HATI-HATI, 7 Modus Kecurangan Money Changer



Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mengidentifikasi sejumlah praktik kecurangan atau peniuan yang dilakukan petugas Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (Kupva BB) atau money changer non-bank tak berizin kepada wisatawan asing. Hal ini tidak hanya meresahkan para wisatawan asing, namun juga merusak citra pariwisata Bali.

"Praktik-praktik kecurangan ini terjadi di berbagai titik-titik lokasi pariwisata, juga di Bandara Internasional Ngurah Rai," kata Kepala Kantor Perwakilan BI Bali, Dewi Setyowati di Denpasar, Selasa (16/2).

Dewi menjelaskan setidaknya tujuh modus penipuan yang dilakukan oknum petugas di tempat penukaran uang atau money changer. Oleh sebabnya masyarakat perlu memahami modus operandi terkait penipuan tersebut.

1. Modus kecepatan tangan
Setalah yang hasil penukaran valas selesai dihitung, uang tersebut dirapikan petugas untuk diserahkan ke pelanggan. Sayangnya sebelum pelanggan menerima uangnya, petugas dengan kecepatan tangan akan menjatuhkan beberapa lembar uang sehingga jumlah lembar yang diterima pelanggan berkurang.

2. Modus celah meja
Ini hampir sama dengan modus kecepatan tangan dimana uang yang telah dihitung akan diserahkan kepada pelanggan. Sebelum uang itu sampai ke tangan pelanggan, petugas menjatuhkan beberapa lembar ke celah meja.

3. Modus tidak punya uang kecil
Modus ini bisa dicontohkan sebagai berikut. Hasil penukaran valas totalnya Rp 6.515.000, namun jumlah yang diberikan petugas ke pelanggan hanya Rp 6.500.000. Saat pelanggan sadar, petugas biasanya akan mengatakan bahwa dia tidak punya uang pecahan kecil.

4. Modus melompat
Hasil perhitungan penukaran valas misalnya Rp 5.750.000. Petugas hanya menyerahkan kepada pelanggan sebesar Rp 5.075.000. Jika pelanggan sadar, petugas akan mengatakan bahwa dia lupa atau khilaf mengecek ulang.

5. Modus memainkan rate
Valas yang akan ditukar terlebih dahulu diperiksa petugas. Oknum yang bersangkutan kemudian menyatakan bahwa setelah diperiksa ditemukan ada valas yang ditukarkan pelanggan dalam kondisi kurang rapi atau cacat, sehingga nilainya turun beberapa poin dari rate yang ditawarkan.

6. Modus kalkulator
Petugas menggunakan kalkulator berpura-pura mengalkulasi perhitungan valas dengan rate yang telah disepakati. Padahal, petugas langsung menuliskan nominal yang ingin diserahkan kepada pelanggan.

7. Modus komisi
Jumlah uang yang diterima pelanggan berbeda dengan yang tertera pada nota transaksi. Jika pelanggan sadar bahwa uang yang diterimanya kurang, petugas akan menjawab untuk biaya komisi. Jika diawal pelanggan terinformasi tidak ada komisi, maka petugas beralasan untuk pajak.

sumber: republika
Like Fanpage kami :

Tuesday, February 16, 2016

Post a Comment
close