliau menjemput syahid, baru-baru ini mempublikasikan sebuah versi catatan eksklusif di balik serangan spektakuler 11/9.

Transkrip pembicaraan Syeikh Al-Wuhaisy mengenai rencana serangan 11/9 terekam dalam dua edisi jurnal/laporan berkala mujahidin AQAP, yaitu Al Masra. Bagian pertama diposting secara online pada tanggal 31 Januari, sementara edisi kedua diposting pada tanggal 9 Februari yang lalu. Ringkasan berikut ditulis berdasarkan separuh bagian pertama catatan eksklusif tersebut.

Syeikh Al-Wuhaisy memulai dengan menjelaskan alasan rasional Al-Qaidah menyerang Amerika. Sebelum peristiwa 11/9, jalan perjuangan para jihadis belum mendapatkan dukungan secara luas dari masyarakat Muslim, karena tujuan perjuangan Mujahidin belum dipahami dengan benar oleh mereka. Pada saat itu, para jihadis terpecah ke dalam banyak kelompok dan bertempur sendiri-sendiri sebagai reaksi terhadap kejahatan para diktator-tiran penguasa yang mayoritas menindas di negeri-negeri Muslim.

Ketika mujahidin mulai meraih sejumlah keberhasilan, menurut Syeikh Al-Wuhaisy, mereka terkepung oleh para tiran tersebut sampai akhirnya mereka menemukan tempat yang aman untuk berkonsolidasi di Afghanistan. Para masyayikh tokoh senior jihadis itu kemudian mempelajari situasi tersebut dalam sebuah majelis pertemuan di Kabul dan Kandahar, karena mereka ingin memahami alasan mengapa para mujahidin belum juga meraih kemenangan.

Dan Syeikh Usamah Bin Ladin menyimpulkan, bahwa mujahidin harus memerangi musuh yang jelas-jelas kekafirannya daripada musuh yang masih “samar” atau debatable mengenai status kekafirannya di kalangan umat Muslim kebanyakan. Demikian menurut sumber TLWJ. Syeikh Al-Wuhaisy mengelaborasi bahwa yang pertama itu adalah “koalisi salibis-zionis”, dan berikutnya yang kedua adalah para penguasa “murtad” yang memusuhi Islam yang kebanyakan memerintah negeri-negeri kaum Muslim.

Ketika kita memerangi para tiran penguasa “murtad”, kemungkinan tidak akan memperoleh dukungan luas kaum Muslim, sementara tidak ada “dua orang” yang bakal “tidak setuju” mengenai perlunya memerangi “koalisi Yahudi dan Nasrani”. Jika kalian memerangi pemerintahan murtad di negeri kalian, kata Syeikh Al-Wuhaisy, maka semua orang yaitu masyarakat Muslim, gerakan Islam, bahkan para jihadis akan memusuhi kalian karena mereka masing-masing punya prioritas.

Dan perpecahan di barisan internal jihadis hanya akan memperburuk situasi/krisis, bahkan para mujahidin di negeri-negeri mereka sendiri bisa jadi menolak untuk berperang.

Syeikh Al-Wuhaisy lalu mengutip Abu Muhammad Al-Maqdisi, seorang tokoh ideolog jihad pro-Al-Qaidah yang memperingatkan bahwa para mujahidin saat ini belum memiliki “kapasitas/kemampuan” untuk melaksanakan “jihad bersenjata” di negeri-negeri mayoritas Muslim. Sebagai contoh, seandainya Al-Qaidah melancarkan “jihad melawan keluarga kerajaan Saud” maka kemungkinan banyak di antara gerakan-gerakan jihad akan menentang keputusan ini. Demikian juga sesama anggota Al-Qaidah juga akan memprotes bahwa mereka “tidak mampu” mengalahkan pemerintah Saudi. Dan para jihadis itu juga akan komplain, sebetulnya mereka tidak ingin “melakukan pertempuran secara prematur”, atau terjebak ke dalam “situasi yang sulit”.

Atas dasar alasan-alasan inilah, menurut Syeikh Al-Wuhaisy, Bin Ladin memutuskan untuk memerangi musuh yang jelas-jelas kekafirannya, karena masyarakat Muslim pasti akan setuju bahwa AS adalah musuh, dan cara pendekatan seperti itu tidak akan menimbulkan “perselisihan dan kecurigaan di antara kaum Muslimin”. Syeikh Usamah Bin Ladin meyakini bahwa “gerakan Islam” akan berdiri dan berpihak kepada Al-Qaidah dalam memerangi orang-orang kafir.

Penjelasan Syeikh Al-Wuhaisy mengenai latar belakang alasan Syeikh Usamah tersebut mengkonfirmasi bahwa menyerang Amerika Serikat bukan merupakan tujuan akhir Al-Qaidah. Hal itu hanyalah bagian dari taktik, atau merupakan sebuah langkah yang dipercaya Bin Ladin akan menyatukan para mujahidin untuk sebuah tujuan dan misi bersama, juga untuk meraih simpati dan dukungan lebih luas dari masyarakat (Muslim).

Tidak semua jihadis setuju dengan strategi Bin Ladin. Pada bulan Februari 1998, Syeikh Usamah Bin Ladin mendeklarasikan “Front Islam Internasional untuk Jihad Melawan Yahudi & Salibis”. Menurut Syeikh Al-Wuhaisy, mayoritas kelompok-kelompok Islamis-Jihadis setuju dengan inisiatif tersebut, tetapi beberapa di antaranya seperti LIFG (Libyan Islamic Fighting Group) menentangnya. Meski demikian, sejumlah anggota senior LIFG diketahui bergabung dengan Al-Qaidah.

Jamaah Islamiyah Mesir atau Gamaa Islamiya (GI) pada mulanya setuju bergabung dengan proyek jihad tersebut namun akhirnya menolak. Sebagaimana beberapa kelompok di kawasan Arab Maghribi, menurut Syeikh Al-Wuhaisy, sejumlah pemimpin senior JI-Mesir masih punya hubungan dekat dengan Al-Qaidah dan bahkan akhirnya bergabung dengan organisasi itu.

Kata Syeikh Al-Wuhaisy, ada tiga ideolog (ulama) jihadis yang bergabung dengan Syeikh Usamah Bin Ladin dan Dr Aiman adz-Dzawahiri, dan ikut menandatangani fatwa pertama yang dikeluarkan Front tersebut.

Pada bulan Agustus 1998, sebulan setelah Front Islam Internasional itu terbentuk, serangan Al-Qaidah menghantam kantor kedutaan AS di Kenya dan Tanzania. Menurut Syeikh Al-Wuhaisy, Bin Ladin pada saat itu gencar menggelar pertemuan-pertemuan dalam rangka untuk meyakinkan orang sebanyak mungkin bahwa menyerang Amerika adalah tindakan yang benar. Beberapa jihadis ada yang keberatan karena menganggap hal itu akan membuat mereka terperangkap. Namun Syeikh Usamah terus maju, mengkritik mereka yang tidak setuju dengan mengatakan: “Bagaimana mereka mau memerangi ‘para pelayan’ sementara mereka tidak mau memerangi/konfrontasi dengan “tuan” para pelayan tersebut”. Syeikh Al-Wuhaisy mengutip perkataan Bin Ladin bahwa jalan perjuangan Al-Qaidah pada akhirnya akan membawa mereka pada kesimpulan bahwa langkah Al-Qaidah adalah benar.

Inisiatif untuk memerangi tentara Salib terus berkembang setelah pemboman dua kantor kedutaan Amerika di Afrika Timur. Dan jumlah orang-orang yang mendukung operasi itu semakin bertambah secara dramatis. Selama periode ini, Front Islam Internasional melancarkan berbagai operasi militer yang menargetkan pasukan Salib di darat dan di laut, tetapi ide untuk melakukan serangan yang dilancarkan dari udara dengan menggunakan beberapa pesawat terbang belum pernah terbayangkan.

Syeikh Al-Wuhaisy mencoba merunut asal mula munculnya gagasan dan rencana serangan 11/9 ke Syeikh Usamah Bin Ladin dan Khalid Syeikh Mohammed (KSM) yang di kemudian hari diketahui sebagai “penggagas” operasi prestisius tersebut.

Tetapi beliau (Al-Wuhaisy) juga menyinggung nama Dr. Abdullah Azzam sebagai tokoh yang mempopulerkan konsep “syahadah” atau mati syahid di urutan pertama “penggagas” serangan 11/9. Syeikh Abdullah Azzam Rahimahullah terbunuh pada tahun 1989, namun hingga kini masih sangat dihormati sebagai Bapak Jihadis Modern.  Setelah mujahidin berhasil mengalahkan superpower Uni Soviet di Afghanistan, kata Syeikh Al-Wuhaisy, para mujahidin mulai berfikir untuk mengalahkan Amerika. Syeikh Abdullah Azzam berpidato dengan berapi-api tentang kamp militer Barat. Syeikh Abdullah Azzam juga memperkenalkan para jihadis dengan sebuah “taktik baru”. Al-Wuhaisy merekomendasikan orang-orang supaya menyimak “kata-kata terakhir” Dr. Abdullah Azzam yang mengatakan bahwa, ”Allah memberikan hidup kepada saya untuk mengubah kalian menjadi bom.”

Setahun kemudian, pada tanggal 31 Oktober 1999, Usamah Bin Ladin menyaksikan peristiwa ketika co-pilot pesawat maskapai Egypt Air dengan nomor penerbangan 990 “menabrakkan” pesawat komersial tersebut ke samudera Atlantik yang menewaskan lebih dari 200 orang penumpangnya. Menurut Syeikh Al-Wuhaisy, Bin Ladin heran dan berfikir mengapa co-pilot itu tidak menabrakkan pesawat ke gedung saja. Setelah itu, masih menurut Syeikh Al-Wuhaisy, ide dasar serangan 11/9 telah tertanam di dalam benak Syeikh Usamah Bin Ladin.

Realitanya, kasus jatuhnya pesawat Egypt Air mulai terkuak setelah skema rencana mengenai serangan 11/9 bisa terungkap dengan jelas.  Sebagai contoh, Komisi 11/9 menemukan bahwa Khalid Syeikh Mohammed  di awal tahun 1996 telah mempresentasikan proposal operasi serangan termasuk program pelatihan pilot yang akan melakukan misi menabrakkan pesawat tersebut ke gedung-gedung di Amerika.”

Proposal ini kemudian akhirnya menjadi pedoman operasi 11/9. Pada bulan Maret atau April 1999, menurut laporan final Komisi, Bin Ladin “memanggil Khalid Syeikh Mohammed ke Kandahar…memberitahu bahwa Al-Qaidah mendukung proposalnya tersebut”, yang disebut sebagai “operasi pesawat terbang”.

Bahkan, Syeikh Al-Wuhaisy juga menceritakan bagaimana Khalid Syeikh Mohammed dan keponakannya, Ramzi Yousef, pernah merencanakan serangan terhadap beberapa pesawat terbang sekaligus pada pertengahan 1990an. Dalam rencana serangan yang disebut sebagai Bojinka-plot itu, KSM bersama Ramzi Yousef bahkan sudah berimajinasi dan merencanakan untuk meledakkan dua belas (selusin) pesawat udara. Syeikh Al-Wuhaisy mengingat kembali bagaimana Yousef meletakkan bom di dalam sebuah pesawat sebagai bagian dari uji coba. Rencana mereka akhirnya gagal, dan Yousef kemudian tertangkap di Pakistan. Ramzi Yousef dihukum 20 tahun penjara oleh pengadilan Amerika atas perannya dalam “Bojinka-plot” serta kasus pemboman  WTC 1993. Syeikh Al-Wuhaisy berdoa semoga ia segera bebas.

Syeikh Al-Wuhaisy menceritakan sebuah kisah, bahwa jika kisah itu benar, berarti Khalid Syeikh Mohammed sejak lama sudah bermimpi akan menyerang AS ketika ia masih muda. Pada saat Khalid menjadi anggota Ikhwanul Muslimin di Kuwait, beliau pernah menulis sebuah cerita/drama di mana terdapat sebuah karakter atau tokoh cerita yang sedang berfikir bagaimana menjatuhkan sebuah pesawat Amerika. Syeikh Al-Wuhaisy mengaku, beliau dan beberapa ikhwah yang lain pernah mencoba mencari cerita/drama tersebut secara online, namun tidak berhasil menemukannya.

Meski demikian, Syeikh Al-Wuhaisy begitu yakin bahwa Khalid Syeikh Mohammed pernah menulis (naskah) drama tersebut, yang mengindikasikan bahwa Khalid sudah pernah berfikir tentang cara bagaimana menyerang Amerika sejak masih muda.

sumber: kiblat.net
Like Fanpage kami :

Saturday, February 13, 2016

Post a Comment
close