Ketegasan Islam terhadap LGBT





Oleh: Arin RM*
LGBT umum diketahui sebagai akronim dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Istilah LGBT awal mulanya berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1988, namun di Indonesia-negeri mayoritas muslim- istilah ini semakin santer terdengar di berbagai media semenjak adanya Dialog Komunitas LGBT Nasional Indonesia yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, bulan Juni 2013. Dialog tersebut menghadirkan 71 peserta dari 49 lembaga yang mewakili keseluruhan keragaman organisasi LGBT di Indonesia, di samping wakil-wakil pemerintah pusat, lembaga hak asasi nasional, lembaga donor, perguruan tinggi, lembaga non-pemerintah untuk hak asasi manusia, organisasi bantuan hukum dan organisasi masyarakat madani, serta beberapa tokoh agama. Dialog diselenggarakan oleh United Nations Development Programme (UNDP) bersama United States Agency for International Development (USAID) sebagai mitra kerja. Forum dialog tersebut bisa dikatakan sebagai angin segar bagi penyebarluasan LGBT di Indonesia. Hingga tidaklah mengherankan jika Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman mengaku kaget akan banyaknya warga homoseksual di wilayahnya. Menurut Koordinator Komisi Pemerhati Anak dan Remaja (KPAR) Tasikmalaya, Daniar Ridijati, berdasarkan penelitian timnya terdapat peningkatan jumlah warga yang terindikasi suka sesama jenis. Jumlah warga yang terindikasi homoseksual naik hingga 300 orang dari 2013 hingga Desember 2014, sehingga pada tahun 2014 jumlah warga terindikasi suka sesama jenis di Kota Santri tersebut.adalah 1.578. (20/1/2015http://news.metrotvnews.com).
Fenomena yang terjadi di kota Tasikmalaya itu merupakan bagian dari perilaku seks menyimpang yang disebut LGBT. Kejadian di kota Santri ini bisa digunakan sebagai indikator bahwa homoseksual bak wabah yang tak mampu dibendung dan menyebar dengan cepat. Tidak menutup kemungkinan turunan LGBT ini juga turut menyebar di berbagai kota, terutama yang memang sengaja dijadikan sebagai destinasi pariwisata.  Penyebaran ini tentunya akan kian santer jika sampai didukung oleh kalangan artis seperti Anggun C Sasmi, Sherina Munaf, Aming, Lola Amaria (02/07/2015. http://showbiz.liputan6.com). Apalagi, meski belum dibilang sukses, kalangan LGBT berusaha syiar dengan  mengadakan semacam seminar, termasuk di UIN Malang (7/11/2015. http://www.malangtimes.com)

Mewaspadai Pelegalan LGBT di Indonesia
Sebagai negeri dengan jumlah muslim terbanyak di dunia, memang menjadi sebuah ironi tersendiri tatkala LGBT bisa tumbuh dengan pesat. Di satu sisi kebanyakan penduduk Indonesia menjadikan Islam sebagai pedoman menjalankan ibadah ritual sehari-hari, di satu sisi tidak sedikit pula yang menjadikan kebebasan berekspresi ala Barat sebagai landasan menjalankan dan mengisi berbagai kegiatan sehari-hari. Ditambah dengan kebebasan individu yang terus menyelimuti suasana hidup penduduk negeri muslim terbesar ini, maka tidaklah mengherankan jika atas nama HAM dan kebebasan ini tadi, keberadaan perilaku yang terbilang menyimpang ini justru kian diikuti. Sekali lagi, orang-orang LGBT dan para pendukung mereka pun makin gencar beraksi dengan mendapat justifkasi dari ide liberalisme berupa kebebasan berekspresi yang dibangun di atas ideologi sekuler (yang meminimalkan agama dari kehidupan). Juga dilegitimasi oleh ide HAM. Apalagi, belakangan ini santer usaha berbagai pihak agar LGBT ini dianggap sebagai sebuah hal yang biasa, diberi tempat, atau dengan istilah sederhananya dilegalkan.
Sebagaimana yang disebutkan oleh Staf khusus Sekretaris Kabinet Pemerintahan Joko Widodo, Jaleswari Pramodhawardani, di kantor Komnas HAM, Jalan Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat, Senin “LGBT harus lakukan kerja politik. Enggak bisa lagi ujug-ujug datang dengan naskah akademik dan rekomendasi: “Ini masukan kami” Dani, demikian Jaleswarari disapa, berjanji ‘mendekatkan’ kaum LGBT kepada Mensesneg atau seskab. Dia hendak mencabut semua sumbatan komunikasi politik yang selama ini meminggirkan kaum LGBT. (19/1/2015, http://news.metrotvnews.com).  Dari sini Nampak jelas bahwa pelaku LGBT justru diajak berpolitik dan tidak malu untuk menunjukan identitasnya. Bukannya diselesaikan secara menyeluruh hingga tidak ada sama sekali, yang ada malah semakin dikuatkan eksistensinya. Di sinilah perlunya kewaspadaan, demi terselamatkannya generasi masa depan.

Ketegasan Islam Mengatasi LGBT.
Sangat wajar jika negeri berpenduduk muslim terbesar ini memedomani Islam untuk menyelesaikan kasus LGBT. Secara preventif, Islam mewajibkan negara untuk terus membina keimanan dan memupuk ketakwaan rakyat. Hal itu akan menjadi kendali diri dan benteng yang menghalangi muslim terjerumus pada perilaku LGBT. Islam dengan tegas menyatakan bahwa perilaku LGBT merupakan dosa dan kejahatan yang besar di sisi Allah SWT. Kejahatan homoseksual oleh kaum Sodom (dari sini perilaku itu disebut sodomi) kaum nabi Luth, dan Allah membinasakan mereka hingga tak tersisa.
Islam memerintahkan untuk menguatkan identitas diri sebagai laki-laki dan perempuan. Allah menciptakan manusia dengan dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan sebagai pasangan. Secara fisik maupun psikis, laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan yang mendasar sesuai fungsi yang kelak akan diperankannya. Mengingat perbedaan tersebut, Islam telah memberikan tuntunan agar masing-masing fitrah yang telah ada tetap terjaga. Islam menghendaki agar laki-laki memiliki kepribadian maskulin, sementara perempuan memiliki kepribadian feminin. Islam tidak menghendaki wanita menyerupai laki-laki, begitu juga sebaliknya. Pola asuh orang tua dan stimulasi yang diberikan kepada anak harus menjamin hal itu.
Terlebih, Nabi dengan tegas melaknat para pelaku penyimpangan perilaku dan seksual ini. Nabi dengan tegas menyatakan, ”Rasulullah melaknat kaum perem-puan yang menyerupai pria, dan kaum pria yang menyerupai wanita.” (HR. Bukhari, Abu Da-wud, at-Tirmidzi, an-Nasa'i dan Ibn Majah dari Ibn 'Abbas). Tidak hanya itu, Nabi pun melaknat kaum pria yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian pria. Nas ini, menurut Imam Nawawi, menegaskan tentang keharaman tindakan penyim-pangan perilaku tersebut (as-Syaukani, Nailu al-Authar, II/107). Adapun tindakan penyimpangan seksual, seperti Gay dan lesbi, dengan tegas dilaknat oleh Allah, “Allah melaknat siapa saja yang melakukan tindakan kaumnya Luth, sebanyak tiga kali.” (HR Ahmad dari Ibn 'Abbas).
Ketika Islam sudah melakukan pencegahan, namun masih ada yang melakukan penyimpangan perilaku tersebut, maka dengan tegas Islam memerintahkan mereka untuk diusir dari rumah dan negerinya, sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan mengusirnya ke kawasan bernama an-Naqi'.  Sanksi untuk mereka pun sangat keras. Nabi juga dengan tegas memerintahkan agar membunuh pelaku: “Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku (yang menyodomi) dan pasangannya (yang disodomi).” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi). Sanksi ini bukan hanya berlaku untuk pelaku, tetapi orang yang disodomi juga dikenai sanksi yang sama. Kecuali, bagi yang dipaksa untuk disodomi. Ijmak sahabat juga menyatakan bahwa hukuman bagi pelaku homoseksual adalah hukuman mati, meski diantara para sahabat berbeda pendapat tentang cara hukuman mati itu. Hal itu tanpa dibedakan apakah pelaku sudah menikah (muhshan) atau belum pernah menikah (ghayr muhshan).
Selain hukuman yang keras, Islam juga mengharamkan tayangan atau apa saja yang bisa mempromosikan penyimpangan di atas, baik dalam bentuk festival film, kontes dll. Karena semuanya ini bisa mempromosikan dan menyuburkan penyimpangan yang diharamkan Islam. Bahkan kalau ada kedutaan atau atase kebuda-aan negara penjajah, mensponsori kegiatan tersebut, maka bukan hanya wajib dilarang dan dihentikan, tetapi bisa ditutup dan diusir dari negeri kaum Muslim. Ketegasan terhadap penyimpangan perilaku dan seksual ini tidak bisa dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Dengan berlindung di balik HAM, tidak boleh penyimpangan seperti ini dipelihara, karena justru penyimpangan seperti ini merusak kehidupan dan generasi umat manusia, termasuk diri pelakunya sendiri. Dengan semua itu, umat akan bisa diselamatkan dari perilaku LGBT. Kehidupan umat pun akan dipenuhi oleh kesopanan, keluhuran, kehormatan, martabat dan ketenteraman dan kesejahteraan. Dan hal itu hanya bisa terwujud jika syariah Islam diterapkan secara total.

*Penulis:
Arin RM
Aktivis MHTI
Berumah di arinbio04@gmail.com
0822 2772 3457


Silahkan Bagikan Jika Bermanfaat

Tuesday, February 2, 2016

Post a Comment
close