Mengapa Muslim di Indonesia Malas Membaca?



Islam mengajarkan umatnya untuk gemar membaca. Allah SWT dalam surat al-'Alaq menyebutkan dengan tegas perintah membaca bagi kaum Muslim. Penasehat Islamic Book Fair (IBF) 2016 Ustaz Bachtiar Natsir mengatakan, kata 'iqra' pada surat al-Alaq mengandung dua esensi. Pertama, Allah memerintahkan umat Islam untuk membaca dan menalar tanda-tanda atau jejak-jejak-Nya. 

"Jadi membaca untuk mengenal dirinya yang diciptakan oleh Allah SWT. Itu adalah tahap awal keberhasilan membaca," ujar Ustaz Bachtiar saat dihubungi Republika.co.id, belum lama ini.

Perintah membaca juga mengandung pemaknaan untuk menalar dan memahami jejak-jejak Tuhan yang memuliakan manusia dengan ilmu. Dengan membaca, Allah mengaruniakan kepada manusia berbagai macam ilmu yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Dengan ilmu tersebut, Allah memuliakan umat manusia.   

Walau telah tercantum dengan jelas dalam Alquran, sayangnya budaya membaca masyarakat Muslim masih sangat rendah. Data Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (Unesco) tahun 2012 menyebutkan, indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya satu dari seribu penduduk Indonesia yang gemar membaca. Di negara-negara maju, angka ini bisa mencapai 0,45 persen.  

Ustaz Bachtiar mengatakan, jika dirunut, sebelum mengenal dunia elektronik atau dan kegemaran membaca melalui gawai, sebenarnya budaya membacanya masyarakat Indonesia belum selesai (baca: tumbuh). Sebelum kegiatan membaca berkembang menjadi budaya, masyarakat ini telah terlebih dahulu beralih ke televisi, kemudian ke perangkat seluler. 

"Sebetulnya tanpa disadari ini menjadi dasar perkembangan budaya membaca dan menulis di kalangan umat Muslim di indonesia," ujar dia. 

Rendahnya minat membaca dan menulis di kalangan Muslim banyak ditopang dengan banyaknya pencetakan buku di beberapa tahun terakhir. Data IKAPI tahun 2010 menunjukkan, ada sekitar 12.000 judul buku baru yang diterbitkan per tahun. Berdasarkan jenisnya, ada lima kelompok penerbitan buku, antara lain buku agama (17,95 persen), buku perguruan tinggi (13,96 persen), buku anak dan remaja (10,36 persen, buku umum (8,67 persen), dan buku pelajaran (4,45 persen). 

Menurut Ustaz Bachtiar, perkembangan dalam dunia penerbitan  mau tidak mau merangsang masyarakat indonesia untuk lebih giat dalam membaca dan menulis.  Ustaz Bachtiar mengatakan, untuk dapat menumbuhkan budaya gemar membaca dan menulis, perlu ditanamkan pemikiran bahwa membaca merupakan salah satu cara untuk memperoleh ilmu yang menjadi dasar untuk mencapai kemuliaan. Selanjutnya, ilmu itu diikat dengan cara menuliskannya. [republika]
Like Fanpage kami :

Sunday, February 21, 2016

Post a Comment
close