Stop Pelecehan simbol Islam!


Indonesia disebut sebagai negara muslim terbesar didunia, namun mengapa akhir-akhir ini sering dijumpai bentuk-bentuk pelecehan simbol-simbol islam. Mengapa umat islam menistakan simbol agamanya sendiri. Kita masih ingat bagaimana para penari Bali belenggak-lenggok menari diatas karpet solat dalam sebuah acara yang diselenggarkan oleh Kemenang RI di Jakarta. 

Beberapa pelecehan simbol islam yang lain diantaranya, ditemukanya Loyang kue berbahan plat besi bekas cetakan  ayat-ayat Al Quran di Depok Jawa Barat, tulisan yang tercetak di loyang kue dapat terlihat dengan jelas, tetapi dalam posisi yang terbalik. Terompet dari sampul Al Quran di kendal Jawa Tengah pada perayaan tahun baru lalu.  Perayaan Natal Bersama dengan diiringi azan di NTT. Renda Salib di Mukena. Kerudung bergambar porno di kota Padangsidempuan Sumatera Utara, sejumlah warga digegerkan dengan penemuan kerudung bergambar dua wanita telanjang ini. Celana ketat bertuliskan Al Quran surat Al Ihlas. Sandal bertuliskan lafal Allah di Malang. Inna lillahi wa inna ilayhi rajiun.

Dalam sebagian besar kasus penghinaan simbol islam selalu muncul alasan tidak sengaja atau tidak tahu. Kalau dikatakan tidak sengaja, hal ini tentu tidak logis  karena desain motif hiasan sandal, sepatu atau fasyen lainnya perlu proses panjang dan persetujuan untuk sampai ke proses produksi. Jika dikarenakan tidak tahu, sungguh aneh jika masih ada yang tidak tahu tulisan lafal Allah dalam huruf arab atau tulisan Al quran. Semua orang pun paham sajadah tak pantas dijadikan alas menari. Jadi, alasan tidak sengaja atau tidak tahu dalam banyak kasus pelecehan simbol islam, jelas sulit bisa diterima nalar.

Respon yang salah juga ditunjukkan dengan menganggap enteng masalah, menganggap hanya kecelakaan, hanya oknum dan lainnya. Celakanaya, tak jarang kasus yang ada malah digunakan untuk menyebarkan ide-ide menenangkan semisal seruan umat islam harus sabar, umat islam jangan terlalu fanatik, umat islam harus memperluas toleransi dan sebagainya. Penaganan kasus juga tidak pernah tuntas. Tidak ada pula hukuman yang bisa membuat efek jera. 

Sebenarnya suatu penghinaan bisa terjadi karena dua faktor, pertama faktor kebodohan, yakni ketidaktahuan akan perbuatan yang merupakan penghinaan atau ketidaktahuan akan kemuliaan apa yang dihina atau mengejar materi yang tak seberapa dengan mengorbankan kehidupan yang kekal. Kedua faktor kedengkian yang mendominasi akal dan nurani. Akibatnya kemuliaan yang sudah tampak jelas akan terlihat sebagai kehinaan, kebenaran akan terlihat sebagai kejahatan. Tapi kedua faktor tersebut tidak akan muncul jika tidak ditopang oleh negara sekuler. Sekulerisme ialah akidah yang memisahkan urusan agama dengan kehidupan mewujudkan adanya kebebasan, akibat kebebasan ini makin suburlah berbagai penghinaan terhadap islam.

Akibat penerapan sekulerisme, bisa kita saksikan pertama, berkembangnya kebodohan dan atau pengabaian manusia akan agama, tidak tahu hak-hak Allah tidak tahu hak-hak manusia yang lainnya. Negara menganggap urusan keberislaman sebagai urusan individu, mau belajar tidak dilarang, mau tidak belajar juga tidak masalah. Mau solat atau tidak juga tidak dipermasalahkan. Kedua, tumbuh suburnya paham-paham dan perilaku nyeleneh dengan mengatasnamakan toleransi, pluralisme maupun islam nusantara. Demi toleransi azan mengiringi natal, tarian dilakukan di atas sajadah, untuk menunjukkan islam menyatu dengan budaya nusantara. Ketiga, menjadikan umat yang mulia ini terlihat hina hingga akhirnya benar-benar jadi sasaran penghinaan. Penghinaan ini bukan hanya terhadap umatnya, namun juga islamnya. Ide sekulerisme yang dianut negara telah menggusur sebagian besar hukum syariah islam. Padahal syariat Allah inilah rahasia kemuliaan umat islam, bahkan rahasia kebaikan umat manusia, muslim maupun non muslim.  Keempat, tidak ada hukum yang tegas yang membuat jera pelaku penghinaan. Penghinaan ibarat virus penyakit jika tidak diobati atau obatnya tidak mujarab maka virus tersebut akan berkembang.

Penghinaan terhadap islam, Allah SWT atau Rasul-Nya  bisa dijadikan pelakunya tergolong murtad (keluar dari Islam). Imam Ath thobrani menceritakan bahwa ketika Rasulullah pergi ke tabuk, beliau lewat di depan sekelompok orang munafik, mereka berkata dengan sesama mereka, “lelaki ini (Nabi Muhammad) ingin menaklukan Istana Syam dan benteng-bentengnya, mustahil, mustahil”. Kemudian Allah SWT memperlihatkan hal tersebut kepada Nabi-Nya. Nabi saw lalu mendatangi mereka dan berkata “kalian telah mengatakan demikian demikian dan demikian, bukan?” mereka menjawab, “sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main.” Lalu turunlah QS At Taubah [9] : 65-66.

Persolan penghinaan terhadap simbol islam baru akan tuntas jika akar masalah, yakni sekulerisme dicabut dan dicampakkan dari kehidupan; kemudian ditegakkan sistem yang menjalankan seluruh aturan Allah SWT, yakni sistem khilafah. Khilafah akan menghilangkan masalah penghinaan terhadap islam ini dari hal yang paling mendasar, kebodohan akan agama dan kedengkian. Khilafah akan menjadikan islam sebagai asas pendidikan. Akidah dan syariat islam menjadi menu utama dan utama dalam kurikulum pendidikan. Imam as safarini menyatakan : kewajiban pertaa atas seorang hamba adalah mengenal Tuhan dengan benar.

Pengirim : Ika Marinawati
Ibu Rumah Tangga tinggal di Rancaekek Bandung Jawa Barat
Like Fanpage kami :

Sunday, February 7, 2016

Post a Comment
close