MENEMPATKAN PANCASILA SECARA PROPORSIONAL




Terus terang saya tidak tahu persis apakah Pancasila itu benar-benar disusun berdasarkan ajaran Islam (alqur’an dan hadits) atau hanya berdasarkan nilai-nilai universal atau hanya berdasar nilai-nilai luhur yang digali dari nenek moyang.

Terlepas dari dasar pijakan yang digunakan oleh para penggagasnya, memang secara substansi tidak ada yang bertentangan dengan Islam. Pertama, ketuhanan yang maha esa. Ini sama dengan ajaran Islam, yang meyakini Allahu ahad (Allah itu esa, tunggal dan tidak ada sekutu bagi-Nya). Kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Ini juga sama sekali tidak bertentangan dengan Islam, sebab Islam memang mengajarkan berbuat adil kepada semua manusia dan mengedepankan adab dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Ketiga, persatuan Indonesia. Ini juga tidak bertentangan, sebab memang Islam mengajarkan persatuan kepada umat, bukan hanya di Indonesia tetapi persatuan di seluruh dunia. Keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. In juga tidak bertentangan dengan Islam, sebab Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan memang harus khidmah, artinya pemimpi itu untuk melayani rakyat (khidmah dalam bahasa Arab itu artinya pelayanan), pemimpin itu harus bijaksana dan pemimpin itu harus mengedepankan musyawarah dengan rakyaknya. Kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini juga tidak bertentangan dengan Islam. Meskipun istilah “keadilan sosial” merupakan istilah dari ideologi Sosialisme, tetapi adil dalam kehidupan sosial itu juga bagian dari ajaran Islam. Dalam kehidupan bernegara, menurut Islam, pemerintah harus benar-benar memberikan keadilan kepada seluruh rakyat.
Itulah pancasila dan kajian per pasal menurut Islam. Tidak ada yang bertentangan.

Tetapi, apakah bisa dikatakan bahwa Pancasila itu Islam? Secara jujur, jawabnya sangat beragam. Tetapi yang jelas bahwa Pancasila adalah Pancasila, bukan Islam. Islam adalah Islam, bukan Pancasila. Pancasila itu membenarkan dan mengakui agama-agama lain, bukan hanya Islam. Begitulah realitasnya.
Hal yang lebih penting untuk dijawab oleh Pancasila adalah: Apakah syariah Islam diijinkan diterapkan? Jawabnya: Islam boleh diterapkan, tetapi hanya dalam kehidupan individu, seperti sholat puasa dan lain-lain, tetapi hukum syariah Islam seperti potong tangan, haramnya riba, dan hukum-hukum publik lainnya tidak dapat dan tidak boleh diterapkan. Alasannya, Indonesia bukan negara Islam, tetapi negara Pancasila.

Di sini muncul paradoks: Jika memang Pancasila itu Islamy dan tidak ada satu pun sila yang bertentangan dengan Islam, tetapi mengapa ajaran Islam tidak bisa dan tidak boleh diterapkan? Bahkan, penerapan syariah Islam di Indonesia dikatakan bertentangan dengan Pancasila?

Memang sulit untuk menjawabnya secara konsisten dan obyektif.

Sebenarnya tidak sulit untuk menjawab, jika kita memahami bahwa Pancasila itu sebenarnya hanya set of philosophy (seperangkat gagasan filosofis), bukan sebagai ideologi. Sebagai set of philosophy, Pancasila itu ibarat rumah, sementara isinya tergantung yang menempati (yang menempati itu adalah ideologi. Sebab, ideologi itu memang memiliki perangkat praktis dan teknis untuk mengatur masyarakat).
Mengapa orang-orang mengatakan bahwa syariah Islam itu bertentangan dengan Pancasila? karena ideologi yang dijadikan pijakan oleh para pendukung Pancasila dan orang-orang yang berkuasa saat ini adalah ideologi Kapitalisme. Baik orang-orang itu sadar atau tidak, mereka hakikatnya berideologi Kapitalisme. Pancasila itu hanya tempat bernaung, sementara dalam melihat dan menilai kehidupan, mereka menggunakan ideologi Kapitalisme. Dalam ideologi Kapitalisme, agama memang diakui keberadaannya termasuk Islam, tetapi agama tidak boleh dibawa-bawa dalam urusan kehidupan atau negara. Syariah boleh diterapkan secara individu, tetapi dilarang dibawa-bawa syariah Islam dalam urusan negara. Ini sebetulnya adalah ideologi Kapitalisme.
Nanti certitanya akan lain, saat ideologi orang-orang yang berkuasa adalah Sosialisme. Pancasila akan diisi dengan ideologi Sosialisme.
Dengan demikian, bagi umat Islam, memang umat tidak cukup hanya “memiliki rumah kosong” yang “tak bertentangan” dengan Islam, tetapi rumah tersebut diisi oleh ideologi lain yang bertentangan dengan Islam. Umat Islam harusnya terus berusaha menjadikan Islam sebagai “pengisi” rumah tersebut.
Apa artinya kita memiliki “rumah”, tetapi tidak boleh “mengatur” rumah tersebut. Yang lebih tragis lagi, Islam yang akan membuat “rumah” tadi bersih, megah, dan indah dianggap sebagai “perusak” dan “anasir” asing!
Jadi, Islam adalah ideologi, yang akan mengantarkan rakyat hidup bahagia dan sejahtera serta diridloi Allah swt. Dengan penerapan ideologi Islam, insya Allah cita-cita mulia para tokoh-tokoh kita akan terwujud dalam realitas.
Like Fanpage kami :

Saturday, February 13, 2016

Post a Comment
close