MAHASISWA: STOK GENERASI KEBAL PHK

Ekonomi Indonesia makin sulit!, adalah kalimat yang paling pas untuk mengungkap realita kini. Adapun bagaimana nantinya hal ini ditanggapi dan dijadikan banyak perbincangan, itu soal lain. Yang pasti: ekonomi Indonesia makin sulit!.

Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), hadirnya buruh asing, gonjang-ganjing rupiah, penarikan utang baru dari china, APBN yang makin liberal, sederet isu pemerasan berkedok iuran energi maupun kesehatan (BPJS) menandakan bahwa negeri ini belum terurus dengan baik. Dan imbas yang paling masuk akal adalah bahwa kita kedepan harus tidak cengeng  dan bersegera menghentikan banyak adegan cengengesan. Ada tatapan yang seharusnya telah muncul disetiap benak generasi muda, berupa tatapan fokus dan tajam yang lahir dari kesungguhan dalam mengikhtiyarkan perbaikan masa depan.

Kini, pada saat ekonomi mengalami gonjang ganjing, maka pertanyaan penting adalah terkait merumuskan peran yang ideal untuk menghadapinya. Tempo lalu, beberapa perusahaan besar seperti Panasonic dan Toshiba resmi telah ditutup. Ini mengakibatkan sekitar 2.500 pekerja kena PHK[1]. Pemutusan hubungan kerja ini disusul pula oleh PT Shamoin, PT Starlink, PT Jaba Garmindo, dan PT Ford Indonesia dan sederet idustri otomotif seperti PT Yamaha, PT Astra Honda Motor, PT Hino, PT Astra, PT AWP PT Aishin, PT Mushasi dan PT Sunstar. Tidak berhenti sampai sini, gelombang PHK juga menghantui industri pertambangan dan perminyakan[2]. Dari kondisi yang menegangkan seperti inilah sejatinya langkah kita akan diayunkan menuju masa depan.

Masa depan yang tak nyaman
Potret di atas telah menghubungkan kita pada dimensi dimana terajutnya kesejahteraan dan kenyataan di lapangan dipisah oleh jarak yang sangat lebar. Hal ini menunjukan pada kita bahwa kesejahteraan dalam era kapitalisme saat ini merupakan semboyan yang meragukan. Masa depan seolah menjadi untaian tali ancaman yang ketika setiap utas tali terurai, maka akan muncul tali-tali baru yang semkin mencekik. Penggambaran yang relefan terkait kondisi saat ini sering disebut banyak pakar sebagai the failure era[3].

Masa depan yang terbelenggu oleh kegagalan Negara dalam melindungi rakyat merupakan salah satu penyebab masa depan ter-cap sebagai the failure era. Pasalnya, kegagalan manusia secara kolektif --yang dalam hal ini diperankan oleh Negara—dalam merumuskan kemungkinan yang baik di masa depan terlanjur kalah dengan komprador yang menjalankan kepentingan penjajah. Hal ini terbukti di era saat ini ketika kapitalisme timur (china) mengeluarkan paket kebijakan utang lewat China Development Bank (CDB) membelenggu kita beberapa waktu kedepan. Kebijakan utang inilah yang mensyaratkan masuknya sebanyak mungkin bahan, teknologi, tenaga kerja ahli hingga tenaga kasar dari China. Ya, bahkan hanya untuk mengaduk semen pun kita harus bersaing!.

Membaca akar masalah
Gelombang PHK yang terjadi saat ini tidak lain merupakan dampak dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Hal ini didasarkan pada mental antar Negara untuk saling mengungguli, ditambah lagi dengan lemahnya struktur ekonomi pasar yang dianut.

Secara sederhana ekonomi kapitalis bertumpu pada permintaan (supply) dan penawaran (demand). Mekanisme kerja kapitalisme yang seperti ini dan dampaknya terhadap pemutusan hubungan kerja karyawan terletak ketika permintaan pasar bermasalah atau dalam istilah lain perekonomian global yang lesu, maka penawaran --yang disini dilakukan proses produksi dengan melibatkan banyak pekerja-- akan bermasalah pula. Kondisi pasar global yang naik surut ini salah satunya disebabkan oleh, lembaga perbankan dan keuangan yang merupakan pintu utama arus permodalan ke berbagai sektor perekonomian. Lembaga perbankan dan keuangan saat ini memutar dana untuk alokasi ke sektor non riil. Akibat dari hal ini menyebabkan proses produksi menjadi terhenti dan sekaligus mematikan daya beli perusahaan-perusahaan, khususnya di negara maju, termasuk terhadap barang-barang impor. Pertumbuhan ekonomi pun terus merosot hingga sampai ke titik nol. Perusahaan-perusahaan di negara pengekspor termasuk di Indonesia yang mensupply berbagai kebutuhan ke negara-negara maju –seperti tekstil, produk tekstil, suku cadang, dll—akhirnya menurunkan kapasitas produksnya sekaligus mengurangi/ merumahkan tenaga kerjanya[4]. Inilah penyebab dari PHK. Ya, Kapitalisme!.

Harapan besar pada Islam
Telaah mendalam bagi kita sebagai mahasiswa seharusnya lebih berani menabrak dinding-dinding ilmu ekonomi ruang kelas yang hanya gayeng dengan mekanisme perhitungan kapitalis. Menjadi sangat mendesak bagi kita untuk meninjau apa yang telah digariskan Allah dalam syariat-Nya.

Di dalam Islam yang harus ditekankan adalah bahwa ekspor bukan tujuan dari produksi. Tujuan dari produksi adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat[5]. Prinsip dasar ini sesungguhnya berdampak pada pemenuhan kebutuhan masyarakat yang baik dan tugas negaralah untuk mengatur bagaimana pemerataan itu diciptakan. Disamping hal ini, penggunaan mata uang emas dan perak dan ditiadakannya sektor non riil ribawi (bursa saham dsb) akan menahan gonjang-ganjing nilai mata uang yang selalu tidak stabil. Solusi Islam ini tentu tidak mungkin terterap kecuali dengan munculnya negara baru yang independen dan berpendirian lurus hanya untuk mengamalkan Islam saja, inilah konsekuensi logis dari pentingnya Khilafah untuk menjaga umat, selain merupakan kewajiban kita dalam memenuhi panggilan Allah swt.

Mempersiapkan Stok Generasi Kebal PHK
Rasa-rasanya kerja keras dalam mengurai masalah PHK ini menjadi tidak ada artinya manakala agen penggerak itu tidak ada. Menjadi tidak berartilah syariat Islam manakala pengembannya lebih memilih bersolek untuk terus mempertebal bedak atas dalih memperbaiki kualitas Individu semata. Prestise yang dijadikan taruhan hidup saat ini telah membopong daya pikir dan daya juang mahasiswa untuk buta terhadap hal di luar professionalism mereka. Padahal amat logislah jika kualitas sebuah bangsa di masa depan hanya bisa lahir dari kualitas individu yang mapan secara pribadi tanpa mengabaikan kesadaran kolektif untuk turut tagan dalam merubah peradaban.

Beberapa waktu ke depan adalah ladang kita untuk fokus bekerja dengan penuh kesadaran bahwa segala problematika hidup saat ini adalah tidak terterapnya Islam dalam setiap sendi kehidupan. Stok generasi yang kebal PHK ini hanyalah imbas kecil dari kesadaran membaca masalah dan tajamnya melahirkan solusi. Mempersiapkan generasi kebal PHK ini adalah mempersiapkan generasi yang akan menjadi juru kampanye penegakkan syariat Islam di Indonesia lewat institusi yang bernama Khilafah. []

[1] kompas.com, 3/2/2016
[2] republika.co.id, 31/1/2016
[3] Hermani, Nopriadi. 2014. The Model. IKKJ Publisher. Yogyakarta
[4] Buletin Al Islam Edisi 433, 9 Desember 2008
[5] ibid

Like Fanpage kami :

Tuesday, February 16, 2016

Post a Comment
close